ANDA BERADA DI: Depan Berita Program Kegiatan PIDATO SAMBUTAN KETUA KTNA JATIM DRS. H SUYANTO, MMA

PIDATO SAMBUTAN KETUA KTNA JATIM DRS. H SUYANTO, MMA

E-mail Cetak PDF

Pembangunan pertanian masih belum optimal, terbukti angka kemiskinan masih tinggi. Meliputi rentan miskin, miskin dan sangat msikin. Berkisar antara 20 %, ada beberapa kabupaten angkanya lebih kecil, sekitar 15 %. Yang ironis adalah, sebagian besar kemiskinan berada pada sektor pertanian dan nelayan. Ini gambaran pembangunan pertanian masih belum sesuai harapan. Ironis juga, apabila dilihat posisi wilayah kita secara strategis dan geografis yang subur. Sebagai penghasil pangan dan hasil bumi yang lain. Tapi, ternyata kesuburan yang menghasilkan berbagai hasil bumi penyuplai kebutuhan internasional belum mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Berarti masih ada yang perlu diperbaiki. Sehingga pertanian yang subur belum memberikan kesejahteraan dan martabat pada petani kita.
Perlu identifikasi dan upaya cermat tentang hal-hal yang harus diperbaiki ke depan, yakni kelembagaan petani yang masih dibangun dengan dasar karikatif, top down hanya untuk melaksanakan kegiatan dari departemen, sehingga belum bisa mengakomodasi kebutuhan pembangunan pertanian dalam arti sesungguhnya baik mulai tingkat pusat sampai tingkat daerah.
Kelembagaan petani juga menjadi lemah dengan rata-rata kepemilikan lahan yang sempit (0,3 ha). Sebagaimana hasil kajian, paling tidak petani butuh lahan 0,75 ha untuk bisa berusaha secara layak. Oleh karena itu, perlu kebijakan yang tepat agar dengan luas 0,3 ha tetap bisa menjadi buffer (penyangga). Melalui industri olahan rumah tangga, kegiatan peternakan, perikanan sebagai difersifikasi untuk mendukung kesejahteraan petani.
Demikian juga, lembaga keuangan dan permodalan masih berada pada tingkatan pidato. Masih belum benar-benar dapat diakses oleh petani kita. Banyak petani kita masih berkutat pada permasalahan pembiayaan. Tidak jarang petani terbelenggu oleh rentenir dan ijon yang tentu akan mengurangi pendapatan mereka.
Untuk peningkatan nilai tukar petani, seharusnya ada proteksi dari pemerintah sebagaimana dilakukan oleh negara-negara yang sudah maju. Mereka, negara maju juga masih malkukan proteksi untuk melindungi kepentingan petani. Mereka tidak membiarkan petaninya terhimpit dalam persaingan yang tidak seimbang.
Sebagaimana contoh, bisa kita lihat bagaimana apel dari Batu harus mati-matian bersaing menghadapi serbuan apel import. Ini contoh kecil. Tentu KTNA Jatim mendukung sepenuhnya kebijakan Pemerintah Jatim, menolak pelabuhan di Jatim digunakan sebagai loading (penurunan) barang import yang merupakan produk melimpah di Jatim seperti beras, gula, sapi.
Meskpiun begitu, NTP (Nilai Tukar Petani) Jatim masih terendah dibawah DIY , Jabar, dan Banten. Tentu KTNA sebagai stake holder pembangunan pertanian, akan mendorong sedemikian rupa untuk lahirnya kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani, agar petani di Jatim lebih bermartabat dan lebih sejahtera.
Maka, mau tidak mau KTNA harus segera mengkonsolidasi, kelembagaan baik di tingkat Propinsi dan Kabupaten sehingga dapat menyesuaikan dengan tuntutan para petani. Oleh sebab itu dalam rangjka mempercepat konsolidasi kelembagaan, dengan selesainya rembug, KTNA harus segera menyusun rencana stretagis lima tahunan, yang mana restra lima tahunan tersebut harus memperhatikan program KTNA pusat, renstra kementerian pertanian, dan program kerja KTNA propinsi dan Renstra Kabupaten sebagai dasar yang akan dituangkan dalam Renstra dan Rencana Anggaran Belanja KTNA Jatim .
Terlebih KTNA sebagai stake holders sektor pertanian yang jelas payung hukumnya, yang dituangkan dalam aturan perundangan perlu difahamkan kepada jajaran eskekutif maupu legislatif sehingga bisa dituangkan dalam nomenklatur APBD Propinsi, Kabupaten dan Kota.
Agar keberadaan KTNA dihadapan pemerintah (legislatif-eksekutif) bisa setara dalam kemitraan, KTNA dituntut lebih tertib dan tanggap dalam ikut serta mengurai persoalan pertanian termasuk penataan kelompoktani yang masih by address, sebagaimana sering saya contohkan dalam satu wilayah apabila dijumlah luas jalan raya, laus lapangan, luas sawah dibandingkan dengan ajuan RDKK masih luas RDKK. Karena kelompoktani masih dibuat dengan basis alamat. Seberapapun anggaran digelontorkan tidak akan ada artinya apabila kesalahan mendasar tersebut tidak ada pembenahan/.
Dengan mandat yang sudah diberikan, kami tidak akan bisa bekerja sendiri, perlu kebersamaan gotong royong dalam menggerakkan KTNA propisni bersama kab kota, sebagaimana arahan utusan Sekjend, kita akan menjauhkan pikiran habis, menghabisi, karena itu bukan watak KTNA. The right man on the right place, posisi dengan SDM yang tepat akan memberikan harapan dan jaminan eksistensi KTNA dihadapan petani di Jawa Timur.

 

Add comment

Security code
Refresh