AGROWISATA BELIMBING MOJOWARNO

Cetak

Untuk bisa duduk santai di tengah hamparan pohon belimbing sambil mencicipi segar dan manisnnya buah belimbing seperti foto di atas, kita tidak harus jauh-jauh pergi keluar jombang. Hanya berjarak 18 Km dari pusat kota Jombang, kita sudah bisa memetik dan menikmati segarnya buah belimbing langsung dari pohonnya. Tepatnya di Kecamatan Mojowarno, terdapat kebun belimbing seluas 4 ha, yang terletak di Desa Latsari sekitar 0,5 ha dan Desa Catakgayam seluas 3,5 ha.
Meskipun buah belimbing bukan buah kas Jombang, tapi potensi pengembangan buah tersebut sangatlah besar. Dari keinginan masyarakat serta ditunjang oleh kebijakan pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan cita-cita pembentukan kawasan Agrowisata belimbing bisa terwujud. Hal tersebut selaras dengan RTRW Kabupaten Jombang tentang pengembangan kawasan Agropolitan, terlebih di Kecamatan Mojowarno sendiri.

Penanaman belimbing di kecamatan Mojowarno dimulai tahun 2015 oleh para pejabat Muspida Jombang. Kemudian disusul penanaman dilahan pribadi oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, terdapat lebih dari 8.000 pohon, yang berfungsi sebagai penyangga kawasan utama agrowisata belimbing seluas 3,5 ha.

Keistimewaan buah belimbing sebagai tanaman agrowisata adalah buah ini tak mengenal musim alias bisa berbuah sepanjang tahun, tanaman ini bisa mulai berbuah sejak umur 1 tahun dari bibit sambung dan bisa panen hingga 4 kali per tahun. Sehingga pengunjung bisa menikmati buah belimbing kapanpun mereka datang. Terlebih pohon belimbing cocok di tanam di Jombang yang termasuk dataran rendah. Bibit yang ditanam di Mojowarno sebagian besar berasal dari Blitar dengan varietas Karangsari Merah yang terkenal memiliki bentuk besar, warna orange dan rasa yang manis.

Di desa Catakgayam sendiri telah di setting sebagai kawasan Agrowisata. Kebun belimbing seluas 3,5 ha tersebut dikelola oleh beberapa petani anggota Poktan Catakgayam I, dan rencananya akan berkembang lebih luas lagi. Dinas Pertanian Jombang tahun 2016 memberikan bantuan bibit belimbing kepada anggota Poktan Catakgayam I sebanyak 1.000 buah untuk dikelola di kawasan agrowisata tersebut.

Sarana-prasarana penunjang lain seperti akses jalan serta tempat parkiran pengunjung sudah mulai ditata, baik melalui dana swadaya para petani maupun dari program Dinas-Dinas terkait terutama dari Anggota POKJA Agropolitan.

Sebagai sarana penunjang dan daya tarik pengunjung, akan disediakan beberapa spot bagi penggila foto yang sedang menjadi trend dan menu wajib bagi kawasan wisata jaman now. Hal tersebut sangat penting supaya pengunjung merasa nyaman dan betah, sehingga mereka akan berkunjung kembali dan mempunyai kesan yang tak terlupakan, sehingga akan diinfokan balik ke masyarakat luas tentang agrowisata belimbing Mojowarno.

H. Subiono, salah satu pemilik kebun belimbing di Poktan Catakgayam I berharap kedepannya program pengembangan Kawasan Agrowisata belimbing ini akan sukses dan membawa berkah bagi warga sekitar. “ Dukungan sarana serta prasaran terutama perbaikan akses jalan sangat kami butuhkan untuk menunjang kawasan wisata ini “ kata Subiono. Petani juga bersedia menghibahkan tanahnya untuk pembangunan akses jalan di kawasan Agrowisata tersebut. Hal ini merupakan sinyal positip untuk bisa ditangkap dan direalisasikan oleh pihak-pihak terkait untuk mendukung pengembangan Kawasan Agrowisata tersebut.

Selain tanaman belimbing, lahan seluas 3,5 ha tersebut juga telah ditanami berbagai jenis buah lainnya, seperti buah pepaya, kelengkeng, pisang,. Sehingga pengunjung juga akan dimanjakan dengan aneka macam buah bergizi lainnya, yang juga bisa dinikmati di area wisata, tetapi jumlahnya tidak sebanyak buah belimbing.

Salah satu petani, Sofiatun, Desa Latsari menanam seluas 0,5 ha, khusus untuk produksi buah segar. Wanita yang akrap disapa mbak Sof ini termasuk petani belimbing yang mulai menanam belimbing sejak tahun 2015. Pada panen Raya di bulan Pebruari, Juni, dan oktober per minggunya beliau bisa panen hingga 8 kw. Sedangkan ketika diluar bulan tersebut bisa panen sebesar 50 kg tiap 3 harinya. Untuk pemasarannya, beliau tidak mengalami kesulitan, karena produk buahnya sudah cukup terkenal, dan sudah punya pelanggan tetap baik untuk dijual lagi atau di konsumsi maupun sebagai oleh-oleh.

Untuk bisa masuk di kebun milik bu Sofi, pengunjung tidak dipungut tiket masuk alias gratis. Pengunjung dipersilahkan memetik buah belimbing sendiri kemudian di timbang. Pemilik yang sangat ramah tersebut juga mempersilahkan kita untuk mencicipi buahnya. Harganya pun sangatlah terjangkau, dengan bermodalkan 8 ribu rupiah 1 kg buah belimbing bisa kita dapatkan. Apabila anda menginginkan buah yang jumbo hasil pilihan sendiri, kita cukup menambah 2 ribu dari harga normal, buah belimbing yang besar dan menggiurkan, sudah bisa kita bawa pulang.
” Kalau musim kemarau, kulit buah pecah sehingga akan menurunkan kualitas buah dan “ keluh Sofiatun. Hal tersebut sering terjadi di musim kemarau kalau terlambat dalam mengairi tanaman. Kulit buah akan kering dan pecah-pecah sehingga buah akan terasa agak masam. Untuk menghindari hal tersebut dianjurkan agar saat kemarau dilakukan pengairan secara kontinyu, jangan sampai tanaman kekurangan air, karena juga akan menyebabkan tanaman layu dan buah banyak yang rontok, apalagi panen raya juga akan terjadi di musim kemarau.

Lain halnya dengan Pak Sujud, pemilik kebun belimbing seluas 0,5 ha di desa Catakgayam yang saat ini mulai berbuah, berharap ada bantuan untuk perluasan pemasaran hasilnya. Selama ini pemasaran buah belimbingnya baru dipasarkan di masyarakat sekitar saja. Untuk  mengatasi masalah tersebut diharapkan terbentuk paguyuban petani belimbing sebagai wadah untuk bisa saling membantu dan berbagi ilmu, serta dukungan dari pemerintah dan dinas terkait untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh para petani. Inilah pentingnya bantuan berbagai pihak untuk mempromosikan kawasan agrowisata ini agar  masyarakat luas mengetahui dan berbondong-bondong mendatanginya. Tanpa adanya pengunjung, kawasan wisata tidak aka nada artinya.
Selain buah segar, untuk mendukung kawasan Agrowisata belimbing, juga disediakan produk olahan belimbing untuk oleh-oleh, diantaranya berupa sari buah belimbing, manisan belimbing, dodol belimbing dan selai belimbing. Produk olahan tersebut memanfaatkan buah belimbing sortir yang tidak layak dijual sebagai buah segar, sehingga semua hasil panen bisa dimanfaatkan. Disamping dua produk tersebut, kelompok wanita tani juga menyediakan olahan dari buah lain yaitu sari sirsat, sari salak, permen pepaya, kerupuk lele tahu, dll yang diproduksi oleh beberapa kelompok Wanita Tani Kecamatan Mojowarno. Berbagai pelatihan olahan belimbing dan buah lainnya juga sering dilakukan untuk menambah pengetahuan dalam pengolahan buah.

Saat ini juga sedang diupayakan bantuan alat pengolahan hasil untuk memperlancar kegiatan tersebut. Alat yang diajukan berupa peralatan pengolahan mulai dari kompor, panci, freezer serta alat pengemas cup sealer otomatis. Diharapkan dengan adanya alat yang lebih canggih dari yang dimiliki sekarang, bisa meningkatkan kualitas serta kuantitas produk yang dihasilkan.

Dengan peran aktif dari petani serta dukungan dari Pemerintah dan Dinas terkait, diharapkan Kawasan Agrowisata Belimbing di Kecamatan Mojowarno akan segera terealisasi, sehingga petani belimbing yang selama ini sudah merintis usahanya lebih bisa meningkatkan daya tarik dan daya jual produk belimbing yang di hasilkan, yang mana akan meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat di sekitar Kawasan Agrowisata tersebut. Tak lupa doa senantiasa mengiringi setiap usaha yang dilakukan agar semua selalu dimudahkan dan selalu dalam lindungan Alloh Yang Maha Kuasa, amiiiin.
(andFriends)