ANDA BERADA DI: Depan

DORONG PETANI MASUKI DUNIA CYBER (MBAH SULUH EDISI 8)

E-mail Cetak PDF

Dunia benar-benar sudah mulai tua, itulah kesimpulanku saat ini. Betapa tidak, selain para ulama menyebutkan telah banyaknya berbagai tanda akan datangnya hari kiamat, juga memang banyak kita rasakan berbagai fenomena alam kita telah berubah dari hari ke hari. Rusaknya lingkungan telah akrap di sekitar kita bahkan sampai hal terkecil sekalipun.

Masih teringat di benakku betapa dulu tanah kita sejuk ketika menempel ditapak kaki. Sumber air terasa sangat mudah kita jumpai. Burung bangau sibuk berburu dengan koloninya. Tapi kini seolah suasana seperti itu tak ada lagi di muka bumi ini. Dalam benakku terus ngomel sendiri sambil ku pacu Win Hijau plat merah milikku. Milik kantorku maksudnya. Setelah aku lewati jalan tepi sawah yang diiringi hutan bambu, sampailah aku disebuah kampung kecil nan asri. Dalam hati, pohon bambu masih banyak ternyata disini, aku berharap sumber air banyak pula dijumpai masyarakat desa ini. Sembari menikmati suasana diperjalanan, gas motorkupun aku kendorkan. Hamparan sawah membentang luas di samping kiri diiringi angin sejuk seolah mampu obati suasana panas di bulan suci ini.

Tiba-tiba terdengarlah suara merdu lagu dari Habib Syech, temanku menyebutnya. Langsung aku tersadar akan nada dering Handphone yang setia menemaniku kemanapun. Lumayan baru sih, tabunganku 3 bulan cukup mengimbangi jalannya perkembangan teknologi saat ini.

Aku hentikan segera motor Win yang memang sudah mulai tua, mengingat pengadaannya sejak jaman Presiden Gus Dur. Diatas Motor aku terima telphon dari teman yang telah menunggu aku dilokasi. Aku lihat dari sisi kananku, terlihatlah sosok tua memperhatikanku di pinggiran lantai jemur yang mulai retak. Terlihat pula abu jerami yang dibakar. Sambil menerima telephon aku melihat Beliau dengan seksama. Mungkinkah aku dikenalnya.

Setelah aku tutup telephon, aku tepikan kendaraanku. Banyak anak kecil bermain disekitar sana memang, tapi aku tak kawatir dengan keamanan disana. Suasana begitu ceria terasa. Aku hampiri sosok tua yang memang masih terlihat sehat dan bugar. Sambil saling melihat, aku sisihkan ranting bambu yang menghalangi langkahku. Tampak didepan mata begitu polos dan sederhana wahai bapakku ini.

Meski dengan topi gaul model lama, masih terlihat cocok dipakai sehari-hari disawah, berlindung dari teriknya mentari yang kian tak terbendung ozon tipis. Mulai kusam memang topi yang melekat pada wajah yang juga sudah mulai tua. Terlihat jelas bagiku betapa rejeki para petani kita membawa berkah tersendiri. Pakaian yang melekat dibadan seolah terlihat sangat awet dan setia melindungi sang pemakai dengan baik. Dipadu wajah tanpa senyum, membuatku terasa ingin berbagi dalam cerita.

Aku sampaikan salam untuknya, “Asslamu’alaikuuum”. Diapun menjawab dengan lirih “Wa’alaikum salam Pak”. Dalam hatiku berkata, ternyata aku juga telah mulai tua. Dipanggilnya aku bapak. Usiaku memang sudah lebih dari 30 tahun. Aku dekati beliau sambil memilih pijakan kaki agar terhindar dari beceknya jalan. Makin jelas didepanku sosok bersahaja dengan kaos hitam lengan panjang. Walau tampak agak kusam, rasanya pas dan nyaman menempel di badan.

Dalam hatiku, cuaca memang tidak begitu terik, bahkan setiap sore masih sering hujan. Itulah yang mendukung perkembangan hama penyakit akhir-akhir ini. Maksudnya, kaos hitam akan menyerap panas, sehingga mungkin kurang pas jika di pakai dalam kondisi terik. Saya tidak tahu pertimbangan lainnya jika itu dilakukan. Rasanya pas jika itu dulunya dipakai oleh anak muda. Terlihat tebalnya kaos seolah itu bukan untuk warga dari Negara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Dengan karet lengan yang telah kendor, rasanya mempermudah gerakan dalam beraktifitas.

Lengan kanan menenteng sprayer rasanya cukup mengalihkan perhatian tubuh untuk sekedar merasakan terik mentari. Meski terlihat gagang sprayer banyak korosi, tapi tali dan selangnya terlihat masih baru. Mungkin karena sudah lama tidak berfungsi, jadi perlu diganti dengan yang baru. Biasanya petani menggantinya ketika hama menjadi kendala serius dilapang.

Entah dengan menjual ternak peliharaan, menggadaikan “rantang”, radio atau mungkin ngutang jika perlu dilakukan. Tetapi betapa sumber rejeki yang halal akan membawa keberkahan. Semua dilakukan dengan harapan agar tanamannya bisa dipanen musim ini. Cukup untuk bekal hidup hingga musim depan sekaligus modal turun tanam. Dalam hati ngomel sendiri.

Lengan kurus lumayan gelap seolah akrap dengan lahan dan terik mentari yang kian panas. Tapi tak ada tanda-tanda kolesterol yang tinggi disana. Kaleng Cat yang beralih fungsi, tak perlu kreatifitas tinggi untuk jadi sarana mengais rejeki tiap hari. Tetapi, disana aku lihat beberapa kaleng racun tertata rapi dalam kaleng plastic bekas Cat. Rasanya hati ini tergetar melihatnya.

Ingin teriak dan memeluk Bapak Petani ku sang penyangga ketahanan pangan Negara. Rasanya malu aku kesana dengan Motor Plat merah. Langsung aku sambar tangannya, aku jabat dengan penuh hormat. Dalam hatiku menangis, apakah memang Allah menjadikan semuai ini, semata-mata kasih sayangNYA. Agar mudah dalam hisab dan mempercepat masuk syurga. Tak hentinya, dalam hatiku berdo’a, semoga Allah senantiasa mengampuni kesalahan hambanya, menerima segala kebaikannya.

Penulis meyakini, betapa semua doa pasti dikabulkan. Namun ada 3 kemungkinan yang akan terjadi, Doa kita langsung di kabulkan, Doa kita ditunda ataukah akan diganti dengan yang lebih baik. Lebih baik untuk dunia dan akherat tentunya. Bisa saja seluruh Petani kita berdoa agar tanamannya terhindar dari hama, tapi Allah ganti lebih baik, dengan terus mendatangkan hama, agar seluruh petani bisa selalu ingat PadaNYA, menggantungkan hidupnya padaNYA da berserah diri padaNYA. Itu akan membawa mereka ke tempat mulia di sisiNYA. Hanya Allah yang tahu akan skenarioNYA.

Dari kejadian ini, penulis merasa informasi pertanian yang ada belum merata bisa dirasakan semua lini masyarakat. Untuk itu, sekaligus menyambut lomba website kali ini, Mbah Suluh akan mengupas tentang Teknologi Informasi.

Tahun ini kali ketiga website dinas pertanian Jombang ikut serta pada laga penndekar IT yang diselenggarakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, meski dua tahun berturut - turut meraih Juara Satu pada laga yang sama. Tapi bagi Disperta Kab. Jombang ajang laga tahun ini memiliki arti yang besar, terlebih sekelompok orang muda penghuni sebuah ruang yang kerap dijuluki ruang UTI (Unit Teknologi Informasi). Kata MASUK SEPULUH BESAR benar - benar memenuhi ruang kecil itu sampai -sampai mbleber (mengalir, red) ke setiap ruang di Disperta, telepon seluler termasuk di media sosial. Ternyata setetes embun itu makin membangkitkan semangat para pendekar muda di ruang UTI makin gigih untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam proses pertarungan.

Kalau boleh gede rumongso sedikit ternyata kota kecil yang hanya berbentuk titik pada atlas Indonesia mampu bertarung di sebuah ajang nasional, dengan berbekal ala kadarnya pada kali pertamanya mampu memberikan hasil yang sangat besar. Meski kalau boleh nambah sedikit geer-nya bagi Disperta Jombang mengolah data bukanlah hal baru, dengan berbekal perangkat lunak EXCEL besutan Microsoft seluruh data disusun dan disimpan rapi untuk memberikan informasi tentang dunia pertanian di kabupaten Jombang.

Opo tho rahasia yang bikin kocokan excel mampu meraih sukses, ternyata selidik punya selidik Ajian Database memiliki titik inti dalam menyelesaikan masalah yang muncul di dunia pertanian jombang, sangar (serem, red) juga yo...! Setelah sekian lama ajian Database itu disimpan rapat -rapat di laptop dan komputer Disperta, dengan sedikit keberanian dan kenekadan Ajian itu ternyata harus ditebar untuk sedikit membantu selesaikan masalah. Ajian itupun dikemas oleh beberapa pendekar muda dalam kemasan berbentuk website. Ternyata website itu membawa pendekar muda itu terbang ke Jakarta naik montor muluk (pesawat terbang, red) untuk diuji oleh para suhu tertinggi dibidang teknologi informasi.

DORONG PETANI MASUKI DUNIA CYBER

Siang itu Mbah Suluh bersemangat genjot sepeda dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di bangunan sebelah balai desa, yang kata banyak orang omah (rumah) itu bisa membawa siapapun yang didalam keliling dunia. Betapa penasarannya Mbah Suluh untuk melihat alat apa yang mampu membawa manusia keliling dunia dalam sekejap. Dibenak Mbah Suluh tumbuh beribu bayangan bentuk alat mulai dari pacul, arit sampai cikar seperti yang keseharian dilihatnya. Tapi Mbah Suluh gak nyucuk (tidak sampai) membayangkan pesawat terbang karena belum pernah lihat apalagi naik montor muluk, paling - paling Mbah Suluh naik sepur kelas ekonomi yang penumpangnya umpel - umpelan (berdesakan).

Begitu sampai, Mbah Suluh belum punya keberanian masuk rumah itu terpaksa Mbah Suluh ndodok (duduk jongkok, red) ndepis di pintu masuk. Gerak -gerik Mbah Suluh ternyata diamati oleh petugas warnet, dengan perlahan sang pemuda petugas warnet mendekati dan menyapa Mbah Suluh dengan rasa hormat.

Petugas Warnet : Lho..... Mbah kenapa harus ndodok di situ, monggo masuk aja..... -- (sambil mendekati dan mempersilahkan Mbah Suluh)

Ternyata Mbah Suluh merespon tawaran dari petugas itu dengan berdiri dan beranjak dari posisinya sambil benahi posisi blangkon yang dikenakannya. Mbah Suluh tetap clingak clinguk mencari apa gerangan yang bisa bawa orang keliling dunia. Begitu duduk di bangku di dekat meja petugas warnet, Mbah Suluh mencoba besuara meski terkesan bergumam saja.

Mbah Suluh : Le... katanya disini bisa bawa orang keliling dunia ? ..... --- (dengan wajah penasaran khas Mbah Suluh dengan penuh kesederhanaan)
Petugas Warnet : Ooooo..... itu tho Mbah, yang bikin Mbah penasaran sampai harus ndepis di pinggir pintu..... -- (sambil mengarah layar komputer ke arah Mbah Suluh) Petugas Warnet : Ini lho mbah yang bisa membawa kita keliling dunia.... -- (ternyata penjelaan petugas itu membuat Mbah Suluh kembali terkejut dan sedikit menampak wajah khas Mbah Suluh yang penuh rasa penasaran ditambah lugu)
Mbah Suluh : Kuwi...... tha yang bisa orang mabur (terbang, red) keliling dunia... -- (sambil geleng - geleng tanda makin tidak mengertinya Mbah Suluh)
Petugas Warnet : hahahaha...... ya tidak perlu mabur tho mbah...... cuma klik disini mbah kita bisa lihat segala berita atau apapun yang ada di belahan bumi...... -- ( sambil bergaya seorang suhu petugas warnet membuka beberapa website berita dan disambut manggut -manggut Mbah Suluh)
Mbah Suluh : Lha kalo cuma seperti apa hebatnya tho.....
Petugas Warnet : GIni lho mbah, internet itu dapat memberikan berita atau sekedar iseng cari apa yang pingin kita tahu sampai berbicara dengan orang di tempat berbeda.......
Mbah Suluh : Weh..... hebat bener yo.... -- ( sambil membenahi posisi duduknya)
Petugas Warnet : Memang apapun yang kita cari mudah ditemukan mbah..... sekarang saya coba mencari pupuk kompos pasti ditemukan.....-- (beberapa detik kemudian muncul beragam tulisan soal pupuk kompas..... disambut dengan manggut - manggut khas Mbah Suluh yang melongo).
Petugas Warnet : bukan hanya itu saja mbah..... -- (dengan cekatan gaya tukang ketik profesional petugas warnet mengetik kata facebook yang kemudian muncul halaman baru dengan beragam tulisan ditambah beberapa gambar) ..... Nah ini lho mbah yang dapat menghubungkan kita dengan orang lain dari belahan dunia lain. Bahkan kita dapat berbincang - bincang layak orang itu berada di depan kita...
Mbah Suluh : Ooo gitu tho........ tapi kalo sudah di internet itu... Opo yo mungkin masalah kita terselesaikan...? -- (tanya Mbah Suluh dengan rasa penasaran tinggi)
Petugas Warnet : Ya tidak juga mbah..... semua itu tergantung kita mampu mencerna informasi dan mencobanya.
Mbah Suluh : Nah kalo informasi itu malah membuat masalah baru..... hayo gimana tho?
Petugas Warnet : Kalo gitu semua itu pasti benar atau salah dan baik atau buruk......gimana kita memilah dan memilih semua informasi yang masuk ke kita...... gitu kan mbah..! --- (Mbah Suluh kembali manggut - manggut)
Mbah Suluh : Nek.... ngono (kalau begitu, red) orang harus memiliki bekal untuk berkeliling dunia lewat internet..... -- (menujuk halaman dari media sosial yang di layar komputer)
Petugas Warnet : Bekal opo tho mbah? -- (kebingungan menyelimuti wajahnya) Kalau dipikir ya bekal uang untuk bayar internetan mbah..!
Mbah Suluh : Nak mas.... bekal yang mbah maksud itu adalah bekal diri. -- (nampak keseriusan di wajah Mbah Suluh)... Bekal yang mampu memilah segala informasi yang masuk dan muncul dari perjalanan keliling dunia melalui Internet itu. Termasuk bekal kearifan dalam menerima semua perubahan dan budaya baru..... ojo melu -melu (jangan ikut -ikutan, red) sesuatu yang berbeda tanpa menilik norma dan budaya milik kita..... gitu lho nak mas...!!!
Petugas Warnet : Trus mbah.....!! -- (makin penasaran yang muncul)
Mbah Suluh : Kadang kita latah melu sesuatu yang belum jelas... Tapi memperoleh informasi itu penting tapi tetap harus melalui proses perenungan dan pemikiran apa dampak yang muncul. Bila perlu kita harus mampu membandingkan dari sisi belahan dunia yang lain -- (kali ini Mbah Suluh nampak begitu cerdas dan bijak dalam memberikan petuah bak seorang begawan turun gunung). Ibarat ada orang mlaku ngalor (jalan ke utara, red) ikut mlaku ngalor, nah itu yang gawat.. Seharusnya Informasi yang masuk harus jadi sesuatu memberikan kita kecerdasan yang mampu memperkaya sikap diri kita....gitu lho
Petugas Warnet : Oooo gitu tho mbah...... -- (belum selesai penasarannya mbah Suluh pamit pulang karena terdengar adzan Dhuhur)

Bersikap bijak dan kearifan lokal menjadi penting dalam memperoleh segala informasi dan perkembangan zaman atau teknologi untuk memberikan pencerahan pada sekeliling kita.

 

Comments  

 
#1 Rosyidah 2013-07-26 13:33
Semanagt Mbah Suluh
 
 
#2 zahir 2014-05-04 10:23
hapus buta internet.....!
 
 
#3 Bambu Souvenir 2017-01-25 05:06
Maju & dorong terus pemanfaatan TIK untuk kemajuan kearifan lokal...

Satu lg.. jaga juga kelestarian hutan bambunya

Salam
 

Add comment

Security code
Refresh