ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi CENDAWAN MIKORIZA

CENDAWAN MIKORIZA

E-mail Cetak PDF
sampulBagian 1
Mulai pertengahan tahun 2009, Laboratorium Terpadu Dinas Pertanian secara intensif mengembangkan inovasi teknologi untuk mendukung peningkatan  produktifitas pertanian di Kabupaten Jombang. Setelah melalui berbagai ujicoba Tahun 2011 Lab Terpadu merilis teknologi mikoriza untuk mendukung tercapainya visi dinas ”Menuju Budaya Pertanian Organik 2013”

Kepada Humus Kepala Dinas Pertanian, Drs Suhardi, MSi mengatakan, ” Teknologi cendawan mikoriza akan menjadi andalan kita di tahun 2011, saya punya keyakinan mikrobiologi adalah teknologi yang paling menjanjikan sekaligus paling aman bagi masa depan pertanian”. Memang, setelah gerakan genthongisasi  di Kelompoktani untuk membuat mol kemudian dilanjutkan dengan perluasan budidaya SRI, para petugas dan petani sedang menunggu, inovasi apalagi untuk bisa menggairahkan penyuluhan di daerah. Ya..jawabannya adalah teknologi mikoriza.

Mulai edisi ini Humus akan mengawal secara berseri teknologi Mikoriza yang dikembangkan oleh Tim Laboratorium Terpadu Dinas Pertanian.

Sekilas Cendawan Mikoriza.

Cendawan Mikoriza Arbuskuler (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri.

Istilah mikoriza berasal dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos=miko) dan akar (rhiza).  Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009).

Mikoriza dikenal sebagai jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rhizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini.

Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang.

Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman.

Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman.  Selain itu cendawan ini juga memiliki peranan ganda (multifungsi) antara lain :

1.    Meningkatkan Ketahanan terhadap Kekeringan
Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza.

2.    Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar
Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Dilain pihak, cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas, 1997) .

3.    Produksi Hormon dan Zat Pengatur Tumbuh
Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti, sitokinin dan giberalin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas, 1997). Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin, citokinin, dan giberalin, yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman.

4.    Manfaat Tambahan dari Mikoriza tehadap Efisiensi Pupuk
Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor, 40% kebutuhan nitrogen, dan 25% kebutuhan kalium (diukur pada penggunaannya untuk tanaman lamtoro).

5.    Perbaikan Struktur Tanah.
Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah.

6.    Meningkatkan Serapan Hara P
Hal sangat penting, yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.  Inokulasi bakteri pelarut fosfat ( PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat ( Kim et al, 1998)
(Buletin Humus Edisi 13)


Buletin Humus Edisi 13 dapat di download Disini

 

Comments  

 
#1 Amir Notoyudo 2014-03-01 09:02
Salam petani,
Pemberian microba (micoriza, Azotobacter, M4, dsb) kedalam tanah yg dilakukan besar-besaran (mcroba berkembang terus !) berarti bisa berakibat terganggunya keseimbangan alam; hal ini hrs diwaspadai lihat apa yg akan terjadi ! [email protected]
 
 
#2 dinas pertanian 2014-03-03 07:44
Terimakasih...
Pemberian mikoriza pada lahan telah disesuaikan dalam dosis anjuran. penambahan bakteri lain direkomendasika n berdasarkan kajian dari lapang dan Laboratorium terpadu yang kami miliki.
anjuran penambahan bahan organik samapai sekarang juga masih terus digalakkan.
perkembangan kesuran lahan dan permasalahan teknis juga kami pantau melalui Laboratoium dan kerjasama dengan beberapa lembaga terkait lainnya.
 

Add comment

Security code
Refresh