SISTEM TUNDA JUAL, ALTERNATIF SOLUSI TERJALNYA FLUKTUASI HARGA GABAH (MBAH SULUH EDISI 7)

Cetak

Kali ini Kabupaten Jombang punya gawe besar dengan adanya PEDA (Pekan Daerah) KTNA Jatim 2013.  Setelah disibukkan masa persiapan beberapa bulan terakhir, kali ini saya sempatkan diri menyapa seluruh pembaca setia rubric Mbah Suluh.  Ketika kita menjumpai sesuatu, maka Tuhan pastinya akan melihat reaksi kita.  Apa yang kita fikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan akan dinilai Tuhan sebagai amalan kita.  Edisi ini saya akan bercerita tentang pengalaman dalam pendampingan peserta PEDA (Pekan Daerah) KTNA Jatim 2013.  PEDA, yang biasa disebut oleh petani-nelayan dimana mereka tergabung dalam  Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) adalah pertemuan antara pengurus/ anggota 4 tahunan. KTNA memiliki jaringan organisasi secara nasional yang mengakar hingga tingkat desa.  Organisasi ini sangat strategis mengingat para tokohnya memiliki kapasitas yang bisa dihandalkan dalam pembangunan pertanian di Indonesia umumnya.

PEDA kali ini dilaksanakan dengan konsep yang berbeda dari sebelumnya.   Kegiatan ini dilakukan tidak hanya musyawarah dalam rangka membahas isu strategis, tetapi PEDA yang diadakan di Kabupaten Jombang ini melibatkan sekitar 1.000 petani anggota KTNA Jatim dimana seluruh peserta bisa belajar bersama dalam 10 klaster komoditas yang tersebar di wilayah Kabupaten Jombang.  Mulai dari klaster Buah, Klaster Hortikultura, Klaster Sapi, Klaster Kambing, Klaster Domba, Klaster agribisnis Padi, Klaster Tembakau, Klaster Lele dan Klaster Agens hayati serta klaster itik selain berbagai kegiatan di tingkat kabupaten.  Para peserta bisa memilih tergabung dalam klaster sesuai dengan bidang yang digelutinya.  Dengan demikian, harapannya 3 sukses yang ingin dicapai yaitu, sukses alih pengetahun teknologi dan informasi, sukses bangun kelembagaan dan jejaring agribisnis serta sukses tumbuhkan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian bisa terwujud. 

Dari sini peserta bisa saling berinteraksi, berdiskusi tentang permasalahan multi aspek yang dialami.  Hal ini menjadikan suasana setiap pertemuan di klaster terlaksana dengan sangat “gayeng” dari hampir seluruh klaster yang saya kunjungi. Bukan berarti tuan rumah bermaksud menggurui, akan tetapi cenderung memfasilitasi jalankan dinamika kegiatan yang diharapkan bisa mengurai permasalahan yang dihadapai petani. 

Ketika saya hendak melihat langsung kegiatan klaster secara acak, ternyata ada kontingen dari Kabupaten Magetan yang juga ingin melihat klaster secara keseluruhan.  Mereka adalah peserta pendamping yang terdiri dari para petugas di kecamatan.  Setelah berkeliling di beberapa klaster, agenda kunjungan kamipun berjalan kurang lancar, terlambat.  Memang asyik berkumpul bersama dan bertukar pengalaman sesama petani  hingga kami larut dalam kegiatan klaster.  Tapi rata-rata peserta senang karena bisa saling bertukar teknologi dan informasi.  Menjelang siang hari telah tiba, baru 2 klaster yang baru kami kunjungi.  Setelah kami terlena pada Klaster Lele milik P. Amrozi, kami meluncur ke klaster Agens hayati milik P. Wagi. 

Disana kami langsung beranjak menuju musholla dekat lokasi.  Yaaaa.. sekitar 200 meteran lah… Setelah kami berjama’ah gelombang pertama, duduklah saya di teras musholla.  Air wudlu terasa masih segar ditubuhku.  Memang terbatasnya kapasitas musholla membuat kami harus bergilir sholat hingga melenakan aku untuk sejenak menikmati kekosongan waktu.  Sejuk memang suasana disana.  Musholla desa membawa saya benar-benar menuju ketengan tersendiri.  Jauh dari kebisingan, hiruk pikuk aktifitas pekerjaan.  Hanya 3 ibu-ibu yang saya temui sekitar musholla sedang sibuk menangkap kutu rambut rekannya saling bergantian.  Ingin rasanya kamera membidiknya, tapi saya takut sandal jepit akan melayang di mukaku.  Heeee…..

Angin semilir siang hari membawa saya bersandar pada dinding yang belum terlapisi semen dengan halus.  Kasar, tapi tertutupi dengan nyamannya suasana desa.  Diiringi suara kicau burung kecil hinggap kian kemari dari ranting ke ranting.  Bersahutan seolah saling bercerita tentang apa yang dialami. 

Begitu damainya hati larut dalam suasana nan asri.  Rasanya ingin kurebahkan tubuh ini ke lantai.  Hendak kuturuti nafsu ini, tapi Ataghfirulloh… Maaf, Bau “Tai Lentung” menyengat di hidungku.  Untung tidak sampai kena.    Saya segera beranjak dari tempat duduk dan melihat sesekali ke beberapa tempat lain.  Memang banyak ayam yang bebas berkeliaran di sekeliling musholla ternyata.  Jadi sangat dimungkinkan jika mereka buang kotoran sembarangan apalagi didalam musholla, jika pintunya tidak tertutup rapat.  Kesimpulan saya, jika bangun musholla di daerah dimana masyarakat sekitarnya memiliki ternak ayam, maka prioritaskan pembangunan pintu dan pagarnya. 

Ketika saya beranjak berdiri, saya melihat sosok paruh baya sedang menjemur gabah di halaman.  Meski rumah sederhana, suasana asri dan tenang menyelimuti keluarga kecil yang terlihat telah lama akrap dengan tanaman itu.  Sang istri dengan senyum manisnya mengiringi canda tawa sang suami yang sibuk mengamati burung pipit sedang mencicipi hasil panen di atas terpal.  Sang suami pun sesekali segera mengusir burung pipit sambil tersenyum dan menengok sang putri belajar berdiri.  Terlihat gemuk dan sehat sang buah hati.  Meski dengan mainan seadanya, raut ceria tetap menyelimuti wajah lucunya. 

Kaki saya tergerak untuk menghampiri keluarga kecil bahagia itu.  Saya terobos pagar pembatas dari tanaman semak yang ada.  Ada beluntas, kemangi dan beberapa tanaman sayur lain.  Dalam hati saya, jika seluruh masyarakat bisa memanfaatkan lahan pekarangan dengan baik, saya kira tidak akan ditemui lahan yang tidak menghasilkan.  Lantas bagaimana kita bisa dikatakan miskin.  Sambil menghampiri mereka, rasanya sulit terucap banyak hal yang ada dibenak.  “Monggo” ucapan lembut menyambut kedatangan saya dengan ramah dan senyum.  Sayapun membalas dengan senyum seluruh anggota keluarga tersebut.  Istimewa rasanya saya disambut dengan ramah disana. Dengan topi yang sudah tidak baru lagi saya katakan, dicucipun serasa sudah lama dilakukan.  Tapi memang disitu terlihat kesederhanaan yang mencerminkan keberkahan.  Rejeki yang halal, jika dibelikan barang apapun akan awet dipakai (dalam hatiku berkata).   Sayapun duduk di kursi depan rumah tempat si Adek belajar berdiri.

Dengan suasana sederhana ini, saya temukan kebahagiaan yang terpancar dari semua keluarga.  Hal ini memperkuat keyakinan saya, bahwa kebahagiaan tidak hanya ada di gedung-gedung, rumah mewah ataupun di tempat megah lain.  Allah berikan pada siapa saja yang Ia kehendaki.  Apalagi jika rejeki yang terlimpahkan “halal dan toyib” pasti akan membawa keberkahan, begitu umat muslim mengatakan.

Dari inspirasi ini, perlu kiranya Mbah Suluh mengupas tentang penanganan pasca panen dimana fluktuasi harga komoditas pertanian terutama padi sangat tinggi yang sering menjadi masalah petani.


SISTEM TUNDA JUAL, ALTERNATIF SOLUSI TERJALNYA FLUKTUASI HARGA GABAH

Siang yang terik, cukup menyengat memang kala itu.  Terlihat Mbah Suluh sedang berjalan menyusuri pematang sawah.  Setelah tutup tanam di hamparan sawahnya, Mbah Suluh tetap rajin mengunjungi satu-satunya sumber penghasilan keluarganya itu.  Menerapkan prinsip PHT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) yang kedua.  Pengamatan rutinlah yang dilakukan.  Dimulai dengan turun ke sawah dan memilih sampel rumpun padi yang ingin diamati.  Selanjutnya, pengamatan dilakukan dengan mendata hewan apa saya yang berasa di bagian atas tanaman.  Biasanya Mbah Suluh mencatatnya secara langsung.  Apa saja yang ada disana sekaligus berapa jumlahnya.  Setelah itu, Mbah suluh melihat hewan apa saja yang ada di pangkal tanaman.  Dia catat pula.  Selanjutnya mengoyak tanaman dalam satu rumpun tersebut, hewan apa saja yang ada ditengah tanaman. Beberapa rumpun sudah di “iyak iyak” sama Mbah Suluh.  Tak lupa catatan hasil pengamatan dia lipat di masukkan ke saku dengan pulpen hitam melekat pada kemeja coklat kesayangannya. 

Terik matahari membuat Mbah Suluh tergiur dengan “WTS” orang bilang.  Warung Tengah Sawah maksudnya.  Memang di pinggir jalan dekat lapangan tak jauh dari lahan Mbah Suluh terdapat warung yang rasanya tidak kalah dengan warung-warung dipusat keramian.  Karena tidak terkena retribusi maka, Mbok Tiwi bisa banting harga, panggilan akrap nenek yang sudah hampir 12 tahun jualan disana.  Tak jarang Mbah Suluh meluangkan waktunya ke warung Mbok Tiwi hanya sekedar ingin nyamil dan bertemu dengan tetangga  lahannya. 

Pematang sawah penuh rumput seolah akrap menyambut kedatangan Mbah Suluh.  Dengan keringat sedikit membasahi bajunya, Mbah Suluh melepas topi putih yang lumayan masih bersih terawat.  Topi pemberian sang putranya yang bekerja di Surabaya ternyata menjadi hal sangat berarti bagi Mbah Suluh.  Anak Mbah Suluh bekerja di salah satu BUMN sudah hampir 20 tahun.  Dari situ saya bertambah keyakinan, rejeki yang dihasilkan petani seperti Mbah Suluh akan membawa berkah dan manfaat. Karena dihasilkan benar-benar dari keringat, halalan toyyibah orang muslim mengatakan.  Model rejeki kaya ini, di belikan baju akan awet, di buat makanpun mengenyangkan dan mudah jadi daging dan untuk biaya sekolahpun akan dibalas dengan ilmu yang manfaat.  Semoga ini menjadi pelajaran kita semua.

Meski Mbah Suluh senang dengan barang yang diberikan Putranya, Beliau tidak mau anaknya memberikan sesuatu yang terlalu padanya.  Rumah Mbah Suluh yang sederhana pun ingin direnovasi oleh putranya, tetapi dilarangnya.  Lebih baik diarahkan untuk membangun Yayasan Yatim Piatu yang lama diimpikan putranya. 

Selanjutnya, sampailah Mbah Suluh ke puntu Warung Tengah Sawah itu,
Assalamualaikum, sapa Mbah Suluh sambil mengibaskan topi putihnya mengurangi gerah tubuh yang menerpa.  Wa’alaikum salam Mbah.. sambut Mbok Tiwi dengan ramah.  Ternyata disana juga ada Kang Udin yang sedang menikmati Es Cendol….

Kang Udin    : Wa’alaikum salam Mbah… Mari-mari, disini Mbah… Es Cendol e mantep Mbah…
Mumpung stok masih ada Mbah.. (Kang Udin menata duduknya, garuk-garuk bokong yang mungkin sudah mulai panas. Memang sudah dari tadi akrap dengan “lincak” warung dari papan kayu Jati dimana sekarang sudah langka ditemui)

Mbah Suluh    : Eh, Kang Udin… Iya panas sekali e… Tapi saya Es Dawet saja Mbok… Kalo pengen Cendol, tak srupute Gelasnya Kang Udin. Hahahhaaaa…. (sambil bersihkan tempat duduk yang terdapat rontokan tepung goreng bekas jajanan.  Lantas Mbah Suluh duduk di samping Kang Udin dan menepuk pahanya.)

Kang Udin    : Hahahaaaa…. Saya juga bisa incip Es Dawet e Mbah Suluh juga kayake ini… hahahahaha… Keduanya tertawa sambil batuk-batuk kecil.. (uhuk uhuk uhuk…)

Mbok Tiwi    : Sudah-sudah…. Sudah tua guyone jangan “memel-memel”. Ingat umurrrr… Heee….. (Sambil Mbuatkan Es Dawet untuk Mbah Suluh)

Mbah Suluh, Kang Udin    : Hee..e..e…. (sambil terlihat gigi Kang udin yang sudah banyak mulai guguh alias pupak alias bogang alias gigis, eeeeh gigis lain ya… hee…)

Mbah Suluh    : Iya Mbok, poleh pengen siap-siap terus ini.. hee…. (Guyon garing ala Mbah Suluh, sambil meletakkan topi ke meja dekat teh gelas yang tersedia berjajar.  Dalam hati, Mbah Suluh, wah wah wah… Kang Udin giginya sudah banyak yang tanggal, bisa jadi rontokan tepung goreng tadi, bekase Kang Udin yang tidak sempurna nggigit pisang goreng. Hihihi…. Dalam hati!!!!.)

Kang Udin    : Hemmmm… Iya… Eh, Mbah, hati-hati topinya ketumpahan teh lho…. Masih putih gitu e.. hee…

Mbah Suluh    : Iya, putih Kang… Untung bajune gak putih ki… Kalo Putih juga, disawah bisa di bidik anak-anak pake senapan angin, dikira Bangau…. Heheheeee….
(Sambil Mbah Suluh menata duduknya, kedua kakinya saling bergosok. Bekas tanah sawah yang mulai kering membuat kulit kaki Mbah Suluh agak kaku)

Kang Udin    : HahahaaaaaaaeeeePP!!!!.... (sambil menutup mulutnya) Maaf Mbok, ingat sudah udzur saya sekarang. Hee…… (lantas Garuk-garuk lutut… hmmmmm.. padahal gak ada tanda-tanda panu atau kadas atau kurap atau lainnya sebenarnya.  Mungkin melintasi pematang sawah terkena “putri malu” atau bulu rumput bergoyang)

Mbok Tiwi    : heee…. Ya nggak segitunya to Kang… (Mbok Tiwi sambil ngambil cairan gula yang diencerkan untuk campuran Es Dawet Pesanan Mbah Suluh.  Segera Es Dawet disuguhkan ke Mbah Suluh)  Ini Mbah, silahkan…
Semua larut dalam canda yang terkesan pesertanya tokoh klasik, generasi masa lalu yang sedang reuni dengan jamannya dulu..

Mbah Suluh    : O iya Mbok, gulanya sedikit kan.., kasihan jenengan, BBM belum naik, ternyata sembako sudah pada naik harganya.  Heee….

Mbok Tiwi    : Ini gulanya sudah saya kurangi Mbah, biasanya kan gitu…. Kalo kemarin alasannya kan takut rendemen nya tinggi, sekarang lain lagi. Heee….

Mbah Suluh    : Wah kalah telak saya sama “sampean” mbok…. Ketahuan kalo alasan aslinya itu. Hee…

Kang Udin    : Iya yo Mbah…. Harga-harga hasil pertanian kok gitu ya… Tinggi, tapi petani gak bisa merasakan secara langsung.  Apalagi harga gabah, yang kita rasakan sendiri. Meskipun memang banyak kemajuan dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi petani kita kok masih tidak punya daya di hadapan tengkulak.
Plokkkk!!!.... (Tangan kiri Kang Udin reflek menepuk semut yang melintas di leher belakangnya)

Mbah Suluh    : Semute pengen pisang gorenge Jenengan Kang. “Lha iki tunggale”.  Hee….. (Sambil melihat tempat duduk, waspada serangan semut berikutnya.  Soalnya semut merah, sakit juga gigitannya)
Wah ini diskusi berat kayaknya… (Agak menggeser duduknya) hemmmm…

Kang Udin    : Lha memang masalah pasca panen itu yang dihadapi petani e Mbah… (Ngunyah Pisang)
(Semua ngomongnya pada“ndakik”soale sering diskusi tentang pertanian dengan petugas, jadi istilah yang diungkapkan terasa bisa ngimbangi petugas lapang. Saya
sendiri juga mikir, kalo semua petani wawasannya seperti ini semua, bakalan kualahan pemerintah untuk  ngimbangi melalui program-programnya. Hemmmm…)

Mbah Suluh    : Kapan hari saya dapat undangan pernikahan dari teman lama di Jombang.  Ternyata disana ada hal yang menarik untuk didiskusikan.  Sistem Tunda Jual namanya. kelihatannya berjalan dengan baik Kang… (uklik uklik uklik…. Mbah Suluh  mengaduk Es Dawet pesanannya, sesekali Es batu ditenggelamkan didasar gelas)

Kang Udin    : Opo iku Mbah? (Tanya Kang udin penasaran, sambil berusaha mengeluarkan sisa pisang goreng yang terselip digiginya.  Hemmmm… Saya juga heran terselip dimana kira-kira, soale hampir ompong beneran lhooo… hihihihiii….)

Mbah Suluh    : (Wajah Serius, Jrengggggg…)
Disana system tunda jual dilakukan oleh Gapoktan yang memang sudah punya modal lumayan untuk menampung, membeli gabah hasil panen petani.  Gabah petani anggota di beli dengan harga pasar saat itu.  Kemudian disimpan dalam gudang dan dijual ketika harga gabah tinggi.  Selanjutnya laba yang diperoleh, dibagi 2 antara Gapoktan dengan petani yang menjual gabahnya ke Gapoktan.  Dengan demikian, petani memperoleh keuntungan ganda dengan system ini.  (Sruput, Cleguk…. Sruput, Cleguk….
Ahhhhh….. Mbah Suluh mengeksekusi Dawet bikinan Mbok Tiwi)

Kang Udin    : (Ndlahom, sesekali mengunyah pisang goreng, meski dengan agak sedikit perlu usaha keras)
Lha modale kok sampe segitu besare to Mbah? Dari mana aja? (tanya keliatan puengen tahu banget, bukan pengen tahu aja)

Mbah Suluh    : Katanya sih memang modal kelompok. Terus ada bantuan dana PUAP dari pemerintah. Lantas digunakan alat kerjasama dengan perbankan, sehingga modal terus berkembang. Selain itu, karena kegiatan bisa berjalan baik, banyak instansi swasta yang peduli, CSR dari perusahaan juga gabung ikut ambil bagian melakukan pembinaan. (Sruput, Cleguk…. Sruput, Cleguk…. Ahhhhh….. lanjutan sruputane Mbah Suluh)
Sekarang Gapoktannya sudah punya Gudang, lantai jemur, dryer, alat pemanen padi serta copper (Tambah Mbah Suluh)
Haaaeeeeeq… (Mbah Suluh Glegek an, sesekali sambil kaki digosok-gosokkan).

Mbok Tiwi    : Biyuh, Glegekane Mbah Suluh Rek… heeee… Lha lapo kita kok gak ikut-ikutan gitu to Mbah… (sambil menata kayu dalam tungku dibawah. Air belum mendidih soalnya. “Njagani” yang pesan kopi seperti biasanya, menjelang para petani pulang di sawah, akan banyak mampir dulu ke warungnya)  Uhuk Uhuk…. (Mbok Tiwi plekik an asap dapur)

Kang Udin    : Sebenarnya itu bisa dilakukan Gapoktan kita yo Mbah… (Uklik uklik uklik, Kang Udin Ngaduk es cendol) Sruput… (Tuntas, habis sudah cendol digelasnya)

Mbah Suluh    : Iya sepertinya, kapan kapan kalau ada pertemuan, kita usulkan ya Kang, kalo saya lupa jenengan yang matur.. (sambil menuntaskan sisa es Dawet juga)

Akhirnya mereka mulai sadar akan pentingnya berkelompok dalam menjalankan usaha tani untuk menghadapi permasalahan terutama pemasaran hasil produksi pertanian.
(RDP)