ANDA BERADA DI: Depan

SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) (MBAH SULUH EDISI 6)

E-mail Cetak PDF

Kali ini saya punya banyak waktu luang.  Libur panjang telah menyapa.  Setelah berbagai aktifitas menjelang tutup anggaran, rasanya libur beberapa hari mampu menghapus kepenatan.  Saya senang bisa mengunjungi orang tua bersama semua anggota keluarga.  Beberapa bulan terakhir, biasanya saya berkunjung sendiri mengingat anak masih kecil.  “Jek cilik ojo sering di ajak dolan adoh-adoh le, aku ae nek kangen putu ku tak mrono…”pesan Ibu.  Orang tua saya tinggal agak jauh dari tempat saya menetap. Sekitar 21 Km dari rumah.  Saya sangat bersyukur dengan kondisi ini, masih dengan mudah bersilaturahmi ke orang tua.

Dalam perjalanan, kami sekeluarga menuju kampung halaman, ada suasana yang membuat kami terdiam sepanjang jalan dan kering setiap gurauan.  Didepan kami, tampaklah sosok dengan sepeda “ontel“ menyusuri jalan yang sama. Seorang pemuda paruh baya bersama keluarga sedang menyusuri jalan menuju arah kota.  Dengan semangat ia mengayuh sepeda “unto” yang memang telah penuh dengan korosi.  Saya yakin memang rezeki yang “halalan toyyibah” akan membawa berkah tersendiri.  Dibelikan barang pun akan awet dan bermanfaat. Sang istri tercinta duduk dibelakang dengan memengang sang putra yang asyik melihat pemandangan sambil berdiri.  Seolah berkata, “inilah putra kami, seorang anak yang tangguh dan akan membela kehormatan keluarga kami”.  Kendaraan lalu lalang seolah menjadi hiburan yang sangat menarik untuk dinikmati.  Ketiganya terlihat begitu ceria.  Entah apa yang di bincangkan.  Saya menduga, keluarga kecil bahagia ini akan berbelanja mengingat moment nya panen telah berlalu. Memang jika kita lihat sekilas toko-toko atau pusat perbelanjaan akan ramai pada musim panen atau moment tertentu. Benar-benar tampak jika sector pertanian merupakan urat nadi perekonomian di wilayah.

Yang saya tahu, sepeda unto yang dimodifikasi dengan besi hingga kokoh seperti itu, biasanya digunakan untuk mengangkut barang dengan kapasitas dan medan yang berat.  Entah itu kayu, rumput atau lainnya dan biasa dimiliki oleh masyarakat sekitar hutan. Dengan kaos oblong putih, bersih, terlihat baru dengan merk dagang pestisida tercantum besar di punggung. Tampak si pemakai sangat percaya diri.  Topi yang dipakaipun sederhana.  Tertulis “Pelayaran”.  Saya yakin bukan sang Bapak yang lulusan sekolah pelayaran.  Bisa jadi saudaranya, atau tetangganya, atau siapapun yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan dia.  Meski sudah usang, tapi cukup untuk melindungi wajah yang sebenarnya telah adaptif dengan terik mentari pagi dimana dari waktu kewaktu terasa lebih menyengat.

Kumis tipis pun menghiasi senyum, tawa dan canda mengiringi setiap ayunan kaki menggerakkan roda sepeda menuju kota.  Sesekali pandangan pengayuh ke bawah dengan senyum.  Memang infrastruktur jalan telah tergarap bagus dengan aspal hotmic, tapi saya menduga kuat, belum untuk di daerah asal mereka. Tidak kompak memang jika dilihat dari pakaian yang mereka kenakan.  Sang bapak dengan warna kaos putih dan celana hitam yang tampak lama tidak sempat di seterika, mencerminkan setiap kesederhanaan yang terpancar.  Sendal jepit yang dikenakan tampak mencolok terlihat dari kejauhan.  Sepertinya baru.  Dengan dasar putih dan tali orange menyala, terlihat begitu bersih meski menempel pada kaki yang kurang terawat tapi kekar. 

Sang putra pun dengan wajah ceria larut dalam cengkerama dengan pandangan tertuju pada setiap kendaraan yang melintas.  Memang waktu libur telah tiba, jadi kendaraan terlihat ramai.  Entah itu mudik seperti kami, ataukah hanya sekedar berlibur ke tempat wisata.  Dengan kaos oblong kuning beridentitaskan nama sekolah, mengingatkan aku dengan seragam sekolah masa kecilku yang juga selalu terdapat noda.  Entah dari pelepah pisang, atau getah dari mana saya juga herankan.  Celana pendek pun melekat dengan sederhana, meski agak kebesaran, tetap bisa disiasati dengan ikat pinggang yang lebih kencang.  Usang, rasanya sudah cukup menunjukkan jika pakaian tersebut sering di cuci.  Begitu juga sandal yang dipakai, tampak model lama tapi sangat terawat.  Sedikit serpihan benang memang tak menjadikan masalah berarti untuk menjadikan sandal kesayangan sebagai alat bertualang di pekarangan rumah.

Sang ibu dengan senyum bahagia, menjaga setiap gerakan sang putra.  Meski tanpa topi, panas terasa tidak menyengat terhapus dengan kebahagiaan yang terpancar dari ketiganya.  Subhanallah.  Kebesaran Tuhan terasa sangat kental terlihat disana.  Tuhan sekali lagi menunjukkan keadilannya, dia beri kebahagiaan tanpa kenal waktu, tanpa kenal status, tanpa kenal tempat.  Dia limpahkan kepada mereka yang Dia Kehendaki. 

Kejadian ini mengingatkan saya kembali untuk berusaha berbagi apa yang saya tahu pada petani.  Mungkin bisa bermanfaat.  Topik bahasan ini agak terlewatkan, tapi kali ini Mbah Suluh ingin kembali mensosialisasikan tentang SRI (System of Rice Intensification) Organik yang merupakan teknologi yang ingin terus dikembangkan di Kabupaten Jombang.  Diharapkan petani Jombang khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya bisa termotivasi untuk mengembangkan diri.

SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

Merah.. terlihat menyala mentari di ufuk barat jelang sambut peraduannya.  Sore itu, sebuah kampung asri tempat Mbah Suluh tinggal mulai terlihat lalu lalang banyak petani pulang kerumah.  Musim tanam telah tiba.  Tapi tidak untuk Mbah Suluh yang telah selesai tanam padi terlebih dahulu.  Dengan sarung kotak-kotak hijau kesukaannya, baju koko kuning muda, Mbah Suluh duduk santai didepan rumah sambil menikmati kudapan seadanya.  Tapi kali ini, Mbah Suluh tidak seperti biasa.  Beliau jarang disapa dengan akrap seperti biasanya oleh masyarakat sekitar.  Hanya sebatas menyapa dengan kalimat-kalimat pendek bahkan hanya sepatah dua patah kata.  Tapi Mbah Suluh tahu kenapa sikap masyarakat seperti itu padanya.  Lalu lalang petani dengan jalan lebih cepat dari biasanya membuat Mbah Suluh tersenyum simpul sendiri.  Tapi tak lama kemudian datanglah seorang pemuda dengan pakaian rapi menghampiri Mbah Suluh.  Gufron namanya.

Gufron    : Assalamu’alaikum Mbah.. (Pemuda datang sambil membuka pagar bambu di halaman rumah Mbah Suluh)

Mbah Suluh    : Wa’alaikumsalam (jawab Mbah Suluh sambil menurunkan kaki dari pijakan meja)
Gufron        : Sedang santai ini Mbah… Yang lain pada suibuk tanam, Mbah ku ini sudah santai dirumah.. Yang lain pada belepotan disawah, “Njenengan” sudah rapi menikmati hidangan. Heheheee.. (sambung Pemuda sambil geleng-geleng kepala dan menghampiri tempat duduk disamping Mbah Suluh)

Mbah Suluh    : Silahkan duduk sini Mas Gufron.. Kok tumben maen kesini ini.  Darimana? (Tanya Mbah Suluh sambil menata posisi duduknya. Reflek sambil menaikkan lipatan sarungnya)
Wah sampai melorot ini sarungnya mas. Hahahahaaa….

Gufron        : Iya, saking santainya Mbah… Hahahaa…

Mbah Suluh    : Gimana, sudah tanam kah padinya? (Tanya Mbah Suluh membuka pembicaraan, dengan merapikan sarung tentunya, hihihiiii)

Gufron        : Sudah sih Mbah….. Ini, saya puenasaran dengan cara tanam padi Njenengan Mbah… Saya baru liat e.. Mosok tanamnya kayak gitu. Lha gak rugi ta? (tatapan suerius banget, penasaran… Jrenggg…..)
Sampeeee, maaf Mbah, omongan tetangga-tetangga kurang enak saya mendengarnya.  Makanya saya beranikan diri untuk datang kesini, dari pada saya penasaran Njenengan buat.

Mbah Suluh    : Ooooo…. Itu…
Saya juga sedang belajar.  Saya tahu dari pak PPL ketika saya mau pergi kepasar.  (Sambil melihat orang lewat dengan sepeda ontel, dikira Baedowi teman lamanya, ternyata bukan)

Saya sempatkan mampir kantor BPP.  (Mbah Suluh melirik sandal yang tergeser, dan memakainya)  Ya saya tanya-tanya, tentang teknologi apa saat ini yang baru dan mungkin bisa diterapkan petani. (sambil melipat lengan baju koko.  Ternyata mau mengambil pisang goreng yang ada di meja dan perlahan mencicipinya). Silahkan Mas… jangan sungkan..

Gufron        : Iya Mbah… Ooo… (Sambil garuk-garuk punggung, agak repot sih. Kelihatannya ada semut usil yang menghampiri)

Mbah Suluh    : Mosok banyak semute ta Mas.. mungkin pengen pisang goreng atau kopi saya.  Heee….
Sebentar, kopinya samean kok belum datang, biasanya otomatis ini. Wah diingatkan semut jadine…

Gufron        : Ah… enggak Mbah… saya juga gak ngopi kok.. (malu-malu)

Mbah Suluh    : Gak papa, sekali kali mas. (sambil berdiri mengingatkan Istri tercinta untuk bikin kopi.  Pisang goreng pun segera terkunyah oleh gigi yang sebagian tanggal).

Istri Mbah Suluh    : Iya, ini kopinya datang… Silahkan Mas Gufron…

Gufron        : Iya terimakasih Mbah… Maaf jadi merepotkan. Terus, gimana ini Mbah, topic semula…. Hehehee..

Mbah Suluh    : Ooo iya… Namanya SRI alias System of Rice Intensification. (terdengan fuasih perkataannya dalam bahasa inggris, atau karena sambil menikmati legitnya pisang goreng )

Gufron        : Apa itu Mbah..

Mbah Suluh    : Katanya sih, model budidaya padi intensif dan efisien dengan managemen system perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air yang mengutamanakn produktivitas tinggi dan nilai ekologis. (Habis sudah pisang goreng yang memang tidak terlalu besar terlumat geraham yang sudah tidak lengkap)

Gufron    : Emm… (Ndlahom)
Teknisnya Mbah… saya lihat tanamannya masih sangat kecil, jaraknyapun lebar. Gimana dapat hasil banyak kalau bibit yang ditanam sedikit Mbah?

Mbah Suluh    : Fakta lapang yang akan menjawabnya kalau itu.  Tapi beberapa sumber, justru produktivitasnya akan meningkat.  Begini, ada beberapa prinsip SRI (Sambil garuk-garuk kepala sampe tak terasa kopyah hitam dengan sebagian bulunya telah “aus” termakan usia agak miring ke kanan).
(Saya jadi teringat group pelawak kawakan Kartolo. Disana ada mendiang Pak Baseman, kira-kira mirip kopyahnya Baseman lah..)

1.    Tanah harus sehat dengan menggunakan bahan organik (5-7 ton/ Ha atau tergantung kesuburan tanah
2.    Pengembangan Mikroorganisme Lokal sebagai decomposer, activator dan nutrisi.
3.    Menyiapkan benih bernas dan semai.
4.    Cara tanam tunggal, dangkal, membentuk huruf L, bibit muda umur 7-12 hari, pindah tanam tidak lebih dari 15 menit, dibuat saluran air, jarak tanam lebar (30 x 30 atau 40 x 40)
5.    Penyiangan dilakukan 4 kali
6.    Tidak menggenang tanaman
7.    Pengendalian Hama dan Penyakit mengutamakan keseimbangan ekosistem

Penjelasan Mbah Suluh tetap terlihat semuangat meski kopyah terlihat miring.

Gufron        : Weeee… (Ndlahom)

Mbah Suluh    : Mengenai prakteknya, kalau sempat main kesini. Tapi pagi atau siang aja… waktunya biar longgar.

Gufron        : Wah, iya iya…. Terimakasih Mbah….

Anam    : Monggo Mbah Suluh…. (tetangga Mbah Suluh menyapa)

Mbah Suluh    : Iya, Monggo-monggo Mas Anam..(Sambil melambaikan tangan)

Mbah Suluh    : Masalahnya kalau tidak praktek langsung, pasti belum tahu gambaran sebenarnya. Tapi ya jangan lupa di tularkan ke yang lain.  Satu lagi, yang perlu disiapkan dalam penerapan teknologi ini.  Jika masalah teknisnya, belajar bersama disini bisa dengan mudah kita kuasai. Atau selengkapnya saya lihat di situs resminya Dinas Pertanian Kab. Jombang di http://pertanian.jombangkab.go.id. Lengkap juga disana informasinya. Hajing!!!.... (Mbah Suluh agak pilek)

Gufron        : Melamun, dalam hati, ini Mbah-mbah ini, tampang boleh kolot, tapi pemikirannya canggih juga ya… Langsung tersentak, Injih Mbah… Maaf.. Buanyak sebenarnya tanggapan masyarakat tentang Jenengan. Maaf, ada yang mengatakan Mbah Suluh sombong, masa nanami sawahnya jaraknya seperti itu, sudah luas kah lahannya. Dan masih banyak lagi..

Mbah Suluh        : Itu yang akan saya katakan, permasalahan yang ada justru masalah social. Kita harus siap dengan tanggapan masyarakat yang beragam. Bisa di caci maki juga ini. Hahahhaaaa…
Gak pa pa.. itulah tantangan dan ujiannya.  Tapi harus ada yang memulai.  Masalahnya kita akan merubah kebiasaan.  Membiasakan yang benar, lebih baik dari pada membenarkan yang biasa.

Gufron    : Iya. Terimakasih Mbah.. semoga menjadikan amal jariah dan membawa manfaat bagi masyarakat. (Sambil menggerakkan tangan dan mulai mencicipi kopi yang mulai dingin)

(RDP - Unit TI Kab. Jombang)


 

Add comment

Security code
Refresh