ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi

Tips dan Inovasi

bmc

BENEFICIAL MICROBE FOR COMPOST (BMC)

CARA PENGGUNAAN
1. Bersihkan terlebih dahulu alat semprot dan alat yang lain yang akan digunakan dengan air mengalir, agar sisa-sisa bahan kimia tidak mempengaruhi keefektifan BMC
2. Gunakan air bersih atau air sumur untuk melarutkan BMC.
3. BMC disemprotkan secara merata pada permukaan pupuk bokhasi yang sudah jadi, kemudian diaduk hingga rata agar mikroba menempati ruang yang ada(kadar air pupuk bokhasi ± 30%)
4. Apabila BMC sudah merata, permukaan bokhasi ditutup tidak terlalu rapat, spora akan hidup dan berkembang. BMC membutuhkan waktu ± 5 hari untuk dapat berkembang aktif dan siap diaplikasikan di lapang,
5. Lakukan Pembalikan pada hari ke -3 agar BMC menyebar merata. Kemudian tutup kembali atau lindungi agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
6. Apabila sudah hari ke –5 BMC sudah siap di packing, usahakan kadar air Bokhasi/Kompos diatas 15 % dan kelembaban diatas 70 % agar BMC tetap hidup serta berfungsi secara amksimal.
7. Jika Bokhasi/ Kompos dibuat granul maka penyemprotan dilakukan pada saat proses pembuatan granul selesai, setelah granul sudah kering baru BMC disemprotkan secara merata.

DOSIS
1 Liter BMC/10 Liter air.  Untuk Bokhasi / Komspos 1 Ton.

MANFAAT
1. BMC merupakan penggabungan dari Mikroba Pengikat N Nonsimbiotik atau pengikat N bebas di udara dan penghasil zat tumbuh (IAA)
2. BMC Menekan kebutuhan penggunaan pupuk kimia terutama Nitrogen.
3. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap pathogen / penyakit tular tanah atau penyakit penghuni akar.
4. Membantu pertumbuhan tanaman dan secara aktif melindungi akar.
5. Memperbaiki kapasitas tukar kation (KTK) di dalam tanah.
6. Memperbaiki sifat Fisik, Kimia dan Biologi Tanah.

LAB. TERPADU DINAS PERTANIAN KABUPATEN JOMBANG
Jl. Soekarno Hatta No 170 Jombang - Jawa Timur
Phone : (0321) 861246, (081) 259703199 Fax : (0321) 875171 E-mail: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Leaflet bisa di download di sini

 
sampul

CENDAWAN MIKORIZA

Bagian 1
Mulai pertengahan tahun 2009, Laboratorium Terpadu Dinas Pertanian secara intensif mengembangkan inovasi teknologi untuk mendukung peningkatan  produktifitas pertanian di Kabupaten Jombang. Setelah melalui berbagai ujicoba Tahun 2011 Lab Terpadu merilis teknologi mikoriza untuk mendukung tercapainya visi dinas ”Menuju Budaya Pertanian Organik 2013”

Kepada Humus Kepala Dinas Pertanian, Drs Suhardi, MSi mengatakan, ” Teknologi cendawan mikoriza akan menjadi andalan kita di tahun 2011, saya punya keyakinan mikrobiologi adalah teknologi yang paling menjanjikan sekaligus paling aman bagi masa depan pertanian”. Memang, setelah gerakan genthongisasi  di Kelompoktani untuk membuat mol kemudian dilanjutkan dengan perluasan budidaya SRI, para petugas dan petani sedang menunggu, inovasi apalagi untuk bisa menggairahkan penyuluhan di daerah. Ya..jawabannya adalah teknologi mikoriza.

Mulai edisi ini Humus akan mengawal secara berseri teknologi Mikoriza yang dikembangkan oleh Tim Laboratorium Terpadu Dinas Pertanian.

Sekilas Cendawan Mikoriza.

Cendawan Mikoriza Arbuskuler (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri.

Istilah mikoriza berasal dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos=miko) dan akar (rhiza).  Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009).

Mikoriza dikenal sebagai jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rhizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini.

Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang.

Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman.

Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman.  Selain itu cendawan ini juga memiliki peranan ganda (multifungsi) antara lain :

1.    Meningkatkan Ketahanan terhadap Kekeringan
Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza.

2.    Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar
Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Dilain pihak, cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas, 1997) .

3.    Produksi Hormon dan Zat Pengatur Tumbuh
Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti, sitokinin dan giberalin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas, 1997). Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin, citokinin, dan giberalin, yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman.

4.    Manfaat Tambahan dari Mikoriza tehadap Efisiensi Pupuk
Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor, 40% kebutuhan nitrogen, dan 25% kebutuhan kalium (diukur pada penggunaannya untuk tanaman lamtoro).

5.    Perbaikan Struktur Tanah.
Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah.

6.    Meningkatkan Serapan Hara P
Hal sangat penting, yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.  Inokulasi bakteri pelarut fosfat ( PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat ( Kim et al, 1998)
(Buletin Humus Edisi 13)


Buletin Humus Edisi 13 dapat di download Disini

   
BROWN

WASPADA WERENG BATANG COKLAT

Penyebab timbulnya serangan Wereng Batang Coklat
Kemampuan berkembang biak wereng batang coklat (WBC) sangat tinggi, bertelur banyak (100-600 butir), siklus hidupnya pendek (±28 hari, yaitu stadium telur ±8 hari, nimfa ± 18 Hari, dewasa pra bertelur ±2 hari), masa hidup dewasa ±8 hari, mempunyai daya sebar cepat dan daya serang ganas.  Laju perkembangbiakan pada varietas peka dengan lingkungan optimum dalam satu musim tanam dapat mencapai 2.000 kali.

Adanya penanaman varietas rentan/ peka dan pola tanam yang tidak teratur, sebagai pemicu perkembangan dan penyebaran wereng.

Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana, tidak memenuhi 6 tepat (jenis, konsentrasi, dosis, volume semprot, cara, waktu dan sasaran), sehingga wereng dapat menjadi kebal terhadap insektisida dan terbunuhnya musuh alami menyebabkan wereng cepat berkembang.  Gunakan hanya insektisida yang terdaftar dan diijinkan.  Apabila persemaian dan atau tanaman muda belum ada wereng tetapi disemprot insektisida maka semakin berpeluang untuk terserang hama wereng batang coklat.

Serangga dewasa dan nimfa menetap dan menghisap pelepah daun dibagian bawah/ pangkal tanaman, sehingga petani kurang perhatian sejak dini.

Pengaruh factor iklim mikro yang lembab dan hangat.  Tidak hanya musim hujan, tetapi musim kemarau yang basah menjadi pendorong perkembangan WBC.

Kerusakan tanaman oleh WBC
Apabila populasi tinggi, warna daun dan batang tanaman berubah menjadi kuning, kemudian berwarna coklat jerami dan akhirnya seluruh tanaman bagaikan disiram air panas, kuning coklat dan mongering (hopperburn).

WBC juga dapat menularkan virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Kerdil rumput : tanaman menjadi kerdil, beranak banyak, daun menjadi pendek dan tidak bermalai.

Kerdil hampa : tanaman menjadi kerdil, daunnya terpuntir dan pendek, kaku sobek-sobek, terdapat puru, anakan bercabang dan malainya hampa.

Karakteristik WBC
WBC berukuran kecil, nimfa yang baru menetas berukuran <1 mm dan dewasa ±3 mm.  hidup menghisap cairan tanaman di bagian pangkal batang/ pelepah tanaman.  Apabila populasi tinggi WBC sampai di daun terutama dewasa bersayap panjang.  Nimfa kecil berwarna putih dan semakin tua berubah menjadi kekuningan, coklat muda akhirnya menjadi coklat/ coklat tua.

WBC mampu beradaptasi terhadap pergantian varietas tanah dengan membentuk biotipe ataupun koloni baru yang lebih ganas.  WBC dewasa mempunyai dua bentuk sayap yaitu dewasa sayap panjang (makrptera) dan dewasa sayap pendek (brakiptera).

Bentuk makroptera merupakan indicator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera merupakan populasi penetap yang biasanya menghasilkan keturunan yang menyebabkan kerusakan tanaman.

Populasi WBC dapat meningkat lebih tinggi dengan aplikasi insektisida yang tidak bijaksana (tidak memenuhi kaidah 6 tepat) karena dapat mengakibatkan resistensi (hama menjadi kebal) dan reurgensi (populasi menjadi berkembang lebih cepat terutama karena musuh alaminya musnah)
Pengendalian WBC
a.    Pratanaman (persiapan-persemaian)
-    Persiapan benih bermutu bersertifikat yang tahan terhadap koloni WBC setempat.
-    Eradikasi/ sanitasi singgang atau sisa tanaman yang terserang virus kerdil rumput dan kerdil hampa.
-    Peningkatan pengamatan populasi WBC sejak awal persemaian.
-    Pemusnahan bibit/ persemaian yang terserang berat WBC.
-    Jarak tanam lebar, pemberian parit keliling, tidak menggenang tanaman untuk mengurangi kelembaban tinggi sehingga lingkungan tidak disenangi WBC.
-    Penambahan Bahan Organik untuk merangsang pertumbuhan mikroorganisme sehingga ekosistem bisa siembang.
b.    Fase tanaman muda (<40 HST)
-    Menanam varietas yang telah terbukti tahan/ toleran terhadap populasi WBC di daerah masing-masing.  Hindari menanam varietas rentan/ peka
-    Tanam system legowo/ SRI dan pemupukan NPK harus seimbang
-    Tanaman yang terserang WBC berat dilakukan sanitasi selektif/ eradikasi demikian juga tanaman yang bergejala virus kerdil rumput dan kerdil hampa.
-    Penggunaan insektisida efektif untuk WBC yang terdaftar dan diijinkan untuk tanaman padi.  Aplikasi pada saat mencari ambang pengendalian : populasi = 10 ekor/ rumpun pada tanaman berumur < 40 HST.
-    Penyiangan teratur untuk mengurangi kelembaban
c.    Fase primordia (=40 HST)
-    Tanaman yang terserang berat dilakukan sanitasi/ eradikasi selektif dan yang puso dieradikasi selektif dan yang puso dieradikasi total.
-    Penggunaan insektisida apabila populasi = 20 ekor/ rumpun pada tanaman berumur = 40 HST.
-    Kerapkali aplikasi insektisida menjadi tidak efektif dan tidak efisien karena populasi sudah terlampau tinggi, kesalahan memilih insektisida dan teknik aplikasi untuk itu penggunaan insektisida dan teknik aplikasinya harus memenuhi 6 tepat diatas.
d.    Pengendalian Musuh alami
-    Banyak sekali musih alami yang diketahui efektif untuk untuk menekan perkembangan populasi WBC antara lain laba-laba, kumbang coccinelid, Ophionea dan Paederus, kepik Cyrthorhinus, predator yang hidup di air parasitoid telur seperti anagrus, oligosita dan Gonatocerus,parasitoid nimfa dan dewasa antara lain Elenchus dan Pseudoogonatopus serta Cendawan/ jamur pathogen serangga antara lain Beauveria bassiana, Hirsutela dan Metharizium.
-    Jika populasi WBC mulai banyak, tambahkan bahan organic/ kompos untuk merangsang perkembangan musuh alami sehingga ekosistem menjadi seimbang.
-    Jangan menyemprot insektisida jika tidak perlu karena akan memusnahkan musuh alami.

Rudi Priono, Penyuluh Pertanian Kab. Jombang

   
cabai

ALTERNATIF MENANAM CABAI PADA SAAT CUACA EKSTREM DAN HARGA MELAMBUNG TINGGI

Guna mengatasi gejolak naiknya harga cabai dan ektrimnya cuaca pada saat ini maka di kecamatan jombang telah dilaksanakan kegiatan gerakan menambah populasi tanaman cabai yang dilakukan oleh ibu-ibu anggota PKK baik di desa maupun di perkotaan, tidak harus ditanah sawah atau tegal yang luas namun cukup disekitar rumah.
Pada hari ini tanggal 26 Mei 2011, tanaman cabai yang ditanam di desa Plandi telah berumur 85 HST dan dilakukan panen perdana bersama tim penggerak PKK desa dan kecamatan. Keberhasilan kegiatan ini adalah berkat kerjasama penyuluh pertanian, kelompoktani, gabungan kelompoktani, ibu-ibu TP PKK Desa dan Kecamatan serta dukungan dari bapak Kepala Desa beserta perangkatnya.

Disusun oleh Kord. Penyuluh Kec. Jombang ( Srijatin )





   
pw

PENYIANGAN LEBIH HEMAT DENGAN POWER WEEDER

Rumput selalu menjadi masalah yang serius pada kegiatan budidaya tanaman padi. Petani sering mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan penanggulangann dan penyiangan. Berbagai cara penanggulangan biasa dilakukan oleh petani, mulai dari cara cabut dengan tenaga manusia (dadak), penggunaan herbisida, penggunaan alat penyiang (landak/osrok). Keberadaan rumput juga sangat mengganggu pertumbuhan tanaman padi itu sendiri. Mesin penyiang bermotor merupakan salah satu alternatif cara penyiangan disamping cara-cara penyiangan yang lain ( dicabut langsung dengan tangan, dengan alat landak dll). Dirancang sedemikian rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan tanaman padi sawah berumur antara 15-40 hari dengan jarak antara baris 20 cm, 25 cm atau 30 cm. Selain itu juga meningkatkan kapasitas kerja penyiangan, dibandingkan dengan penyiangan cara manual 50 – 80 jam per hektar, mesin penyiang (power weeder) mempunyai kapasitas kerja 15 – 27 jam per hektar, mengurangi kelelahan kerja, dan mampu menekan ongkos kerja penyiangan. Dengan adanya alat ini juga akan memacu petani untuk menanam padi dengan menggunakan jarak tanam. Karena alat ini hanya bisa dilakukan untuk lahan yang menggunakan

jarak tanam. Kelompoktani Plemahan Desa Plemahan Kecamatan Sumobito saat ini telah menggunakan mesin penyiang (power weeder), berkat upaya Ketua Poktan H. Moh. Faizin. Ketua poktan Plemahan merasa tergugah untuk mendapatkan alat ini karena beberapa musim tanam ini petani Plemahan banyak yang mengeluhkan biaya untuk kegiatan penyiangan. Dengan alat ini petani sangat terbantu karena biaya penyiangan dapat ditekan. Untuk tanah seluas 1 Ha hanya memerlukan biaya lebih kurang 750 ribu rupiah untuk penyiangan satu arah. Lebih hemat bukan ? Alat penyiang yang dimiliki Poktan Plemahan mempunyai spesifikasi sbb:
Tipe : Walking Type
Penggerak : Motor
Bensin, 2 Tak, 2 HP /6500 rpm,
Dimensi
Pajang : 1.550 mm
Lebar : 620 mm
Tinggi : 960 mm
Berat : 21 Kg (termasuk engine)
Kecepatan Jalan : 2 – 2,5 km/jam
Lebar Kerja : 2 baris x 20 cm, 2 baris x 25 cm / 30 cm
Kapasitas Kerja
Satu Arah : 0,067 Ha/ jam
Dua Arah : 0,037 Ha/ jam
(Nizarul Fauzi, SP. Sakatar Sumobito )