ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi “JOSMO” Senjata Petani Berburu Pengerat

“JOSMO” Senjata Petani Berburu Pengerat

E-mail Cetak PDF

Tikus adalah hewan pengerat yang mempunyai kemampuan berkembang biak sangat cepat. Periode bunting pada tikus adalah 21hari dengan sex rasio 4-12 ekor/kelahiran, dan tikus betina dapat kawin 48 jam setelah melahirkan. Dengan demikian selama 1 tahun sepasang tikus dapat berkembang biak sebanyak kurang lebih 1.000 ekor. Jadi bisa dibayangkan bila di lahan sawah terdapat banyak pasangan hama tikus maka pengendaliannya harus serentak dan berkelanjutan dan menggunakan cara yang tepat. Hama tikus merusak tanaman padi dengan cara memotong batang padi untuk kebutuhan mencari makan dan mengasah giginya. Pengendalian hama tikus harus dilakukan sejak dini yaitu mulai tahap olah tanah hingga tanaman padi melalui fase generatif (masak susu). Pada tahap awal dapat dilakukan dengan susuk wangan atau bongkar galeng yang bertujuan untuk menutup/ merusak sarang hama tikus yang ada di sekitar lahan. Kemudian pada tahap persemaian dapat menggunakan pagar plastik yang menggelilingi persemaian tersebut sehingga hama tikus tidak merusak persemaian padi. Pada saat tanam, penggunaan jarak tanam merupakan salah satu pengendalian juga. Dan selanjutnya pada fase vegetatif dan generatif dapat melakukan pengendalian hama tikus dengan pengumpanan, pengemposan dengan menggunkan belarang, dan gropyokan tikus dengan menggunakan anjing. Pergiliran tanam (misal. Padi-palawija-palawija) dapat memutus siklus kehidupan hama tikus di lahan tersebut.

Ketika umur padi diantara 50 HST, anggota poktan Borocilik yang berdiam di  Dusun Borocilik – Desa Gedangan – Kecamatan Sumobito – Kabupaten Jombang sangat peduli dengan pengamatan rutin di lahan. Karena pada kisaran umur tersebut tanaman padi di sawah sudah mulai digemari oleh salah satu hama yaitu tikus. Populasi hama tikus relatif sulit dikendalikan jika tidak dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Ketika hama tikus sudah menjadi “langganan” di daerah tersebut maka  pengendalian hama tikus harus dilakukan sejak dini.

Petani anggota Poktan Borocilik melakukan pengendalian hama tikus dengan pengemposan (fumigasi) menggunakan belerang dengan menggunakan JOSMO. Peralatan rakitan sendiri dari petugas POPT Jombang ini mengandalkan semburan api yang keluar dari ujung tongkat besi yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu membakar belerang yang diletakkan pada pintu lubang tikus.  Bahan bakar yang digunakan adalah dari elpiji sehingga sangat efektif digunakan di areal dengan lubang tikus yang tersebar dilahan pertanian.

Cara tersebut dirasakan efektif karena belerang secara langsung di letakkan di lubang/ sarang tikus yang aktif dan kemudian dibakar dan lubang sarang tikus tersebut ditutup dengan tanah sehingga asap belerang berada di dalam sarang tikus yang dapat mematikan hama tikus yang ada di dalam. Penggunaan belerang dalam pengemposan dilakukan untuk menambah kandungan racun di udara dalam lubang tikus sehingga berapapun jumlah tikus yang dilubang akan mati didalamnya.

Pengendalian hama tikus dilakukan hampir setiap hari setiap pagi dan sore untuk meminimalisir serangan tikus pada tanaman padi. Pembinaan penyuluh pertanian dengan kelompok tani bertujuan untuk membantu/ memfasilitasi solusi permasalahan yang ada di tingkat poktan. Dengan berbagi pengalaman dan informasi yang ada maka dapat dilakukan pemecahan masalah yang dihadapai. Dengan melakukan pengemposan merupakan salah satu pengendalian hama tikus yang relatif mudah, murah dan efektif dalam mengendalikan populasi hama tikus di lahan.

 

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh