REGENERASI PERTANIAN

Cetak

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dimana, kegiatan agrikultur merupakan  45% dari matapencaharian warganya.

Namun, masa depan pertanian bangsa ini sedang mengadapi persoalan cukup serius pada keberlanjutan dan regenerasinya. Alih fungsi lahan sepertinya tidak bisa dibendung. Setiap tahun tidak kurang dari 100 ribu hektar lahan pertanian berubah fungsi menjadi kegiatan luar pertanian. Dan, sampai saat ini belum ada mekanisme yang mampu menghambatnya. Daya tarik sektor ini juga semakin sepi peminat. Fakultas-fakultas pertanian sepi peminat.  ESEMKA pertanian sepertinya “terpaksa” harus dibuka sebagai ganti sekolah ESPEMA yang sudah tidak bersisa. Murid-murid TK pun bila ditanya, “kalau besar mau jadi apa…?” jawabnya : jadi guru, jadi insinyur, jadi dokter, jadi tentara, jadi pulisi. Kok gak ada yang bilang jadi petani..?bisa jadi ini karena kabulnya harapan orang tua mereka, yang mungkin berdoa : “Gustialah, mudah-mudahan anak-anakku tidak sengsara seperti aku,”kata Bapaknya si petani yang sawahnya tidak lebih dari  0,3 Hektar.

Pertemuan para petani biasanya didominasi oleh wajah-wajah tua. Bahkan, dalam kegiatan yang berlabel pemudatani pun, bapak-bapak yang renta itu kembali terlihat. Yaa, para pemuda memang lebih tertarik pergi ke kota bekerja di pabrik-pabrik yang setiap bulan pasti bawa bayaran dan beruntung kalau pas banyak lembur.

Sementara, tuntutan akan ketersediaan pangan terus meningkat. Bahkan, konon tingkat konsumsi beras kita termasuk yang tertinggi di dunia (140 kg/kapita/tahun), dan, ternyata belum ada  jurus yang benar-benar ampuh untuk bisa menguranginya.  Yaa…kita dihadapkan pada persoalan kebutuhan pangan yang terus meningkat, sedangkan lahan untuk memproduksi pangan semakin tergerus. Generasi yang akan melanjutkan kegiatan pertanian juga harus berlomba dengan trend industrialisasi.

Apa yang dilakukan Sekolah Taman Kanak-Kanak, TK IV/49  Jombang, mungkin bisa jadi inspirasi menghadapi kegalauan masa depan pertanian. Mencoba mengenalkan bagaimana setiap hari bisa tersedia makanan. Semula mereka ragu harus berkubang dengan lumpur yang kotor. Tapi naluri anak lebih kuat. Jadilah mereka menikmatinya bermain dengan lumpur. Mulai dikenalkan dan tahu bagaimana padi di tanam kemudian menjadi beras sampai jadi nasi yang seperti mereka makan. Menurut penuturan Anasrul Hakim PPL yang menjadi pendamping TK IV/49  Jombang, para guru berencana akan mengadakan secara reguler kegiatan pengenalan pertanian pada anak-anak TK.  Semoga kelak ada beberapa diantaranya yang kemudian benar-benar akan terjun ke sawah. Menjadi petani pengusaha yang tangguh. Yang tidak sekedar meneruskan usaha karena tidak adanya pilihan lain. Semoga….
(AJM)

Sumber : Humus Edisi 21 Bisa Didownload Disini