ANDA BERADA DI: Depan

PENGENDALIAN HAMA TERPADU (MBAH SULUH EDISI 4)

E-mail Cetak PDF

Kali ini saya menghadiri pertemuan Sosialisasi Revisi kebijakan sinergisme dari P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) atau HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air)/ Gabungan HIPPA dan Poktan/ Gapoktan di suatu wilayah yang di Plot kegiatan WISM dari dana APBN.  Kebetulan saya diundang sebagai rasumber yang diminta menjelaskan tentang pentingnya kerjasama antara kedua lembaga milik petani tersebut. 

Perkumpulan Petani Pemakai Air merupakan kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang dibentuk oleh petani pemakai air sendiri secara Demokratis,termasuk lembaga lokal pengelola irigasi.  Perkumpulan petani pemakai air untuk Jawa Timur kelembagaan ini disebut HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air). Rasanya kembali menyegarkan penyadaran saya bahwa semua pekerjaan di kantor memang begitu berarti bagi masyarakat tani kita.  Semoga segala kebijakan dalam pembangunan pertanian kita benar-benar bisa berdampak positif bagi masyarakat. 

Dalam acara tersebut hampir seluruh petani yang hadir masih tergolong tua.  Dalam benak saya apakah yang menyebabkan hal ini terjadi?  Minat pemuda kita yang kurang dalam menggeluti dunia pertanian kah?  Pemuda kita sudah menggeluti bidang lain yang lebih menjanjikan kah?  Atau para orang tua yang mau anak-anaknya bertani? Seperti pernyataan sebagain orang yang sempat kami ajak diskusi.

Padahal Negara kita adalah agraris. Pertanian menjadi sumber pergerakan utama perekonomian kita.  Selayaknyalah kita garap dengan lebih intensif pada semua factor yang berpengaruh dalam meningkatkan pembangunan pertanian.  Lagi-lagi SDM Pertanian masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita dalam menjalankan program-program pembangunan pertanian. 

Begitu serius semua peserta mengikuti kegiatan.  Dengan berbagai ekspresi mereka tampilkan mulai mencatat, manggut-manggut, melotot, garuk-garuk, menguap sampai mengantuk.  Begitu lugu dan polos terlihat natural di hadapanku.  Tampak wajah-wajah pejuang pertanian kita yang terus berupaya menyediakan pangan masyarakat dengan ikhlas.  Rasanya apakah yang bisa saya perbuat untuk Saudara sekalian. Pantaslah kiranya jika kita sebut mereka sebagai PETANI (Pelaku Ekonomi Tiang Agung Negara Indonesia)
“Dos Pundi Bapak Ibu, Ngantuk?” sapa saya.  Serempak mereka menjawab “Nggiiih” sambil tertawa. Tak terasa pertanyaan saya menyegarkan suasana acara.

Untuk meriahkan semangat belajar bersama kembali saya selingi tembang Dandang gulo yang dulu saya pelajari waktu duduk di bangku SD. Kebetulan masih ingat dengan jelas di benak saya. Harapan saya bisa saling terbuka dalam diskusi, dan bisa menerima masukan secara obyektif. Gambuh namanya.

Pitutur Bener iku,
Yekti pantes kalamun tiniru,   
Nadyan Metu soko wong sudro papeki
Lamun becik nggone wuruk,
Iku pantes siro anggo.   

Maksudnya,
Nasehat benar itu
Benar-benar pantas untuk di anut
Meskipun keluar dari mulut orang dari kasta sudra/ orang hina
Jika bagus ajarannya
Itu pantas kamu gunakan

Tak lupa saya berusaha menggali permasalahan yang dihadapi oleh petani.  Rata-rata masih banyak petani dihadapkan pada masalah OPT.  Mulai dari Tikus, Wereng, Xanthomonas dan Penggerak batang.  Meskipun sebenarnya intensitas serangan masih tergolong menurun dari tahun-tahun sebelumnya, masalah ini masih menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan bagi petani. 

Untuk itu, Mbah Suluh kali ini akan berusaha mengupas tentang pengendalian OPT secara holistic.  Semoga membawa manfaat.

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Siang itu, Mbah Suluh sudah mulai berkemas dari aktifitas di lahan garapannya yang memang tidak begitu luas.  Hanya sekitar sepertiga hektar.  Dalam hati, Mbah Suluh memang dengan lahan sekian tidak akan bisa melakukan usaha tani dengan efektif dan efisien.  Hanya dengan berkelompoklah petani kita bisa menjalankan usahanya dengan baik. 

Terlihat di gubug sawah, botol air putih yang tergantung di tiang sudah hampir habis. Diambil dan diteguklah sisa air putih yang ada, meski tidak bisa menghapus dahaga, cukup membasahi tenggorokan.  Sambil tertegun di Gubug bersandarkan tiang bambu, Mbah Suluh menatapi padi yang mulai menguning. 

Tak lama Beliau disana, berhentilah penjual Es tebu keliling dan menghampirinya ke Gubung yang memang tidak jauh dari jalan.  Di balik kesederhanaan, Mbah suluh begitu karismatik di hadapan masyarakat.  Itulah yang membuat Penjual Es Tebu kenal beliau dan ingin berbagi pengalaman.

Pejual Es    :    Asalamu’alaikum Mbah…

Mbah Suluh    :    Wa’alaikum salam… Monggo-monggo mas…
(Sambil menata duduknya)

Pejual Es    :    Wah lagi santai Mbah?…. Boleh saya temani?
Saya kok jadi kepengen lihat Mbah duduk santai menikmati pemandangan sawah yang indah..
Kebetulan dagangan saya tinggal sedikit..

Mbah Suluh    :    Wah, Es Tebu to….
Sini tak boronge. Kebetulan sekali kalau masih ada. Air minum saya juga sudah habis.

Pejual Es    :    Wah, kerso ya Mbah…. Sebentar tak ambilkan….
Saya Jamin tanpa pemanis buatan Mbah…
Kita minum sama-sama di sini…
Sambil saya pengen ngobrol sama Mbah Suluh.
(Sambil kembali mengambil Es Tebu dan membawanya dalam wadah plastic).

Mbah Suluh    :    Wah, jadi dapat gratisan ini…
(Wkwkwkwk….. Senyum renyah Mbah Suluh)
Terimakasih.. Ayo minum sama-sama

Pejual Es    :    Silahkan Mbah…
(Sambil duduk disamping Mbah Suluh di gubug)

Mbah Suluh    :    Wah, segernya…. Alhamdulillah….
Tuhan bener-bener tahu ya kebutuhan umatnya. Heheheee…

Pejual Es    :    Iya Mbah…
Mbah, saya di beri tahu tetangga-tetangga Jenengan, kalo tanya pertanian ke Mbah Suluh ya..
Akhirnya saya kesini, umpung sempat.
(Sambil menuang kembali Es temu ke dalam gelas plastic yang dibawanya)

Mbah Suluh    :    Ooo…. Gitu ceritanya…
Ah, saya Cuma senang diskusi saja sama siapa saja. Kebetulan saja yang di geluti pertanian, jadi diskusinya banyak tentang dunia pertanian.

Pejual Es    :    Terimakasih Mbah. Benar-benar rendah hati Mbah ini… hehehee
Begini Mbah, saya dulu petani padi juga Mbah..
Tapi sejak sawah saya di habiskan wereng, saya putus asa dan menggantinya dengan tanaman tebu. Karena lahan saya sempit, saya terkadang sulit memasarkan,
Selain itu saya juga butuh penghasilan harian.
Akhirnya saya jualan es tebu ini Mbah…

Mbah Suluh    :    Ya keputusan bagus itu.. tepat. . cerdik..
Kalau memang bisa menjalani dan menguntungkan kenapa tidak..

Pejual Es    :    Memang Mbah..
Alhamdulilah saya sudah bisa beli sawah lagi sekarang Mbah..
Rencananya saya tanami padi lagi. Sudah cukup rasanya dengan temu sekian untuk menjalankan usaha ini.
Lho ini sampe harta saya jatuh Mbah… Hehehehe….
(Sambil memungut uang receh yang jatuh dari saku kirinya)

Mbah Suluh    :    Uang Sejuta gak ada seratus rupiah gak “jangkep” lho… hehehhee…
Banyak bersyukur…
Begini, Hama wereng..
Sebenarnya tidak begitu rumit kok…
Segala macam hama di lahan sawah pengendaliannya hanya dengan Jejak kaki manusia.

Pejual Es    :    Maksudnya Mbah… (keheranan)

Mbah Suluh    :    Ya sering di amati. Hehehehee…..
Ini sesuai dengan 4 prinsip PHT
1.    Budidaya tanaman sehat
2.    Pengamatan rutin
3.    Pelestarian Musuh Alami
4.    Petani ahli PHT
Pejual Es    :    Lantas Mbah… (Garuk-garuk)

Mbah Suluh    :    Budidaya tanaman sehat maksudnya, dalam budidaya padi harus sehat karena akan menjadikan tanaman sehat pula yang berdampak pada ketahanan tanaman pada serangan OPT.  bisa juga dengan pemilihan varietas yang tahan.
Dengan penambahan pupuk organik, tanah akan subur baik secara fisik yang remah dan terlihat gelap,
Subur secara kimia dimana tanah mengandung unsure yang dibutuhkan tanaman. Ada dan tersedia bagi tanaman.
Serta kesuburan biologis dalam arti tanah mengandung mikroorganisme yang membantu penyerapan unsure oleh tanaman, menyediaan makanan bagi musuh alami hama.
Sehingga, sebelum hama ada, sudah ada musuhnya yang telah menjaga tanaman daris erangan hama.
Kuncinya keseimbangan ekosistem

Pejual Es    :    Wah, begitu ya Mbah… (Manggut-manggut)

Mbah Suluh    :    Iya…
Yang ke dua adalah pengamatan rutin.
Tanaman diamati jangan dari kejauhan.
Tapi dekati. Lihat dari atas ada hewan apa saja.  Terus pangkal tanaman ada hewan apa saja.  Jangan di pegang dulu…
Selanjutnya di periksa yang tengah ada hewan apa saja.
Jika kondisi masih seimbang antara potensi hama dan musuh alaminya, jangan melakukan tindakan.  Nah silahkan konsultasi dengan petugas OPT setempat agar lebih detail.
(Sambil sesekali “nyruput” gelas plastic merah bergambar “Doraemon”. Maklum, pelanggan Es Tebu banyak anak-anak)

Pejual Es    :    Weee….. (Sambil menata duduknya)

Mbah Suluh    :    Yang ke tiga pengembangan musuh alami.
Kalau ekosistem sudah seimbang, ya harus dijaga…
Kalau ada gejala musuh alami kalah, tinggal menambahkan lagi musuh alami.
Penambahan kompos, juga termasuk sudah menambahkan musuh alami lhoo…
Kalau gak percaya kamu ayak Kompos di tong sampah, nanti akan rontok banyak hewan-hewan kecil yang sebagian besar bisa mengundang atau menjadi musuh alami.

Pejual Es    :    Wah wah wah…. Hebat Mbah.. Terus yang terakhir Mbah?

Mbah Suluh    :    Yang terakhir..
Petani Ahli PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
Harus diperbanyak petani yang mengerti tentang pengendalian hama secara terpadu.  Agar seluruh kawasan pertanian terkendali dengan efektif.

Pejual Es    :    Begitu ya Mbah…
Wah Terimakasih banyak Mbah…
Saya beruntung ketemu Mbah Suluh hari ini.
Saya gak bisa ngasih apa-apa e Mbah..

Mbah Suluh    :    Walahhhh….
Lha ini sudah saya rasakan Es tebunya gitu..
Sebenarnya satu lagi yang harus dilakukan…
Usaha sudah, tinggal berdo’a yang harus dilakukan petani…
Agar Do’anya mustajab, ya harus banyak melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Naaaah…

Berdua    :    Lhaaaaa  itu …
(Tak terasa hari semakin panas, merekapun beranjak dari tempat duduknya)

(RDP)

 

Comments  

 
#1 Rosyidah 2012-07-24 08:40
bagus...
bisa nambah wawasan
 
 
#2 nuns 2012-08-13 09:55
siiiippp, kapan-kapan beli es tebu bareng-bareng ya....sambil nongkrong di gubuk sawah...tinggal pilih sawahnya sapa. hehehehehehe.......
 

Add comment

Security code
Refresh