ANDA BERADA DI: Depan Berita Penyuluhan Pertanian “GEMA BESUTAN” GERAKAN MASYARAKAT MENGEMBALIKAN KESUBURAN TANAH

“GEMA BESUTAN” GERAKAN MASYARAKAT MENGEMBALIKAN KESUBURAN TANAH

E-mail Cetak PDF

Kementrian Pertanian mengeluarkan kebijakan dalam pembangunan pertanian 2020 untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern. Untuk mencapai sasaran tersebut, ada 4 aspek yang perlu dijadikan fokus pertanian, pertama peningkatan produksi dan produktifitas melalui gerakan nasional peningkatan produktivitas

dan produksi komoditas pertanian serta peningkatan kapasitas SDM pertanian. Kedua, menurunkan biaya pertanian menuju pertanian berbiaya rendah melalui peningkatan efisiensi dan pengembangan kawasan berbasis korporasi. Ketiga, pengembangan dan penerapan mekanisasi serta akselerasi pemanfaatan inovasi teknologi. Dan keempat, ekspansi pertanian melalui perluasan pemanfaatan lahan termasuk lahan rawa dan sub optimal lainnya serta penyediaan air (irigasi, embung, dan bangunan air lainnya).

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPT Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten Jombang, Bapak Rudi Priono, SP., menambahkan informasi bahwa sektor pertanian kedepan akan memiliki tantangan yang semakin berat.  Selain terus bertambahnya jumlah penduduk hingga menuntut agar produksi pertanian bisa mencukupi kebutuhan pangan, juga tantangan terus menyempitnya lahan pertanian, perubahan iklim yang semakin ekstrim dengan pemanasan global yang menyebabkan banyaknya kendala teknis pelaksanaan usaha tani.  Untuk itu, sejak dini kita harus menyikapi dengan berbagai upaya untuk segera melakukan mitigasi, adaptasi maupun antisipasi berbagai tantangan pembangunan pertanian kedepan. Perlu penyamaan persepsi dan alur kerja yang terorganisir dalam pelaksanaan pembangunan pertanian.  Untuk itu, penting kiranya motivasi kepada seluruh elemen pembangunan pertanian dalam sebuah kerangka berfikir yang sama.  Dalam hal ini dibangun komitmen dalam gerakan “GEMA BESUTAN” Gerakan Masyarakat Mengembalikan  Kesuburan Tanah. Salah satu wujud dari kegiatan tersebut adalah pemanfaatan limbah ternak untuk diolah menjadi pupuk dengan kualitas lebih tinggi atau yang lebih dikenal dengan nama pupuk bokashi.

Penyuluh pertanian berada di garda depan dalam melaksanakan kegiatan tersebut,  seperti apa yang sudah dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang yang melaksanakan pendampingan pembuatan bokashi pada petani binaannya. Adapun bahan-bahan yang dimanfaatkan dalam membuat pupuk ini cukup mudah diperoleh dan harga sangat terjangkau antara lain : Berikut bahan yang diperlukan untuk membuat pupuk bokashi kurang lebih 1 ton (Pupuk kandang 700 kg; Sekam padi 250 kg; Bekatul / dedek 50 kg; Dekomposer EM4 1 liter; Molase / gula cair 500 ml dan air sumur 500 ml).

Cara pembuatannya juga cukup mudah yaitu :

1. Sediakan tempat untuk fermentasi yang jauh dari air hujan dan terlindung dari sengatan sinar matahari langsung;

2. Siapkan air bersih dalam satu wadah kemudian campur dengan gula dan dekomposer EM4 kemudian aduk hingga merata;

3. Buat campuran pupuk kandang, dedek / bekatul, dan sekam padi dalam tempat yang telah disiapkan;

4. Siramkan larutan air, gula dan dekomposer kedalam bahan secara merata. Ciri cira campuran yang baik, bahan tidak mengeluarkan air apabila dikepal dan tidak mudah hancur bila dilepaskan. Dengan kata lain kelembaban sekitar 30 %.

5. Tutup campuran yang telah dibuat menggunakan karung goni atau menggunakan terpal. Diamkan fermentasi antara 1 sampai 2 minggu sambil menjaga suhu sekitar 450C. Apabila suhu melebihi 450C lakukan pengadukan agar suhu kembali turun kemudian tutup kembali seperti semula.

(By nuns)

 

 

Add comment

Security code
Refresh