TEMBAKAU AREAL MINIMAL KONTRIBUSI MAKSIMAL

Cetak

Kabupaten Jombang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil gabah-beras. Padi menjadi komoditas dominan yang ditanam di 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Luas tanam padi setahun mencapai 75.000 ha.  Selain padi, di Jombang juga berkembang tanaman tembakau. Tapi bukan merupakan komoditas dominan. Hanya ada di enam kecamatan. Di Utara Brantas antara lain Ploso, Kabuh, Plandaan, Ngusikan, Kudu. Sementara Selatan Brantas hanya ada di Kecamatan Bareng. Data tahun 2018, luas tanam tembakau sekitar 5.147 HA. Hanya 6 %  dari total luas tanam padi di Kabupaten Jombang yang mencapai 76.253 hektar.

Meskipun tembakau tidak dominan, ternyata nilai dan kontribusi pada perekonomian negara sangat besar. Berikut disajikan estimasi nilai ekonomi dari komoditas tembakau yang ada di Jombang. Untuk menggambarkan besarnya kontribusi petani tembakau sebagai sumber pendapatan negara.
Tahun 2018, luas tanam tembakau di Jombang mencapai 5.147 ha. Kalau produktivitas tembakau 11 ton/ ha. Maka akan dihasilkan daun tembakau basah 56.617 ton daun tembakau basah. Apabila rendemen 17 %, maka dihasilkan daun kering mencapai 9.625 ton atau 9.625.000 kg tembakau kering. Apabila semua 9.625.000 kg tembakau kering dijadikan rokok, maka akan dihasilkan kurang lebih 9.624.890.000 linting rokok. Jika seluruh rokok yang dihasilkan dikenai cukai Rp. 200 per linting, maka akan dihasilkan cukai senilai Rp. 1.924.978.000.000 (1,9 T). Satu koma sembilan trilliun.

Angka yang tidak kecil. Karena APBD Kabupaten Jombang Tahun 2018 sekitar 2,5 T. Bayangkan, petani tembakau Jombang di enam kecamatan ikut berkontribusi pada penerimaan negara senilai 1,9 Trilliun. Tentu saja, nilai ini tidak hanya dihasilkan dari budidaya tembakau. Melainkan dari proses industrialisasi tembakau alias pabrik rokok.  Pertanyaannya,  sudah makmurkah para petani tembakau sebagai pilar utama industri rokok sebagaimana besarnya kontribusi mereka pada perekonomian negara.

PAK PIE PLOSO TEMBAKAU UNGGUL ASLI JOMBANG

Petani Tembakau Jombang patut bangga memiliki tembakau varietas unggul lokal. Varietas Jinten dan Manilo. Masyarakat luas mengenal dua jenis tembakau itu dengan nama Pak Pie Ploso. Menurut Ir. Fathurrahman Peneliti dari Balittas Malang (Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat) di Jombang ada 35 vaietas tembakau lokal. Dari ke 35 varietas tersebut dua varietas jinten dan manilo adalah yang paling unggul. Ini dibutikan dari hasil uji yang dilakukan oleh (Balittas) Malang mulai tahun 2015 sampai tahun 2018, dari 35 varietas lokal yang ditanam di Jombang selanjutnya dipilih 10 varietas yang paling banyak ditanam. Dan diantara 10 varaietas tersebut kemudian diseleksi lagi, ternyata yang paling unggul sifat-sifatnya adalah tembakau varietas jinten dan manilo.

Karena keunggulannya, varietas jinten dan manilo banyak dicari oleh pabrik-pabrik rokok termasuk pabrikan besar. Tik Dewanto, petani tembakau asal Desa Bendungan Kudu, Jombang mengatakan kelebihan tembakau lokal diantaranya disukai pabrikan tembakau, untuk varietas manilo memiliki ketahanan terhadap cuaca panas maupun hujan asal tidak tergenang. Sementara untuk varietas jinten, disamping sebagai bahan rajangan juga bisa digunakan untuk bahan asepan bila daunnya besar.

Untuk meneguhkan posisi vareitas manilo dan jinten sebagai vairietas unggul lokal Kabupaten Jombang, saat ini sedang dalam proses uji multilokasi. “Setelah ujilokasi yang ketiga ini, kemudian akan kita paparkan di Kementerian Pertanian untuk untuk diajukan sebagai varietas unggul lokal dan mendapat sertifikat resmi dari menteri pertanian,” kata Ir. Fathurrahman. (Admin TI-Ploso)