ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi

Tips dan Inovasi

cabe

BERTANAM CABAI DALAM POT ATAU POLYBAG

LATAR BELAKANG
Cabai merupakan komoditi penting, karena cabai yang identik punya cita rasa pedas serta menjadi salah satu komponen bumbu dalam setiap masakan Indonesia. Dan pada jenis Varietas tertentu seperti cabai rawit dapat dimakan segar, dikonsumsi mentah sebagai lalapan karena dapat menggugah selera lahap makan.
Apalagi dewasa ini adanya perkembangan teknologi, cabai tidak hanya untuk dikonsumsi segar, tetapi dapat diolah berbagai olahan seperti saos sambal, bubuk cabai, pasta cabai, masakan instan dan juga dapat dibuat obat anastesi dan melancarkan sirkulasi darah ke jantung.
Namun sekarang budidaya tanam cabai juga dihadapkan adanya cuaca ekstrem, curah hujan relative tinggi sepanjang tahun sehingga tanah becer kelembaban rendah, daerah sentra-sentra cabai kena bencana banjir dan longsor. Sedangkan budidaya tanaman cabai tidak tahan curah hujan yang tinggi di saat perkembangan, pembungaan dan pembentukan buah tanaman akan rusak dan mati.

 
tabela

CUACA EKSTREM TANAM TABELA, SIAPA TAKUT!

Perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir ini sangat mempengaruhi sektor pertanian. Perubahan iklim jangka panjang ini memungkinkan terjadinya penurunan produktivitas, stabilitas dan pendapatan pada daerah yang mengalami ketidak-tahanan pangan. Musim produksi bisa bergeser, pola tanam berubah, serangan hama dan penyakit pun dapat berubah.

Melalui kegiatan Sekolah Lapang bagi petani, penyuluh pertanian  dapat melakukan kegiatan pemberdayaan petani, dengan menyampaikan informasi mengenai iklim dan antisipasi serta adaptasi untuk mensiasati adanya perubahan iklim tersebut. Salah satunya dengan mensosialisasikan tanam padi sistem TABELA (Tabur Benih Langsung).

Tanam padi dengan sistem tabela ini dapat menjadi alternatif, karena memberikan beberapa keunggulan dari cara tanam konvensional karena dirasa lebih efisien, khususnya pada saat musim kemarau. Pada sistem tabela ini, sebelum benih ditabur ke lahan terlebih dahulu di kecambahkan di dalam karung yang basah selama 2 hari sampai calon akarnya kelihatan, kemudian barulah dimasukkan langsung ke lahan dalam lubang-lubang yang dibuat terlebih dahulu menggunakan kayu sederhana (tugal) yang berfungsi sebagai alat pembuat lubang dan sekaligus untuk mengatur jarak tanam.

   
peta

SIM & PETA DIGITAL, ALAT UTAMA PENYULUHAN MODERN

Dengan SIM (Sistem Informasi Manajemen) dan Peta Digital akan meningkatkan kualitas penyuluhan di Jombang. Tentunya manfaat pertama yang bisa dirasakan adalah adanya penguasaan data suatu wilayah. SIM akan memuat berbagai data diantaranya : Jenis komoditi, sumberdaya manusia, sumberdaya alam, kelembagaan, sarana prasarana, teknologi yang sudah dikembangkan dan berbagai data potensi yang ada di suatu wilayah. Dengan adanya penguasaan data ini selanjutnya diharapkan petugas/ PPL akan lebih mudah dalam memberikan penyuluhan kepada petani.

Kedua, melalui SIM-Peta digital akan memudahkan kumunikasi dan  informasi dari daerah ke kabupaten atau sebaliknya. Perkembangan situasi di lapangan nantinya cukup dilaporkan dengan cara SMS (Short Massage System) sehingga bisa lebih cepat diterima. Selanjutnya, informasi tersebut dapat diperoleh kapan pun dan dimanapun secara on line, asalkan tersedia jaringan internet.

Ketiga,  diketahuinya secara jelas perkembangan dan kemajuan pembangunan pertanian secara lebih terbuka. Dengan adanya SIM – peta digital akan dapat diketahui daerah yang sudah terbina dan daerah yang masih perlu dibina dengan berbagai program pertanian baik penyediaan infrastuktur maupun pemberdayaan masyarakat. Ini akan memudahkan pemerintah dalam membuat perencanaan sehingga tidak akan terjadi kegiatan yang tumpang tindih.

Keempat, sarana menentukan strategi. Penguasaan akan data dan informasi akan sangat menentukan penguasaan terhadap wilayah tersebut. Dengan SIM dan peta digital, setiap petak sawah akan diketahui. Dengan penguasaan data dan informasi tersebut dharapkan petugas dan kelompoktani mampu mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam wilayahnya. Kemudian mampu menyusun alternative strategi dan solusi untuk mencapai tujuan.

Kelima, dengan diselesaikannya SIM-Peta digital nantinya petugas dilapangan juga akan difasilitasi dengan lap top yang akan memudahkan dalam mengakses dan menyampaikan informasi. Melalui laptop yang terkoneksi dengan internet petugas/ PPL juga akan sangat mudah dalam mencari informasi apapun. Cukup masukkan kata kunci informasi yang dimaksud, tekan tombol “cari” maka ribuan informasi akan keluar.

Tentu, syarat dan kunci utamanya adalah SDM yang melek teknologi. Selamat datang era penyuluhan digital..... (AJM)

   

SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

Prinsip–prinsip Budidaya Padi Pola SRI

  • Tanaman  bibit  muda   berumur 7 - 12 hari setelah semai (hss)  siap ditanam
  • Tanam  bibit  satu  lubang  satu dengan  jarak  tanam 25 x 25 cm, 30 x 30 cm, 35 x 35 cm atau lebih jarang.
  • Pindah  tanam  harus segera mungkin (kurang 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal.
  • Pemberian  air  maks  2 cm   ( macak-macak )   dan   periode   tertentu   dikeringkan    sampai  pecah   (Irigasi berselang / terputus)
  • Penyiangan sejak awal sekitar umur 10 hari dan diulang 2 – 3 kali dengan interval 10 hari.
  • Menggunakan  pupuk organik (kompos atau pupuk hijau).

Kelebihan SRI

  1. Tanaman hemat air (pemberian air max 2 cm paling baik macak-macak sekitar 5mm) dan ada periode pengeringan sampai tanah pecah-pecah (irigasi terputus)
  2. Hemat biaya (butuh benih 5 kg/ha, tidak butuh biaya pencabutan bibit, tidak butuh biaya pindah bibit, tenaga tanam berkurang, dll)
  3. Hemat waktu (ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, panen lebih awal)

PENGOLAHAN TANAH

  1. Tanah dibajak sedalam 25 – 30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput-rumputan.
  2. Tanah digemburkan  dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna.
  3. Dianjurkan pada waktu pembajakan diberikan Pupuk Organik (Pupuk Kandang, bokhasi)

Yang harus diperhatikan dalam pengolahan tanah :

  1. Parit sekeliling petak.
  2. Parit ditengah petak.
  3. Pembuatan parit.
  4. Penataan lahan dan pembuatan saluran pada petakan (jarak 3 m dalam dan lebar saluran 30 cm)

Pemilahan Benih Bernas Dengan Larutan Garam

Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik / bernas, maka perlu benih tersebut dihasilkan sendiri maupun benih berlabel, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Masukkan air ke dalam ember, kemudian masukkan garam lalu dianggap cukup bila telur itik / telur ayam  bisa mengapung.
  2. Masukkan benih padi ke dalam ember, kemudian pisahkan benih yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam / yang bermutu
  3. Benih yang bermutu (temnggelam) tersebut direndam dalam air bersih selam 24 – 48 jam.
  4. Setelah direndam, selanjutnya diangin-anginkan (ditiriskan).

Persemaian Kering

Persemaian untuk Budidaya SRI tidak harus mempergunakan persemaian disawah, tetapi dapat dilakukan dengan mempergunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu / besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah : pemindahan, pencabutan dan penanaman. Proses persemaian adalah sebagai berikut :

  1. Benih yang dipergunakan dalam budidaya SRI tergantung pada kebiasaan / kesukaan petani (bermutu baik / bernas).
  2. Penyiapan tempat persemaian (baki, besek dll.) dilapisi dengan daun pisang yang sudah dilemaskan, kemudian diberikan tanah yang subur bercampur kompos (perbandingan 1 : 1), tinggi tanah pembibitan sekitar 4 cm.
  3. Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian, kemudian ditutup tanah tipis.

Persemaian Basah

Pada persemaian basah perlakuannya adalah sama dengan persemaian kering, yang membedakan cara pengairannya dan tempat / media dilahan sawah.

PENANAMAN

Dalam penanaman model SRI yaitu dengan :

  1. Pengaturan tanam dengan menggunakan caplak / pembuatan garis.
  2. Bibit berumur 7 - 12 hari setelah semai (hss) siap ditanam.
  3. Penanaman metode SRI dilakukan dengan menggunakan air yang menggenang.
  4. Tanam bibit dalam satu lubang satu.
  5. Jarak tanam  bisa menggunakan 25x25 cm, 30x30 cm, 35x35 cm dan atau lebih jarang lagi.
  6. Apabila bibit sudah siap tanam segera mungkin (kurang 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus. Bibit ditanam dangkal 1 – 1,5 cm dengan perakaran seperti huruf L.
  7. Setelah penanaman lakukan penggenangan hingga 1 – 2 cm selama 1 jam, kemudian keringkan.

PEMUPUKAN

Takaran pupuk an organik (kimia) mengikuti anjuran Dinas Pertanian / PPL atau kebiasaan setempat. Dibawah ini contoh pemupukan yang dilakukan pada demplot SRI :

  1. Pemupukan I pada umur 7 – 15 HST dengan dosis Urea 125 kg/ha, SP.36 100 kg/ha
  2. Pemupukan II pada umur 25 – 30 HST dengan dosis Urea 125 kg/ha
  3. Pemupukan III pada umur 25 – 30 HST dengan dosis ZA 100 kg/ha  (jika tanaman belum bagus)

PENYIANGAN

  1. Penyiangan dilakukan dengan mempergunakan alat penyiang jenis landak atau alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggembur tanah serta untuk meningkatkan aerasi zona perakaran. Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih, sesuai kondisi sawah, semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi
  2. Penggemburan tanah berarti menjaga  kestabilan rumah tangga tanah, agar tersedia oksigen selain menghindari persaingan energi dan nutrisi.

KEBUTUHAN AIR

Pemberian air dengan cara terputus-putus (intermitten) dengan ketinggian air dipetakan sawah maksimum 3 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm). Dan pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai pecah-pecah.

  1. Air harus diberikan cukup pada saat pengolahan tanah untuk memudahkan pembajakan.
  2. Pada saat tanam kondisi air macak-macak jangan terlalu tergenang.
  3. Pada masa pertumbuhan usahakan tanah dalam kondisi lembab.
  4. Pada saat penyiangan sebaiknya tanah digenangi air 1 – 3 cm.
  5. Pada fase pembuahan tanah juga sebaiknya digenangi air 1 – 3 cm.
  6. Pada fase pemasakan tanah sudah harus dikeringkan.

PENGENDALIAN OPT

  1. Pengendalian OPT dilakukan dengan metode Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT), dengan cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida dilakukan dalam kondisi tertentu sesuai kebutuhan  secara bijak dan selektif.
  2. Hama belalang, walang sangit, keong dibuatkan alat penangkap. Wereng dikendalikan dengan penaburan abu gosok.
  3. Penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakir, bila ternyata serangan hama dan penyakit belum dapat diatasi

MEWARISKAN ALAM YANG UTUH DAN LESTARI KEPADA ANAK CUCU SEBUAH HARAPAN BUDI DAYA PADI METODE SRI

Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah.

Indikasinya : bila digigit tidak berair. Dari pengalaman selama ini panen berlangsung lebih awal dibandingkan dengan sistem biasa / konvensional (dihitung dari mulai persemaian).