ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi Penanganan Pasca Panen Tembakau

Penanganan Pasca Panen Tembakau

E-mail Cetak PDF

Desa Kedungdowo Kecamatan Ploso tepatnya di Kelompoktani Ganggang dengan Petani Abdul Qonip dengan luasan 29 Ha merupakan salah satu sentra tanaman tembakau di Kabupaten Jombang.  Mengolah hasil tembakau tidaklah semudah dan sesederhana seperti hasil panen tanaman lain seperti padi, jagung ataupun sayuran lainnya. Diperlukan waktu panjang, ketelatenan dan juga kesabaran. Berikut beberapa langkah dari petani dan penggarap  sebelum mereka bisa meraup untung dari hasil panen tahunan tembakau ini. Hal utama yang mempengaruhi kualitas tembakau adalah pemupukkan.  Langkah awal ini dilakukan sesaat sebelum menanam benih dan sesudah benih ditanampemupukkan, dengan cara melubangi tanah sekitar pohon, lalu menaburkan pupuk ke dalam lubangnya Kira-kira 3 bulan, dimulailah panen pertama pada daun tembakau. Memanen daun tembakau tidaklah mudah, haruslah bertahap dari daun paling bawah hingga daun paling atas, dan itu memakan waktu yang tidak sebentar. Dari memanen daun pertama sampai daun terakhir dibutuhkan waktu antara 4sampai dengan 4,5 bulan. Karena dalam satu batang pohon, daun tembakau dibagi dalam beberapa grid atau tingkatan. Tiap tingkatan itu menandakan kwalitas daun(petani tembakau menyebut totol) dan biasanya itu terlihat dari warna dan teraba dari aromanya. Untuk aroma memang hanya orang tertentu saja yang bisa menentukan apakah aromanya cukup atau kurang. Dan semakin keatas, kwalitas daun akan semakin tinggi dan hargapun semakin mahal.

Panen di awali dengan memetik daun yang paling bawah :
a.    Kwalitas A (Totol A) daun berwarna hijau, biasanya umur sekitat 3 bulan bisa mulai dipanen.
b.    Kwalitas B (Totol B) daun berwarna hijau tapi sudah mulai terlihat warna kuning diantaranya
c.    Kwalitas C (Totol C) daun berwarna kuning saja.
d.    Kwalitas D (Totol D) daun berwarna kuning agak kemerahan.
e.    Kwalitas E (Totol E) daunberwarna merah namun masih ada semburat kuningnya.
f.    Kwalitas F (Totol F) daun berwarna kemerahan.
g.    Kwalitas G (Totol G) daun berwarna merah atau yang disebut juga mbako Srinthil (tembakau dengan kwalitas paling bagus dan berharga sangat mahal).

Sebenarnya Totol F dan G hampir sama warna daunnya yang membedakan hanyalah pada proses memperamnya dikemudian hari. Karena setelah dipanen, daun tembakau tidak bisa lantas diolah, harus melalui proses memperamnya (biasa disebut daun imbon atau daun yang telah di imbu). diperam (diimbu) beberapa hari untuk mengurangi kadar air dalam daun.  Dan tiap Totol, proses memperamnya pun berbeda-beda Totol A diperam 2 hari, B diperam 3 hari,C diperam 4/5 hari,D diperam 6/7 hari,E dan F maksimal diperam 9 hari. Adapun dalam memperam itupun haruslah tepat waktu, tidak boleh berkurang ataupun berlebih karena akan menentukan kematangan dan kebusukan daun.

Selanjutnya, tahapan yang juga mempengaruhi kualitas tembakau adalah merajang.  Sekarang para petani/penggarap tembakau telah dimudahkan dengan mesin pengrajang tembakau yang super cepat. Dibandingkan dulu yang merajang dengan system manual layaknya seorang yang merajang sayur. Kini dalam semalam mesin pengrajang itu bisa menghasilkan berkwintal-kwintal tembakau rajangan.  Nganjang adalah proses menata rajangan tembakau pada satu tempat yang dinamakan irig untuk kemudian dijemur. Perlu ketelatenan dan juga ketrampilan dalam proses ini. Karena ada cara khusus sebelum akhirnya rajangan tembakau itu tertata rapi di atas irig. Rajangan tembakau harus tetap rapi dan memanjang sehingga setelah kering mudah untuk digulung. perlu kerapian, ketelatenan dan keseriusan pada proses ini karena rajangan tembakau harus benar-benar memanjang dan tidak terputus tiap irisannya

Setelah dijemur dengan cukup kekeringannya, rajangan tembakau dalam irig itu ditata dan ditaruh diudara terbuka  semalaman yang memungkinkan terkena embun pagi. Semakin dingin cuaca maka hasil rajangan tembakau itu akan semakin baik. Selanjutnya proses yang harus dilakukan adalah menjantur/ menggantung merupakan salah satu proses dalam mengeringkan tembakau. Perusahan pembeli biasanya selain membeli tembakau dalam bentuk rajangan juga membeli tembakau dalam bentuk janturan tergantung kerjasama yg dilakukan sebelumnya dengan kandungan kadar air tertentu. Petani dapat menjual hasil panen tembakau kepada tengkulak atau bisa kemitraan dengan perusahaan sesuai dengan perjanjian sebelumnya.  Dalam proses penjemuran, selain harus sering dibolak balik, para penggarap haruslah selalu waspada terhadap cuaca, jangan sampai jemuran tembakau ini terkena sedikitpun air(hujan) karena jika kehujanan rajangan tembakau itu akan membusuk, dan tembakau tidak layak jual. cuaca panas sangat diharapkan

Setelah proses pengembunan dirasa cukup, tibalah waktunya menata rajangan tembakau dan dimasukkan dalam keranjang tembakau.  Cara memasukkanpun tidak sembarang, ada beberapa langkah yang harus dilakukan penggarap, seperti menata terlebih dahulu lembaran-lembaran pelepah batang pisang kering yang nantinya digunakan sebagai penutup keranjang dan sebagainya. Adapun isi dalam satu keranjang bisa mencapai 40 sampai dengan 50 kilogram tembakau. Keranjangnya sendiri mempunyai berat kisaran 6 sampai 7 kilogram. Setelah selesai pengepakkan barulah penggarap itu bisa menjual tembakau pada tengkulak atau menjual sendiri pada gudang-gudang penerima hasil tembakau

Meski demikian, petani dan penggarap khususnya Kelompoktani Ganggang yang berada di Desa Kedungdowo Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang, banyak yang menggantungkan kehidupannya pada hasil tanaman musiman ini dimana dalam satu Desa   seluas 118 Ha tanaman tembakau. Mereka selalu berharap hasil dari panen yang hanya sekali dalam setahun ini bisa menutupi kebutuhan selama setahun. Karena jika cuaca mendukung, kemarau yang sampai berdebu, hasil panen bisa dipastikan berhasil dan mereka meraup keuntungan yang tidak sedikit. Dengan mengulas sedikit dari jerih payah petani dan penggarap tembakau ini, ada harapan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan kelanjutan hidup mereka. Padahal tidak bisa dipungkiri mereka telah menyumbangkan devisa yang besar pada negara.  
(Setyawati, Tim TI Ploso)

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh