ANDA BERADA DI: Depan Berita Penyuluhan Pertanian TILIK PETUGAS DINAS PERTANIAN JEMBATAN KOMUNIKASI - TEMUKAN SOLUSI

TILIK PETUGAS DINAS PERTANIAN JEMBATAN KOMUNIKASI - TEMUKAN SOLUSI

E-mail Cetak PDF

Konsep dan perencanaan yang baik tidak akan dapat dilaksanakan tanpa proses pendampingan dan pembinaan secara langsung. Demikian juga, dinas tidak akan bisa membuat program dan rencana yang baik tanpa pemahaman kondisi nyata di lapangan. Untuk memperpendek jalur komunikasi antara dinas dengan petani, kelompoktani, Gapoktan dan petugas di lapangan, Kepala Dinas Pertanian lebih banyak turun ke lapangan. Bertemu langsung, mendengarkan aspirasi dari petani dan petugas lapangan. Bahkan agenda rapat koordinasi UPTD Pertanian Terpadu yang biasanya dilaksanakan di kantor-kantor BPP, semuanya dilaksanakan di lapangan baik di rumah pengurus Poktan-Gapoktan maupun di rumah petugas pertanian. . Kegiatan itu sendiri diberi nama Tilik Petugas.

“Kita berharap program-program dinas baik yang jangka pendek maupun jangka panjang akan segera sampai ke para petani dan petugas di lapangan. Demikian juga, Poktan Gapoktan tentu juga memiliki rencana kegiatan sekaligus permasalahan yang dihadapi, kita berharap bisa lebih cepat mengetahui dan mencarikan jalan keluar apabila ditemukan ada masalah, “Kata Abah Syamto sapaan akrab kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.

Ternyata dengan pola seperti itu langsung mendapat sambutan positif baik dari petugas lapangan maupun dari para petani. Banyak persoalan segera dapat pemecahan. Sebagaimana pertemuan yang diselenggarakan di Gapoktan Jogoloyo, Kecamatan Sumobito. Sebagaimana diketahui, selain Kecamatan Kesamben, Wilayah Kecamatan Sumobito adalah sentra produksi Kedelai di Kabupaten Jombang.

Sebagaimana umumnya, harga kedelai akan jatuh saat memasuki musim panen. Inilah masalah rutin yang selalu dihadapi oleh petani. Hal ini salah satu permasalahan yang dibahas saat temu program wilayah Sumobito dan Kesamben yang dilaksanakan di rumah Ketua Gapoktan Jogoloyo H. Jauri. Ketika panen raya harga bisa jatuh beberapa saat kemudian harga naik justru saat petani sudah tidak memiliki produk lagi. Para tengkulaklah yang akhirnya mendapatkan keuntungan besar.

Dari hasil musyawarah antara dinas, petugas di lapangan dan perwakilan gapoktan, akhirnya tercetuslah upaya stabilisais harga kedelai dengan pola tunda jual ditingkat kelompok untuk kedelai. Tentu ini bukan hal yang terlalu sulit bagi Gapoktan Jogoloyo mengingat Gapoktan sudah memiliki gudang, lantai jemur dan modal untuk membeli hasil panen petani anggota. H. Jauri selaku ketua Gapoktan siap untuk mengoperasikan pola tunda jual di tingkat kelompok. Demikian juga petugas. Komitmen pun terbentuk untuk menjadikan Gapoktan Jogoloyo sebagai percontohan kegiatan tunda jual komoditas kedelai.  Sebuah bentuk penyelesaian masalah yang cepat manakala seorang pejabat mau lebih sering ke bawah mendengar aspirasi dan permasalahan yang dihadapi petani. “Kita akan segera siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan agar musim ini panen kedelai di Jogoloyo sudah bisa menerapkan kegiatan tunda jual, “kata Abah Syamto ditengah-tengah petugas dan pengurus Gapoktan.

Tidak hanya masalah pemasaran, persoalan budidaya juga lebih cepat mendapatkan solusi saat pejabat mau langsung turun ke petani. Sebagaimana diketahui, Kabupaten Jombang telah memiliki sistem distribusi pupuk yang handal. Hampir tidak pernah ada berita petani kesilitan pupuk. Namun di sisi lain, ketersediaan pupuk yang melimpah ternyata juga mendatangkan masalah baru. Petani jadi enggan membuat pupuk organik. Ini terungkap saat kegiatan Temu Program di Gapoktan Ngongri, Kecamatan Megaluh tepatnya di Rumah Sariyan, ketua Gapoktan Ngogri.

Zaini anggota kelompok ternak Desa Ngogri mengatakan melimpahnya pupuk pabrik justru membuat para petani terlena lagi. “Kenapa susah-susah buat pupuk organik, wong pupuk pabrik melimpah,” katanya. Zaini berharap Dinas tidak berhenti memotifasi para petani membuat dan memakai pupuk organik.  Selain membahas tentang pupuk, temu program di Megaluh juga membahas tentang kelambagaan HIPPA (Himpunan Petani Pengguna Air. Para Petani berharap kelembagaan HIPPA maupun G HIPPA bisa disatukan dalam lembaga Gapoktan untuk mempermudah administrasi dan operasional. “Kalau terlalu banyak lembaga jadi bingung, tarikannya juga dobel-dobel. Tapi kalau bisa dijadikan satu, iurannya juga bisa jadi satu. Jadi tidak ribet,” tambah Zaini.

Tidak hanya membahas persoalan yang dihadapi oleh petani, Poktan dan Gapoktan. Temu Program juga digunakan untuk membahas kinerja petugas lapangan. Kepala Dinas menandaskan perlunya kekompakan semua petugas dalam bekerja. “Kita berharap semua petugas bisa kompak, baik yang di kabupaten maupun yang dilapangan. Baik yang PNS maupun yang masih kontrak. Kalau kompak semua persoalan pasti ada jalan keluar,” kata Abah Syamto.

Menanggapi belum terbayarnya gaji petugas penyuluh lapangan kontrak, THL-TBPP, Kepala Dinas mamastikan akan ada jalan keluar. “Saya pastikan ada jalan keluar, agar bisa segera terbayar, akan segera dikoordinasikan dengan pihak-pihak. Dan untuk kedepan kita usahakan tidak sampai terjadi tunggakan gaji untuk para penyuluh kontrak,” tandas Kepala Dinas Pertanian.

Pertemuan BPP Koordinasi yang dikemas dalam bentuk tilik petugas di lapangan mendapat respon poistif dari para petugas lapangan. Wahid Rahmawan, SP dari BPP Diwek yang juga PLT kepala UPTD Pertanian terpadu Kecamatan Diwek dan Kecamatan Megaluh mengatakan dengan model seperti ini bisa meningkatkan silaturahmi sesama petugas dan sesama petani. “Kita juga bisa membahas persoalan petani langsung dilapangan. Lebih penting lagi, saat ada undangan bowoh juga bisa langsung tahu rumahnya,” kata Wahid.

Kegiatan tilik petugas yang dilaksanakan di rumah pengurus Poktan-Gapoktan tentu bisa bernilai lebih strategis. Disamping untuk meningkatkan mutu dan dimanika komunikasi juga bisa menjadi sarana untuk transfer pengetahuan yang efektif. Pertemuan bisa dilaksanakan di Poktan Gapoktan berprestasi sebagai sarana untuk transfer pengalaman. Namun juga, bisa dilaknsanakan di Poktan-Gapoktan yang masih tertinggal untuk mengetahui kondisi sesungguhnya dan memberikan jalan keluar untuk perbaikan.  “Kedepan rapat-rapat dinas akan kita usahakan bisa banyak dilaksanakan di Poktan atau di Gapoktan secara bergiliran. Saya juga berharap, petugas yang ada di Kabupaten lebih sering turun ke lapangan. Disamping bisa memantau dan mendampingi program yang sedang dijalankan kita juga bisa mengetahui problem secara langsung di lapangan, “ tandas Abah Syamto.
(Majalah Humus Edisi 34 Tahun IV 2013)

 

 

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh