ANDA BERADA DI: Depan Berita Mbah Suluh KESEIMBANGAN ALAM (MBAH SULUH EDISI BAG.3)

KESEIMBANGAN ALAM (MBAH SULUH EDISI BAG.3)

E-mail Cetak PDF

Ditengah kesibukan rutin kantor, saya beruntung mendapatkan kesempatan keluar hari ini.  Kebetulan saya diutus menemani tamu dari Lembaga Pelatihan dari Kota Malang.  Bersama dua rekan lain saya meluncur dengan Panter hijau yang gagah.  Meski nebeng, cukup nyaman rasanya dalam bertugas dan melepas kepenatan kerjaan yang masih menumpuk.  Sepanjang jalan, udara segar mengiringi.  Walau mobil ber AC, teman-teman sepakat kali ini dengan “AC Made in Ilahi”. Itung-itung mengurangi penaambahan Freon diudara yang merupakan salah satu penyebab efek Gas Rumah Kaca. Sangat rilex. Tidak terasa, kota telah terlewati, disambung dengan deretan petakan sawah tepi jalan membentang nan “Ijo royo royo”. Naluri seorang petugas pertanianpun mulai muncul.  Dalam hati berkata, kelihatannya Petani sudah sadar dengan tanam serempak. Memang sepele. Tapi ketika petani tahu betapa pentingnya hal ini dilakukan, tentunya akan lebih bisa mengembangkan diri.  Dengan tanam serempak, siklus hama akan bisa terputus dan lebih terkendali.  Belum lagi dalam pembagian air irigasi, “Mata Ulu” akan lebih mudah dalam mengkondisikannya.  Penyiapan sarana prasarana pertanianpun juga dengan mudah disipkan secara massal.  Apalagi jika petani sudah berkelompok dengan proaktif sehingga segala permasalahan yang di hadapi bisa dipecahkan bersama-sama. Tanaman tumbuh subur, aman serangan hama, masyarakat rukun, terjalin tali ukhuah dalam kelompok.  Sungguh suasana yang sangat kita dambakan.

Tak terasa sudah hampir 10 km telah kami lewati.  Begitu nyaman kami menikmati perjalan, tak terasa hari mulai terik, namun demikian di samping kiri kanan petani masih belum pulang dari lahan garapannya. Begitu sayangnya petani dengan profesinya sampai dalam hati saya bertanya, apakah mereka petani pemilik lahan, atau petani penggarap, atau buruh tani.  Hal ini yang memang di waspadai Dinas Pertanian agar segala program tersalurkan tepat sasaran.  Tidak sedikit pemilik lahan yang disewakan pada petani dan mereka tinggal di lain daerah.  Memang salah jika kita memberikan program dimana pelakunya bukan pelaku utama.  Untungnya di Jombang segala bantuan yang diberikan berdasarkan petani penggarap, bukan pemilik lahan. 

Sepanjang jalan kami melihat saluran irigasi yang terbangun rapi.  Sayang sekali airnya tidak tersedia dengan lancar.  Saya jadi ingat kondisi saluran irigasi depan rumah yang di cor rapi, ketika padi dan sore selalu ada air mengalir, sedangkan siang hari tidak ada air yang membasahi lantai saluran.  Saya berfikir, sebenarnya sebegini parahkah kondisi lahan kita.  Dikala kemarau kekeringan luar biasa, dikala musim hujan datang, banjir kian melanda.  Mengapa ini terjadi.  Merinding rasanya, ingat teguran Allah yang mengatakan bahwa memang “manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi”. Rasanya apa yang bisa kita lakukan untuk menebus segala kesalahan kita.  Berbagai pertanyaan, rasa  bersalah, malu, marah pada diri sendiri mulai menghantui perasaanku.  Tidakkah bisa kita lakukan sesuatu untuk memperbaiki diri. Kiranya Tuhan akan mengampuni kesalahan kita.

Setelah beberapa saat kami sampai di tujuan, salah satu P4S di Jombang. Para tamu dari peserta pelatihan Malang yang terdiri dari para Penyuluh dari Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga Jogjakarta belum datang. Sepintas saya dengar pemilik P4S berkata bahwa rombongan peserta sekaligus Widiaiswara masih makan siang 5 km dari lokasi.  Saya sempatkan jalan-jalan melihat perkembangan P4S yang notabene memiliki keunggulan dalam melaksanakan pertanian terpadu.  Mengingat Lokasi lebih dekat dengan hutan daripada dengan kota, memungkinkan dikembangkannya pertanian organic disana. 
P4S ini telah berjalan sesuai program Dinas Pertanian Kab. Jombang yang berupaya mengembangkan pertanian organic.  Disana melakukan system pertanian terpadu dengan mengombinasikan antara pertanian, peternakan dan perikanan secara holistic. Hal ini memang punya dampak positif pada kualitas dan kuantitas produksi masing-masing sub sector, meskipun masih membutuhkan waktu lebih lama.

Sayangnya lahan yang dimiliki masih tadah hujan.  Lagi-lagi petani masing murni menggantungkan nasibnya pada rezeki Tuhan.  Belum ada upaya optimal dalam menghadapi permasalahan alam yang kian kritis.   Air tanah keberadaannya tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kegiatan bercocok tanam.
Untuk itu, kali ini Mbah Suluh akan mengupas bagaimana upaya kita menyikapi kondisi alam yang kian kritis dan meminimalisir keterpurukan lingkungan agar tetap bisa terus menjadi PETANI (Pelaku Ekonomi Tiang Agung Negara Indonesia).


KESEIMBANGAN ALAM

Sore itu mbah suluh sedang sendiri duduk di kursi taman depan rumahnya.  Sambil sesekali disapa para tetangga yang berlalu lalang lewat baik dengan sepeda motor, sepeda “pancal” ataupun jalan kaki.  Maklum, mbah suluh memang termasuk salah satu tokoh masyarakat yang di hormati di desanya.  Ditemani dengan ubi goreng dan kopi hangat di meja kecil, mah suluh menatap mendung hitam yang ada. Sesekali terdiam melihat mendung bergerak tertiup angin.  Mbah Suluh menghela nafas panjang. Tak lama kemudian, terdengar tetesan air di genting.  Kembali Mbah Suluh menghela nafas panjang, seakan-akan lega dengan kondisi tersebut.  Sambil membawa cangkir kopi dan piring ubi goreng, Mbah Suluh pindah duduk ke teras rumah mencari tempat teduh yang menjaganya dari Hujan jika memang terjadi.

Melihat hal tersebut, Sosok pemuda desa penasaran tentang apa yang di fikirkan oleh Mbah Suluh sore itu. Hingga dia mampir dan berusaha mengajak Mbah suluh Ngobrol bersama.

Pemuda    : Assalamu’alaikum Mbah….

Mbah Suluh    : Wa’alaikumsalam Nak.Silahkan mampir ngopi bareng-bareng Mbah di sini.

Pemuda    : Iya Mbah. Saya juga ingin ngobrol dengan Mbah Suluh.

Mbah Suluh    : Ngobrol apa enaknya kali ini. Saya juga lagi butuh teman ngabisakan ubi goring ini lho…
Silahkan duduk disini, kelihatannya mendung gelap mulai jadi gerimis tu.

Pemuda    : Iya Mbah.

Mbah Suluh    : Kamu duduk sini, tak suruh Mbah Uti bikinkan kopi satu lagi. (sambil beranjak menuju ke dalam sebentar)"

Pemuda    : Ndak usah repot mbah. Saya juga jarang ngopi.

Mbah Suluh    : Makanya, biar pernah merasakan kopinya Mabh Uti yang dijamin semuanya dari bahan local. Ya seperti ubi goring ini. Lumayan juga untuk berhemat biaya nyemil. Hahahaa…..

Pemuda    : Ah, bisa saja Mbah ini.. heeheee…
Ini lho mbah, tadi saya Lihat Mbah suluh kok menghela nafas panjang ketika melihat mendung hitam di atas kita itu. Seolah-olah kuatir dengan apa yang akan terjadi. Tapi ketika mulai gerimis, Mbah kok juga menghela nafas panjang lagi. Sebenarnya apa yang Mbah Pikirkan to….

Mbah Suluh    : Wah, kamu sudah kuliah ta Le?
Jurusane apa?
Psikologi ta?
Bisa nebak kalo mbah lagi kepikiran e… heheheee….. (Tawa Mbah suluh sampai terlihat giginya yang mulai ompong tersebut). 

Pemuda    : Wah, benar ya Mbah… Iya Mbah, Saya jurusan Pertanian. Terus ada apa Mbah…

Mbah Suluh    : Oooo…. Bagus lah kalo gitu, Negara Agraris memang butuh banyak lulusan fakultas pertanian. Saya lega mendengarnya.

Mbah Uti    : Ayo, ini kopinya sudah datang, ayo di sruput… (Sela istri Mbah Suluh)

Mbah Suluh    : Ayo, mari-mari…

Pemuda    : Iya Terimakasih Mbah….
Tentang mendung Mbah?

Mbah Suluh    : Oho ho…. Lupa..
Iya, Begini lho. Saya masih ingat kisah Nabi Muhammad yang melihat mendung hitam bergerombol di langit. Langsung Baginda berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
Ternyata hujan turn, beliau juga lega. Saya kebetulan tahu yang di kawatirkan beliau waktu itu..

Pemuda    : Wah,Hebat Mbah Suluh ini.. kok bisa tahu mbah…

Mbah Suluh    : Lha memang say abaca haditsnya.. hehehee….

Pemuda    : Oooo… Pantesan tadi mbah serius banget dan menghela nafas panjang. Terus apa yang mbah khawatirkan.

Mbah Suluh    : Begini….
Biasanya mendung hitam tebal itu mendatangkan adzab bagi masyarakat di bawahnya/ yang dinaungi.  Nafas panjang pertama saya adalah karena Saya takut, Tuhan akan mendatangkan adzab bagi kita disini. Tapi ternyata hujan yang turun, makanya hatiku lega. Itu nafas panjang saya yang ke dua.

Pemuda    : Kok Mbah sekhawatir itu adzab bisa datang pada kita, memangnya apa kesalahan kita yang fatal tersebut Mbah?

Mbah Suluh    : Jika Tuhan mengatakan sesungguhnya yang berbuat kerusakan di muka bumi adalah manusia sendiri, saya mengimani.

Pemuda    : Wah, seserius itu Mbah?

Mbah Suluh    : Begini….. mumpung saya juga masih di dunia, saya kasih tahu pada yang muda.
Banyak kerusakan yang kita lakukan di bumi ini baik kita sadari ataupun tidak kita sadari.
Pembakaran hutan, pencemaran, pembangunan tidak ramah lingkungan dll.

Pemuda    : Kok bisa Mbah…

Mbah Suluh    : Tuhan telah ciptakan Hutan, sebagai sarana penangkapan air hujan, mengeluarkan dalam sumber mata air yang segar, mencegah bencana, penyuplay oksigen dan sebagai sumber plasma nutfah sekaligus penyeimbang kondisi cuaca dan iklim bagi bumi.
Tuhan juga ciptakan lautan, gunung, lahan, danau dll yang kesemuanya berperan masing-masing untuk keseimbangan yang harmonis.

Pemuda    : (bengong)

Mbah Suluh    : Tapi apa yang kita lakukan.
Pencemaran banyak kita lakukan. Sampah plastic berserakan tak bisa terurai oleh tanah, lahan pertanian sudah miskin unsure hara. Jangankan berkembang, mikroorganisme hidup aja sudah Alhamdulilah….

Pemuda    : (ndlahom)

Mbah Suluh    : Hutan di bakar, digunduli.  Akibatnya tanah longsor, banjir, sumber air mati, pemanasan global yang berbuntut pada fenomena iklim.  Suhu bumi panas, es di kutup mencair, daratan tenggelam dan masih banyak lagi kejadian yang belum terkaji oleh manusia.  Contoh kecil saja ketika saluran air kita cor dengan semen, air kan tidak bisa meresap ketanah. Ke sungai terus ke laut. Dilain pihak kita masih butuh air tanah.

Pemuda    : (garuk-garuk)

Mbah Suluh    : Saya Lihat di internet bahwa ada perancang tata ruang kota masa depan dengan merancang kota diatas samudra. Kota berbentuk kerang, ataupun berbentuk Lili air. Lengkap didalamnya flora, fauna dan segala kebutuhan manusia ada di sana.  Katanya bisa tahan bencana dalam menghadapi Global warming, dan siap menjadi tempat pengungsian bencana. Yaaa… Manusia tidak ada salahnya berupaya… karena memang itu wilayah kita.

Pemuda    : Lha terus Mbah?

Mbah Suluh    : Ya, selayaknya kita terus berupaya menjadi Kholifah di muka bumi. Bukan jadi perusak.  Tanpa melihat hasil yang kita capai. Karena memang tidak mungkin kita menghentikan hari akhir. Berusaha sebatas kemampuan dan amanah yang kita emban.

Pemuda    : Apa yang bisa kita lakukan Mbah?

Mbah Suluh    : Jaga kelestarian lingkungan. Fungsikan hutan sebagimana fungsinya, jangan digunduli, atau mungkin alih fungsi secara total. Minimalisir pencemaran sebisa mungkin. Kurangi penambahan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).  Ketika kita mengambil sesuatu dari alam, maka berilah sesuatu pada alam.

Pemuda    : (ndlahom)

Mbah Suluh    : Kamu beri pupuk yang sehat, kamu akan mendapatkan buah yang sehat dari alam.
Kamu lestarikan hutan, hutan akan beri kamu kesegaran udara, air, plasma nutfah.
Kamu jaga kelestarian laut, kamu dapatkan ikan melimpah tanpa logam berat nan sehat.
Kamu jaga air tanah, kamu tidak akan rasakan kekeringan. Dan seterusnya.

Pemuda    : Saya Paham Mbah..

Mbah Suluh    : Mari kita lakukan dari diri sendiri dulu, dari hal terkecil dan kita mulai Sekarang… Jangan lupa, lakukan dengan Ikhlas…
Tak terasa gerimis sudah mulai reda, Pemuda tadi pamit pulang dengan membawa pelajaran yang berharga. (RDP)

 

Comments  

 
#1 Rosyidah 2012-07-19 10:07
Bagus
Banyak pelajaran saya peroleh
 

Add comment

Security code
Refresh