ANDA BERADA DI: Depan

GAGASAN MBAH SULUH MEMBANGUN DESA UNTUK MEMBANGUN NEGERI (MBAH SULUH EDISI 9)

E-mail Cetak PDF

Sabtu. Rasanya sangat senang ketika kami mendengarkan kata-kata itu.  Saya yakin teman-teman yang ngantorpun merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak, setelah 5 hari bergelut dengan pekerjaan, seakan terobati dengan kata-kata “Sabtu” dimana hari itu menjadi awal berkumpul dengan keluarga.  Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terasa begitu cepat berlalu.  Ini mengingatkanku akan pesan sosok tua nan berwibawa yang sampai saat ini pun aku lupakan namanya.  Memang pertemuan kami singkat dan tanpa terencana.  “Mas, nek wektu kroso cuepet, dino kroso cendhek, kuwi salah sijine tondo nek ndunyo wes tuwo” (Mas, kalau waktu terasa sangat cepat, hari terasa pendek, itu salah satu tanda kalau dunia sudah tua), ungkapnya sambil berkata lirih dan memandang langit.  “Menungso yo angel nyalurno zakat e sing pas. Wong mlarat soyo entek, mbayar zakat koyo mbayar pajek” (Manusia juga sulit menyalurkan zakatnya yang sesuai.  Orang miskin semakin sedikit. Membayar zakat, seperti membayar pajak), imbuhnya.

Mengingatnya, membuatku rindu kampung halaman.  Ingat juga pesan Kang Ji, “Mbok yo Emak e sering disambangi” (Ya Ibunya sering dijenguk).  Hampir sebulan terasa lama tidak bertemu masakan kampung.  Setelah perjalanan hampir 1 jam melintasi kota Jombang, menyusuri sawah, menyeberang sungai, lewati makadam hingga jalan tepi hutan bambu yang rindang.  Terobati rasanya dengan suasana nyaman dan ramah menyambutku. Sesekali tegur sapa dan canda tiap langkahku.  Begitu tentram dan harmonisnya desaku. 

Meski tak sesejuk masa kecil dulu, dan anak-anak bermain tanpa menyapaku, namun berjuta kenangan masih terasa didepan mataku.  “Le, ndang sarapan” (nak, sarapanlah), suara itu mengejutkanku.  “Injih, lha ini yang saya tunggu”.  Jawabku dengan senyum.  Menu sederhana tersaji diatas meja kayu yang kusam.  Nasi, sambal kemangi, tempe hangat dan tak ketinggalan terong lalap yang masih segar dan mengkilap.  Biasanya ada kacang panjang atau “koro ijo” yang ada disekitar pekarangan.  Tapi yang dimeja serasa cukup untuk melahap santapan pagi ini.  “Sek le, tak golekno krupuk ndok Bek Tun” (Sebentar nak, tak belikan kerupuk di (toko) Bek Tun”).  Maklum kami biasa hidup sederhana di desa. 

Sembari sarapan, aku dengar penjual tahu keliling yang sesekali berteriak menawarkan dagangannya.  Toko depan rumah kulihat semakin megah saja, tapi perasaan kok tetap sepi.  Kata ibuku, pemilik toko dapat tambahan modal dari orang tuanya, orang tua pungut maksudnya.  (aku diam manggut-manggut, kecapan sambil nuang air “kendi” ke dalam Mug kuno dari bahan besi).  Dia jual sapi peliharaan yang waktu itu sedang lumayan harganya.  Desaku yang kecil hanya ada 3 toko kelontong yang masih berjalan.  “Bek Tun”, “Man So” dan “Yu Sup”.  Ketiganya agak berjauhan memang. O iya, ada 1 toko lagi sebenarnya, toko Mbok Pini. Tapi sudah meninggal beberapa tahun lalu. Gak masuk hitungan sepertinya. Akirnya terbayang dimataku, ketiga toko yang ada juga tidak rame-rame amat.  Maklum juga, desaku selain kecil hanya terdiri dari 1 dusun, dulu sempat masuk kriteria desa IDT (Inpres Desa Tertinggal).  Jadi perekonomian tergolong lemah.  Tingkat pendidikan masyarakat yang SMA saja tidak sebanyak sekarang.  Sekitar sepuluh tahun terakhir ini saja  mulai banyak sarjana didesaku. 

“Iki krupuke”, kalimat pendek menghentikan lamunanku.  Ibuku dengan senyum melihat nasiku hampir separuh habis.  Injih, jawabku singkat.  Yah untung saja gak sampe “keseleg” (terseda).  Tak berselang lama (berarti nasiku belum habis, meski sudah nambah sesekali), teriakan pedagang “Tewel” (nangka muda) mengusikku.  Berteriak memanggil Bu Carik, sang pemilik “tewel”.  Tapi tak kunjung keluar rumah.  Kembali keluar dari dapur, ibuku menghampiri pedagang didepan rumah bu carik.  “Tiyang e tindak Malang Lek, kangen putune”.  Akhirnya ibuku yang mewakili transaksi dengan pedagang seperti biasanya.  Keluarga Pak Carik termasuk yang sangat memperhatikan pendidikan putra putrinya.  Ada 4 anak yang semuanya mengenyam bangku kuliah. Anak pertamanya lulusan Dokter Undip Semarang.  2 tahun lalu sudah lulus Spesialis.  Lho iya, gak Nyangka juga to.  Adiknya, temanku SD, perawat di RSSA Malang, yang ketiga kerja di Bank lulusan Brawijaya dan yang terakhir kuliah juga baru masuk.  Gak tau dimana, saya juga jarang ketemu Nita (nama anak ragil pak carik).  Selain itu desaku juga mulai banyak lulusan sarjana antara lain pendidikan, hukum, ekonomi, teknik dimana hampir semua bisa bekerja layak dan mampu bersaing dengan desa lain.  Memang dari sini kami lihat,  ada korelasi positif kuat antara pembangunan kualitas SDM dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dari mudik singkatku kali ini, menjadi renungan yang mendalam untuk digali lebih lanjut dalam membangun perekonomian sebuah wilayah.  Untuk itu, dalam episode Mbah suluh kali ini akan kami kupas bagaimana pendapat Mbah suluh dalam membangun perekonomian wilayah dalam hal ini desa.

BANGUN DESAKU, BANGUN NEGERIKU

Siang hari yang redup.  Mbah Suluh baru beranjak dari sawah miliknya yang tak seberapa luas ditepi jalan.  “Wah ternyata sudah adzan dhuhur, tak terasa terik tiba-tiba sudah siang”, gumam Mbah Suluh sendiri.  Sambil membereskan peralatan seadanya, lelaki tua dengan jenggot putih itupun bergegas meninggalkan tanaman cabe besar miliknya.  Dengan kemeja putih lengan panjang yang mulai kusam, kakek usia 70 an ini masih komitmen sebagai petani.  Kulit yang mulai keriput, keringat yang membasahi tubuh serta perut yang kembang kempis mengiringi detak jantung menyatu dengan langkahnya menuju tepi jalan.  Rasanya bekal tadi pagi sudah habis menjadi tenaga. 

Dengan menenteng rantang kosong, sabit kecil dan Hand Phone Android, Mbah Suluh menghampiri pohon besar tepi jalan yang biasanya menjadi tempat singgah sementara bagi petani yang lewat.  Kakek tua ini sepertinya perlu istirahat.  Dia memutuskan untuk duduk di papan kayu yang tersedia dan bersandar sejenak dibawah pohon rindang.  Sambil melihat dari jauh tanaman Cabenya, dalam hati Mbah Suluh berkata, “Wiwil belum selesai, mungkin 2 hari lagi.  Dan sepertinya ramalan BMKG benar juga”.  Tapi memang tanam cabe menjelang musim penghujan sangat beresiko meskipun harganya sangat menjanjikan.  Apalagi dua tahun ini diprediksi La Nina akan terjadi dimana curah hujan akan ada sepanjang tahun. 

Bekal minum Mbah Suluh sudah habis.  Kebetulan ada penjual es Otek khas Jombang melintas di jalan yang sepi itu.  Kakek yang kelelahan ini segera dengan latah memanggil penjual es. 
Mbah Suluh    : Es es...
Es Otek        : Injih Mbah.. (sambil banting setir kekanan menuju pohon rindang tepi jalan tempat Mabh Suluh bersandar)
Mbah Suluh    : wah wah wah.... masih ada mas? (Tanya Mbah Suluh sambil senyum).
Es Otek        : iya masih Mbah. Malah masih banyak ini e...
(sambil berhenti dan menata posisi sepeda onthelnya)
Mbah Suluh    : Sepedanya bagus mas, Merk lama banyak yang nyari ini.
(Mbah Suluh matanya langsung jeli melihat merk, rangka, sadel, slebor yang masih rapi dan mengkilap)
Es Otek        : Iya Mbah, kemarin ditawar tetangga 3 Juta gak saya kasih.  Masih seneng e... (sambil garuk-garuk kepala yang mulai banyak tumbuh uban)
Es Otek        : Gatel e “kemriyek” mbah. Banyak uban dikepala nich. Heheheee.... Rasa apa ini, malah lihati slebor?
(Jawil punggung mbah suluh...)
Mbah Suluh    : Ouw.... iya, sembarang wes... seadanya..
(dalam hati, iyo e... Jek apik tenan barang e..)
Es Otek        : Ini Monggo mbah... Es Otek Khas Jombang, tanpa pemanis buatan, gula asli, gak bikin batuuuuk...
(sambil menyodorkan rasa stroberi)
Es Otek     : Tak numpang istirahat juga ya Mbah? (sambil geser tempat duduk Mbah Suluh..)
Mbah Suluh    : Ouw iya... monggo monggo...sambil ngusap-usap tangan di baju dan menerima Es pesanannya.
Es Otek        : Mendung Mbah, sepi dagangannya. 
Jawabnya singkat sambil lihati tingkah Mbah Suluh mengusap-usap tangannya dibaju.  Dalam hatinya, pantesan cepat kusam, baju sekaligus Lab atau kain Pel.  Untung aja gak “dirubung laler” (dikrubuti lalat). Dalam hati tentunya, gak berani ngungkapkan apalagi lihat Mbah Suluh bawa sabit. Hehehhehe...)
Mbah Suluh    : Ya semoga cepat habis dagangannya mas. (sambil buka bungkus es otek)
Es Otek        : Iya Mbah, Aaamiinn...
(sejenak termenung melihat atas dengan pandangan kosong.  Mirip anak kecil ndomblong lihat pesawat diatas)
Es Otek        : Tak pikir-pikir, jualan di desa kok sulit berkembang ya Mbah. Apa kira-kira penduduknya gak punya uang to?
Mbah Suluh    : Bisa Jadi.  (Sambil nglamuti es otek rasa strowbery.  Kalah anak kecil.....)
Es Otek        : lha sebenarnya uang mereka itu pada kemana to Mbah...  Kalo panen mereka kan dapat uang banyak... (garuk-garuk uban)
Mbah Suluh     : (Klamut-klamut aja...)
Es Otek        : Mbah, ditanya kok malah asyik nglamuti es.... Mbok ya dijawab....
Mbah Suluh    : Iyaaaa.... nanggung ini....
(Penjual es otek gregetan...)
Mbah suluh     : Gini lho Cak... biar mudah dipahami..
Sebuah desa yang miskin, disana pasti jumlah harta yang dimiliki penduduknya sedikit atau memiliki nilai rendah.  Jika ditotal harta yang ada misalnya 10 Milyar, maka selama transaksi tidak ada interaksi dari luar desa itu, tidak akan ada tambahan harta disana.  Yang ada hanya perputaran uang.
Es Otek        : Lha terus?
Mbah suluh    : (Nglamuti es Otek..)
Lha kalo sampean datang, jualan es otek disana, maka yang terjadi, sampean akan mengambil harta penduduk desa itu secara halal.  (usap tangan ke baju).  Maka yang terjadi sampean malah akan menambah kemiskinan desa itu.  Tapi kalo penduduk desa menjual hasil buminya ke luar desa, maka akan ada penambahan harta di desa itu.  Dengan catatan ada penambahan nilai tambah disana.  Dalam arti biaya untuk menghasilkan produknya lebih rendah dari nilai jualnya.  Dalam maksud, penduduk desa memperoleh keuntungan disana. (Klamut-klamut es lagi.  Sesekali ngusapkan tangan yang basah ke baju putih mbulaknya)
Es otek        : (Lihati tangan Mbah Suluh.  Dlm hati berkata, emang jorok orang ini.., lanjut dia lirik sabit tajam milik Mbah Suluh. Jadi Gak sampai terucap dimulut)
Es Otek        : Mbah, trus sebaiknya apa yang kita lakukan supaya masyarakat desa bisa hidup lebih sejahtera? (tanya dengan serius, kepo banget)
Mbah Suluh    : Yang ideal, masyarakat di desa tersebut harus mengelola sumber daya yang ada. Baik SDM maupun SDA.  Untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi.  Sehingga produk tersebut bisa untuk kebaikan masyarakat desa dan mampu dipasarkan untuk memberi manfaat masyarakat diluar desa tersebut.
Jika sebuah desa tersebut adalah negara, maka sama saja.  Negara tersebut harus mengelola sumber daya yang ada untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomis yang tinggi untuk  membawa kebaikan masyarakat dalam negeri dan luar negeri. 
(Penjual es garuk-garuk uban)
Tentu saja dengan mengambil keuntungan disana.  Makanya, sejak dulu dianjurkan sama pemerintah bahwa export itu harus lebih besar dari pada import.  Itulah yang akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut menjadi meningkat.  Sehingga masyarakat lebih sejahtera. Tujuannya disitu.
(Klamut-klamut)
Mbah Suluh    : Kalo dilihat kan potensi SDM dan SDA banyak dijumpai di desa.  Maka sebaiknya, desa dulu yang kita bangun.  Berdayakan masyarakat desa, tingkatkan kualitasnya, kelola sumber daya alam yang ada, ciptakan produk-produk unggulan yang manfaat untuk masyarakat, tidak hanya masyarakat sekitar tapi juga untuk negara lain.  Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat, penduduk dan rakyat akan bisa meningkat. 
Es Otek        : Ooooo.... gitu ya Mbah.... iya iyaa...
(Dalam hati, kakek tua jorok ini ternyata wawasannya luas juga e...)
Mbah Suluh    : Klamut-klamut...
Es Otek        : Garuk-garuk uban

 

Add comment

Security code
Refresh