ANDA BERADA DI: Depan Berita Program Kegiatan DINAS PERTANIAN DENPASAR BELAJAR KONTRAK KERJA PPL KE JOMBANG

DINAS PERTANIAN DENPASAR BELAJAR KONTRAK KERJA PPL KE JOMBANG

E-mail Cetak PDF

Kontrak kerja PPL yang baru satu musim digulirkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menarik perhatian Dinas Pertanian Kota Denpasar. Bali yang terkenal dengan kelompok Subak itu ternyata juga mengalami permasalahan dengan dinamika penyuluhan. Sebagai bahan kajian dan perbandingan, mereka memiliih Kabupaten Jombang untuk menggairahkan kegiatan penyuluhan di Kota Denpasar. Sebanyak 20 orang pimpinan dinas pertanian dan PLL kota denpasar menggali mekanisme seputar pelaksanaan kontrak kerja yang diselenggarakan oleh dinas pertanian Kabupaten Jombang.

Rombongan langsung diterima oleh Kepala Dinas Pertanian dan Koordinator PPL, Ir. Saufi Afnato. Dalam sambutannya kepala dinas menjelaskan, titik tekan dari pelaksanaan kontrak kerja PPL adalah adanya perubahan sikap petugas dan kelompoktani menjadi lebih baik untuk membangun dinamika kelompok. Hal tersebut kemudian dituangkan dalam berbagai kesepakatan dalam bentuk 3 aspek, yakni aspek teknis, aspek sosial dan aspek ekonomi. ” Yang paling penting dalam pelaksanaan kontrak kerja ini adalah, dilaluinya dengan pola dan sistem yang benar. Saya yakin apabila pola dan sistem yang digunakan benar maka hasil akan mengikuti, ” terang Kepala Dinas.
Setelah mendapatkan penjelasan seputar kontrak kerja PPL, rombongan melanjutkan perjalanan ke Poktan Ploso, Kecamatan Ploso. Dalam kesempatan diskusi, Koodinator PPL Dinas Pertanian Kota Denpasar Ir. Nih Luh Ayu Kusuma menanyakan sejauh mana keaktifan PPL dalam mendampingi kelompoktani. Pertanyaan tersebut langsung ditanggapi oleh pengurus Poktan H. Waldi. Pria yang akrab dipanggil Abah Waldi itu mengaku merasa sangat terbantu dengan keaktifan petugas pertanian di kelompoknya termasuk petugas pengamat hama yang setiap saat melakukan pengamatan di lahan milik anggotanya.
Kegiatan kelompoktani Ploso ternyata menarik perhatian rombongan dari Pulau Dewata. Mereka terkagum, melihat aktifitas laboratorium mini milik kelompoktani yang sudah mampu memproduksi berbagai agen hayati. Rupanya kelompoktani di Denpasar belum banyak mengenal metode pertanian organik. Terbukti beberapa diantara mereka menanyakan apa itu MOL dan Pesnab. Ketika ditanyakan lebih lanjut, ternyata selama ini mereka lebih banyak menggunakan petroganik.
Satu hal yang menarik, dalam kesempatan diskusi, ketua rombongan dari Bali mengungkap tiga kriteria kelompoktani. Tiga kelompoktani itu adalah kelompoktani Pedati, Merpati dan Sejati. Poktan Pedati, artinya kalau tidak ditarik atau didorong tidak akan bergerak. Jenis yang kedua adalah kelompoktani merpati, artinya anggota kelompok hanya aktif datang kalau pas ada makanan atau pas ada bantuan saja. Dan, yang ketiga adalah kelompoktani sejati. Kelompoktani sejati selalu aktif dengan kegiatan baik ketika ada bantuan maupun ketika sedang tidak ada bantuan. Kelompoktani sejati adalah kelompoktani mandiri sebagaimana cita-cita dari dibangunnya kontrak kerja PPL.

 

 

Add comment

Security code
Refresh