ANDA BERADA DI: Depan

ADAPTASI PETANI DALAM KONDISI IKLIM YANG TAK MENENTU (MBAH SULUH EDISI BAG.2)

E-mail Cetak PDF

Hari ini, saya mengagendakan keluar kantor untuk kembali memantau pekerjaan yang baru di mulai.  Pendampingan Sekolah Lapang SRI (System of Rice Intensification). Setelah berkunjung dari beberapa lokasi kegiatan, tibalah saya di sebuah kampung yang juga di plot SL-SRI. Dari Mega Pro yang gagah dengan Plat merah, aku turun dan parkirkan kendaraan inventris Negara tersebut di bawah pohon rambutan milik penduduk yang juga meneduhi sebagian tepi jalan.  Aku lepas tas ransel hitamku dan aku letakkan di atas tangki sambil dalam hati berkata “sangat aman, tak ada indikasi kejahatan atau criminal sama sekali, benar-benar damai”.

Aku ambil kamera digital yang ada di saku jaket hitam yang setia melindungiku dari terik mentari.  Dokumentasi kegiatan menjadi sasaranku.  Begitu aku mulai melangkah, tiba-tiba tepat dihadapanku berjalan sosok tua mendekat ke arahku.  Reflek, kamera aku ambil dari “slongsong”nya.  Aku ambil gambar dia.  Dia terheran.  Sambil menghentikan langkahnya, sosok kakek tua bertanya “Sampun?”. Katanya dengan lirih dan agak gemetar.  Masih tetap senyum, walau dalam hatiku berkata betapa beratnya beban yang sedang kau pikul dalam menjalani kehidupan yang memang fana ini.

“Sampun, Monggo” jawab saya singkat sambil memberi jalan.
Sosok sederhana ini melintas di depanku dengan langkah pastinya.  Walau tak mampu membawa rumput penuh di karungnya, terasa begitu jauh perjalanan yang akan ditempuhnya (perasaanku).
Dengan punggung agak bungkuk memanggul karung tercengkeram erat dengan tangan kanan serambi membawa caping yang berusaha dijaga dengan baik.  Dalam hatiku apakah dirumah ada beberapa kambing, sebab kalau sapi kurasa tak mungkin dengan porsi makan yang di bawa sang majikan.

Topi miring ke kanan bukannya tidak sengaja, memang mentari pagi dari timur cukup terik.  Memang panas bumi sudah mulai menghawatirkan.  “Global Warming” para ilmuwan menyebutnya.  Hal ini terjadi karena peningkatan kadar Gas Rumah Kaca (GRK) di bumi terus meningkat. Mulai Metan (CH4), Carbon Dioksida (CO2) dan Nitrous Oksida (N2O) serta polutan lain yang disebabkan adanya pencemaran .

Kehebatan Gas Rumah Kaca ini secara keseluruhan dia bisa di tembus radiasi ultraviolet, tapi secara pertikel dia bisa memantulkannya secara baur dan sangat memungkinkan terjadianya pemantulan ganda/ berulang.  Ini yang membuat suhu bumi makin meningkat. Bumi kita di kungkung oleh panas mentari yang seharusnya manjadi berkah bagi alam (wah jadi ngelantur). 

Kendati demikian, kaki kurusnya terus menapak aspal yang mulai terkelupas. Celana pendek hitam kusam juga masih menempel setia meski agak kebesaran. Baju putih tampak mecing jika di pakai anak muda. Sayang telah usang. Mungkin itu baju anak atau cucunya (dalam hatiku).  Betapa panji-panji keberkahan tercermin di sana.  Semua barang begitu awet dan terpelihara. Saya makin yakin jika uang yang di keluarkan untuk itu adalah benar-benar dari hasil keringatnya.  Karet gelang merah juga melingkar di jari kanannya.  Saya masih berfikir sampai sekarang, untuk apa kira-kira. Mungkin ia temukan di pematang sawah dan berfikir memanfaatkannya di rumah. Atau apa. Ditambah plastic putih yang ada terlihat memenuhi saku bajunya.  Tembakau Rajang sepertinya. Dia terus berjalan menyusuri aspal yang membentang di depannya. 
Sungguh simbul-simbul kesederhaaan, kepolosan dan keberkahan tercermin di sana.  Apa yang bisa kita perbuat untuk dia.  Mungkin memang dia sudah merasa cukup dan senang dengan kodisinya. Tapi alangkah senangnya ketika kita bisa berbagi tentang apa yang kita rasakan.

ADAPTASI CUACA DALAM BUDIDAYA TANAMAN PADI

Pagi yang cerah, betapa indahnya redup mendung terpecahkan mentari pagi.  Suara burung pipit beterbangan dan sesekali hinggap diatas dahan.  Bersahutan pula kokok ayam jantan dari kandang tepi lahan. Tak mau kalah, sapi dan kambing pun berjajar di tepi jalan mengais rumput yang kata Ebit sedang bergoyang.

Pagi itu, Mbah Suluh berangkat ke sawah seperti biasanya.  Membawa cangkul, caping, clurit dan celana hitam Bukan jarang ganti, tapi emang mbah Suluh punya banyak celana hitam kok.  Itu warna idola beliau.

Pagi yang cerah itu, tiba-tiba mendung menutupi langit yang mulai memerah.  “Wah, memang sulit diprediksi kondisi cuaca saat ini.  Pranoto mongso rasanya tidak berlaku lagi di dunia ini”. Dalam hati, Mbah Suluh berkata.
Tiba tiba ada Sosok Pemuda datang dengan seragam kelompoktaninya.

Pemuda : Maaf, permisi Mbah…

Mbah Suluh : Iya..

Pemuda : Njenengan Mbah Suluh ya…. Kata masyarakat sekitar sini Mbahnya pertanian di Kampung sini nggih?

Mbah Suluh : Oooo…. Itu mungkin karena saya sejak kecil sampe tua gini konsisten jadi petani, jadi orang-orang bilange mbahnya pertanian. Gak pa pa lah…. Dari pada Mbahnya Gerandong. Hehehe…
Mbah suluh sambil melihat kaos seragam yang dipakai si Pemuda itu

Pemuda : Wah, saya salut mbah… Saya ini pengurus Kelompoktani Desa Sebelah Mbah, Kemaren saya Mendapatkan Sekolah Lapang Iklim. Kata PPL saya, Mbah Suluh juga tahu Pranoto Mongso ya?

Mbah Suluh : Lha sekarang Pak PPL kan juga banyak yang sudah tahu tentang iklim kan? Saya juga tahu dari Pak PPL kok. Kalo pranoto mongso memang saya punya bukunya, boleh kamu pelajari. Maen saja kerumah.. Lah tapi sekarang banyak yang tidak cocok dengan kondisi lapang e… kalo tak pikir-pikir..

Pemuda : Gitu nggih Mbah… Terus gimana caranya kita bisa menyesuaikan dengan kondisi iklim tak menentu seperti sekarang ini Mbah? Petani kita kan masih tergantung pada iklim….

Mbah Suluh : Sebenarnya Jombang sudah sangat bagus dalam mengantisipasi dampak iklim yang tidak menentu ini…

Pemuda : Kok bisa Mbah…

Mbah Suluh : Dengan gerakan organic yang dilakukan secara terus menerus, akan meningkatkan kandungan Bahan Organik tanah. Hal ini akan berdampak pada perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dengan sifat fisik tanah bagus, tanah akan banyak menyerap dan menahan air. Akhirnya, ketika hujan datang, banyak air yang terserap tanah dan menyimpannya, sehingga mengurangi resiko banjir.  Ketika tanah banyak menahan air, maka hal ini akan mengurangi dampak kekeringan.

Pemuda : Oooo… begitu ya mbah….

Mbah Suluh : Iya… Belum lagi Kesuburan kimia yang ditimbulkan.  Menjadikan unsure hara yang dibutuhkan tanaman menjadi lengkap baik unsure mikro dan makronya.  Ada dan tersedia bagi tanaman.  Kalau dengan unsure kimia sintetis, ada tapi belum tentu tersedia bagi tanaman lho…
Pemuda    : Begitu ya Mbah…  Kalau kesuburan biologis tanah apa dampaknya Mbah?

Mbah Suluh : Naaahh… Kesuburan kimia ini akan terserap ketika bentuknya berupa ion. Yang merubah dari materi unsure menjadi ion itu adalah mikroorganisme. Buanyak mikroorganisme kita di tanah. Wong tanah kita sangat subur. Ingatku. Satau sendok tanah di padang rumput, tidak kurang dari 500 jenis mikroorganisme disana. Dan tidak kurang dari 5.000 mikroorganisme yang hidup juga di situ.
Padahal beberapa produk pabrikan tertentu dengan 4 mikrooraganisme saja bisa di perdagangkan seharga puluhan ribu tiap liternya. Sedangkan perkembangbiakannya sangat cepat.

Pemuda : Wah wah wah… Benar-benar kaya kita ya Mbah…

Mbah Suluh : Iya… Sebenarnya kita sangat kaya.  Makanya jangan sampai kita seperti anak ayam yang mati keklaparan di lumbung padi.  Dia gak tahu itu makanan atau memang gak mau berusaha makan.  Makanya mari kita angun kembali kesadaran bertani yang baik.  Karena potensi kita itu pertanian.

Pemuda : Tongkat kayu jadi tanaman ya Mbah… Apakah kita yang malas ya Mabh?

Mbah Suluh : Wah, kalau itu masing-masing manusianya.  Kalau malas Toh juga sudah ada obatnya…

Pemuda : Apa mbah…

Mbah Suluh : Ya…. Samblek….

Pemuda : hahaaaa….bisa aja Mbah ini…

Setelah tertawa bareng tak terasa gerimus benar-benar datang.  Keduanya menghampiri gubug yang ada di samping pematang. (RDP)

 

 

Comments  

 
#1 Norma 2012-05-03 10:48
bagus
bisa nambah wawasan
 
 
#2 AWAN KS 2012-06-07 09:03
cerita yang cukup menarik
terus usahakan pertanian organik
sekalian tolong ditulis tentang dampak dari pertanian organik bagi peningkatan kesejahteraan petani
usul kapan-kapan ditulis tentang konservasi lahan dan air guna peningkatan produksi

salam rimbawan
 
 
#3 nuns 2012-06-11 05:37
hmmm...bagus, tetep pertahankan gaya mbah suluh dengan cletukan yang lepas tapi mengena.
ditunggu bahasan berikutnya.
salam. ^_^
 
 
#4 Mbah Suluh 2012-08-13 11:39
Mbk Norma, Mbak Nuns, Terimakasih semoga bermanfaat.
P. Awan KS, Terimakasih, secara tersirat sudah kami masukkan materi tersebut dalam edisi berikutnya.
 
 
#5 Mbah Suluh 2012-08-13 11:41
Norma, Nuns, terimakasih semoga bermanfaat..
Awan KS, terimakasih. materi sudah kami sisipkan dalam edisi Mbah Suluh Selanjutnya.
 

Add comment

Security code
Refresh