ANDA BERADA DI: Depan Berita Kelompok Budaya Kerja PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN INDONESIA MASA DEPAN (EDISI MBAH SULUH BAG. 1)

PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN INDONESIA MASA DEPAN (EDISI MBAH SULUH BAG. 1)

E-mail Cetak PDF
mbahTelah banyak program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Jombang dalam melaksanakan pembangunan pertanian, khususnya di Kabupaten Jombang. Berbagai konsep dan inovasi digulirkan guna mempercepat dan mempermulus jalan mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Gerakan MOL, budidaya padi model SRI, LKMA, dan pengembangan teknologi informasi hanyalah sebagian kecil saja dari konsep-konsep dan inovasi-inovasi yang telah dilaksanakan. Namun demikian, dalam berbagai diskusi atau dialog saya dengan teman-teman petugas pertanian, pengurus kelompoktani ataupun petani sendiri, diakui atau tidak masih terdapat kesenjangan informasi dan kepemahaman terhadap konsep/inovasi yang sedang atau telah dijalankan. Saya sendiri (karena keberuntungan) cukup sering berdiskusi dengan pimpinan dan merasa cukup gamblang tentang gambaran apa yang menjadi tujuan, sasaran dan strategi pencapaiannya. Dan saya merasa, informasi yang sama juga diberikan kepada seluruh pemangku kepentingan dalam berbagai acara sosialisasi dan koordinasi. Lebih lanjut berbagai konsep dan inovasi itu telah dijelaskan dalam tabloid Dinas Pertanian “Humus”. Ada yang salah, tapi apa? Dimana? Kenapa?

Dalam kebingungan, saya mencoba berpikir lebih dalam (mungkin lebih tepat merenung) untuk mencari jawaban itu semua, karena saya berkeyakinan bahwa pembangunan pertanian akan berjalan lebih cepat dan baik jika semua stake holder dapat bersinergi. Dan sinergi hanya dapat terjadi jika telah terbentuk kesepemahaman diatara semuanya.

Dan dalam pengembaraan pikiran saya, sampailah saya pada titik tanya jawab, dimana seolah-olah saya sedang berdiskusi/dialog dengan seseorang (imajiner) yang sangat bijaksana dan begitu memahami konsep/inovasi Dinas Pertanian. Dan saya merasa dengan model diskusi/tanya jawab, lebih memudahkan saya untuk memahami sesuatu. Oleh sebab itu, melalui forum website Disperta Jombang ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang diskusi (sekali lagi, imajiner) yang kami lakukan.

Saya memahami bahwa seseorang (tokoh imajiner) itu, sebut saja “Mbah Suluh” hanyalah refleksi dari saya sendiri (pengetahuan dan pemahaman pribadi) yang pasti tidak sempurna. Oleh karenanya akan sangat membantu jika semua pembaca mau untuk ikut berdiskusi, atau setidaknya berkomentar mengenai tulisan-tulisan yang akan saya sampaikan.

Episode yang perdana ini bertema pada apa yang seharusnya menjadi pangkal pemikiran bagi setiap gerak dan kegiatan seluruh aparatur Dinas Pertanian Kabupaten Jombang dan segenap stake holdernya, yakni Visi Dinas “MENUJU BUDAYA PERTANIAN ORGANIK TAHUN 2013”

PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN MASA DEPAN
Sore itu saya lihat Mbah Suluh agak berbeda, dia tampak bersungut-sungut, tidak tampak ramah seperti biasanya.

“Kenapa, Mbah?” tanya saya, sedikit menggodanya.

Mbah Suluh: “Hei dik, gak ada apa-apa, hanya heran saja lihat orang tega menggunakan bahan kimia berbahaya untuk membuat makanan yang dijual, mementingkan diri sendiri saja."

Saya: “Beras yang jadi bahan pangan kita juga mengandung residu bahan kimia berbahaya lho Mbah, asalnya dari pestisida dan pupuk kimia, juga hasil produk pertanian yang lain, tidak aman.”

Mbah Suluh: “Ha ha ha, iya, sama saja itu menjual produk beracun. Dinas Pertanian sudah benar menetapkan visinya, agar pertanian di Kabupaten Jombang sudah berbudaya pertanian organik di tahun 2013, tidak sekedar agar bisa menghasilkan produk yang aman bagi kesehatan, tapi juga untuk menjaga lingkungan”.

Saya: “Tapi ada masalah, lahan-lahan pertanian kita sudah terbiasa dengan pupuk kimia, BO-nya rendah, jika harus pertanian organik bisa tidak makan kita, hasil produksinya pasti menurun, organik harusnya  harga mahal, tapi jual kemana? Susah, harus pake sertifikat. Jangan-jangan pertanian organik bukannya memberi solusi tapi hanya akan menambah persoalan baru, nggih tho Mbah?”

Mbah Suluh menghela napas, sedikit tersenyum (menurut saya menahan tawa), nyruput kopi dan berkata: “Sampean itu cupet, males berpikir, tapi arogan. Cobalah banyak membaca, agar terbuka wawasan. Berpikirlah lebih bebas, jangan pandang persoalan secara parsial, tapi harus komprehensif. Pertanian organik itu pada hakekatnya adalah niat baik, niat baik petani dan pemerintah dalam:
1.    Menyediakan bahan makanan yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia
2.    Menyediakan lingkungan yang sehat bagi seluruh masyarakat
3.    Mewariskan lahan-lahan pertanian yang subur bagi generasi yang akan datang
4.    Meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya”.

“Nah, jika pertanian organik adalah 4 niat baik itu, apakah pertanian organik itu harus mahal? Harus kecil produksinya?” Lha… kok malah bertanya, setelah bicara panjang x lebar x tinggi. Orang yang aneh.

“Ya…..  tidak.” Jawab saya setengah hati, karena dalam pikiran saya, itu hanya retorika, meskipun secara logika saya akui kebenarannya.

Mbah Suluh: “Iya itu….. iya, dan tidak itu… tidak. Jangan jadi bingung sendiri, ajak-ajak saya dong, ha ha ha. Coba kita bahas satu demi satu, No 1 dan 2 saya pikir cukup jelas, sebagai produsen kita wajib untuk menghasilkan produk yang aman jika dikonsumsi, jangan jual makanan beracun. Juga dalam proses produksinya harus ramah lingkungan, jangan justru mencemarinya. Teknologi organik sangat tepat, minim bahan kimia berbahaya, ia menekankan pada keseimbangan lingkungan. ”

“No. 3 berarti dengan memanfaatkan teknologi organik dalam budidaya pertanian, kita tidak sekedar mengolah lahan, tapi lebih dari itu, kita mengelola lahan sehingga lahan dapat terjaga keseimbangan ekologinya bagi pertanian yang berkelanjutan. Anak cucu kita jangan diwarisi lahan tandus dan gundul, ini bukan lahan kita, tapi titipan anak cucu kita.”

“Yang ke-empat berarti Konsep pertanian organik tidak boleh melepas dua hal besar, yakni ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani, Oleh sebab itu, penggunaan teknologi organik tidak boleh menurunkan produktivitas, tetapi justru harus meningkatkannya. Bagaimana kita meningkatkan kesejahteraan petani jika pendapatannya kita turunkan dengan menurunkan produksi? Ha ha ha. Kita semua tentu paham bahwa tanaman itu dapat berproduksi dengan baik jika lingkungannya mendukung. Nah, itu yang menjadi tujuan, yaitu tercapainya kondisi lingkungan lahan (baca: ekologi lahan) yang mendukung bagi berproduksinya tanaman secara optimal. Menurut saya pertanian organik di sini tidak berarti kita meninggalkan sepenuhnya bahan kimia (pupuk dan pestisida), tetapi berupaya untuk tidak tergantung padanya.”

“Bagaimana dik, paham apa yang saya maksud?” tanya Mbah suluh, agak mengagetkan saya karena gelombang- gelombang elektrik di syaraf otak saya masih berusaha menterjemahkan cerita panjang lebarnya.”

Saya: “ Kenapa produk pertanian yang memanfaatkan teknologi organik tidak boleh mahal, Mbah?”
Mbah Suluh: “Bukannya tidak boleh, tapi tidak harus mahal, apalagi sertifikasi, tidak nyambung, bahkan jika saya boleh berpendapat (seakan dari tadi tidak berpendapat), menurut saya harus murah agar terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, jangan hanya orang kaya yang dapat bahan makanan sehat. Jika kemudian masyarakat menghargai usaha kita dengan harga yang sedikit diatas pasaran, anggap saja itu bonus. Jika yang beli orang Amerika, Singapura atau Jepang, bolehlah mahal sedikit. Ha ha ha…..”

Orang tua itu tiba-tiba saja menghilang sebelum tawanya habis dan saya dikagetkan dengan bunyi garang klakson bus antar kota di belakang. Mungkin ia menganggap saya jalan terlalu ke tangah. Wah… Wah, berbahaya sekali. (JL/Posko)

 

Comments  

 
#1 eko aryanto 2011-12-24 13:33
bgus bngetttt....! bisa jadi wawasan baru buat saya..
 
 
#2 RD 2012-04-10 10:38
Gut gut gut
 
 
#3 RD 2012-04-10 13:40
Gut
 
 
#4 SYAH RIA REZA, SP.MM 2012-09-25 15:29
sangat bagus, sangat setuju.bisa buat bahan referensi untuk website terbaru saya. jombang jaya
 

Add comment

Security code
Refresh