ANDA BERADA DI: Depan Berita Lembaga Binaan Dinas MEMANTAU KONTRAK KERJA

MEMANTAU KONTRAK KERJA

E-mail Cetak PDF

penyuluhanSetelah sosialisasi pada bulan Februari dan mulai operasional lapang di awal Maret 2010,  hasil kontrak kerja PPL sudah bisa dilihat hasilnya. Melalui 4 tim supervisi yang dibentuk oleh dinas, dilihat  sejauhmana kontrak kera berjalan sesuai target utama yakni terjadinya perubahan perilaku. “Seringkali kita terjebak pada situasi rutinitas dalam bekerja sehingga tidak muncul upaya dan inovasi, hal ini apabila terus berlanjut akan membawa pada kebekuan. Padahal situasi dan tantangan di lapang selalu berkembang. Kontrak kerja yang telah kita jalankan ini diharapkan mampu memecah kebekuan baik pada petugas maupun pada petani.” Kata Kepala Dinas.

Dalam kesempatan supervisi di BPP Tembelang (19/4/2010) Kepala Dinas menandaskan, yang paling penting dari pelaksanaan kontrak kerja adalah prosesnya harus dilakukan dengan pola yang benar. Apabila proses dan pola dalam membangun komitmen bisa dilalui dengan baik, selanjutnya hasil akan mengikuti. “Yang paling penting bukan berapa ton jumlah bokashi yang dibuat, berapa  ratus liter mol yang sudah disiapkan. Melainkan apakah pihak Kecamatan, perangkat desa,  dan sebagian besar (60 %) anggota kelompoktani sudah memahami kontrak kerja selanjutnya terbentuk komitmen bersama” lanjut Suhardi.

Terbentuknya komitmen ditingkat kelompok inilah inti dari kontrak kerja. Apakah anggota kelompoktani sudah mengerti maksud kontrak kerja, apakah sudah memahami kewajiban dan konsekuensi dari kontrak kerja, apakah sudah terbangun komitmen bersama melalui musyawarah anggota kelompoktani dan bagaimana cara merealisasikan target yang sudah disepakati bersama. “ Proses membangun komitmen ditingkat kelompok dan perangkat ini harus benar-benar dilalui, kalau belum maka harus diulang” Kata Suhardi menegaskan pengertian komitmen. 

“Dengan kontrak kerja diharapkan akan mulai terbangun kebiasaan bekerja dengan tujuan, strategi dan hasil yang jelas yang dimaksud hasil yang jelas adalah semuanya bisa diukur dan dievaluasi,” lanjut Kepala Dinas.  
Dari tim yang melakukan supervisi didapat satu kesimpulan bahwa secara umum kontrak kerja sudah mulai berjalan di tingkat kelompok akan tetapi masih perlu perbaikan. Perbaikan ini bukan hanya pada petugas dan pekerjaan di daerah akan tetapi juga pada petugas di dinas. “Kami menyadari sepenuhnya bahwa yang kami lakukan di dinas juga masih perlu pembenahan dan peyempurnaan baik pada penjelasan kontrak kerja, format blangko maupu mekanisme kontrol dan pelaporannya. Untuk itu kita akan segera membenahi semuanya” Papar Saufi Afnan. Koordinator PPL sekaligus ketua tim Supervisi kontrak kerja.

Terlepas dari sana-sini kekurangan yang terjadi beberapa upaya dan inovasi petugas di lapang sudah dapat dirasakan manfaatya oleh petani. Sebagaimana yang terjadi di kelompoktani Bangunrejo, Kecamatan Mojowarno. Kalau pada umumnya PPL mengambil kelompoktani yang dianggap paling mudah dan paling kooperatif  sebagai kelompok yang dimasukkan dalam kontrak, Warsan salah satu PPL Kecamatan Mojowarno melakukan pendekatan yang berbeda. Dia justru memasukkan kelompoktani yang dipandang sulit dan masih minim kegiatan. “kalau kelompoktani sudah jalan buat apa dimasukkan kontrak. Pekerjaan kita akan lebih terlihat hasilnya kalau diterapkan pada kelompoktani yang masih belum jalan.” Katanya memberikan alasan.

Upaya Warsan membuahkan hasil. Kelompoktani yang semula dianggap sulit  dibina telah merasakan manfaat penyuluhan yang dilakukan oleh Warsan. Hal ini diakui oleh Sutaji anggota kelompoktani Bangunrejo setelah menerapkan SRI yang disuluhkan oleh Warsan. Padi bibit muda, ditanam dangkal iwir tumbuh lebih baik.  “Ketingale Greget sauté kok pun ketingal, tiang-tiang seng sakderenge nyemoni saniki podo tertarik nandur kados ngeten” ungkap Sutaji menanggapi tanaman SRI nya yang lebih cepat nglilir.

Hal senada juga diakui oleh Sofwan Ketua Poktan Bangunrejo, semula dia meragukan jarak tanam lebar bisa memberikan hasil yang lebih baik. Namun setelah mendapatkan bimbingan dari PPL padinya ternyata memberikan anakan yang lebih banyak. “Nek manak terus ngeten, jarak tanam 25 x 25 kurang wiyar pak, musim ngajeng kedah jarak 30 x 30 mangke sing tandur saget  dilatih ten nggen kulo”  kata Sofwan.

Disamping mengenalkan SRI sebagai cara budidaya padi, Warsan juga telah berhasil menggerakan kelompok binaannya untuk menggunakan bokashi, MOL dan Pesnab. Pada saat supervisi di Bangunrejo (12/4/10) juga terlihat beberapa belalang yang mati setelah sehari sebelumnya disemprot dengan Pesnab yang mereka buat sendiri.   

Di Kecamatan lain kontrak kerja juga sudah menumbuhkan hasil.  Berjalannya Kontrak Kerja di Mojowarno hanyalah sepenggal kisah sukses PPL dalam mendampingi kelompoktaninya. Di Kecamatan lain titik-titik keberhasilan itu juga sudah bisa dinikmati oleh para petani.
”Dari hasil evalusai kontrak kerja di MK 1 ini akan kita jadikan dasar untuk menyempurnakan mekanisme kontrak kerja baik yang di Kabupaten maupun pelaksanaannya di Kelompoktani” Kata Kepala Dinas mengakhiri pembicaraannya bersama Humus. (AJM)

 

Add comment

Security code
Refresh