ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi Tumpangsari Tanaman Hias Dengan Sayur Dan Toga

Tumpangsari Tanaman Hias Dengan Sayur Dan Toga

E-mail Cetak PDF

Pemanfaatan pekarangan rumah memang sangat tergantung kreatifitas pemiliknya.  Hal ini tentunya juga dilakukan dalam upaya mencukupi kebutuhan dan keinginan pribadi.  Masyarakat yang senang tanaman hias, akan memenuhi halaman rumah dengan berbagai tanaman hias kesukaannya.  Bagi sebagian masyarakat yang lain, justru tanaman sayur dan buah atau biofarmaka (TOGA) menjadi pilihan bijak dalam menunjang ekonomi keluarga.  Dengan penataan sesuai selera, akan diciptakan suasana rumah yang nyaman dan asri sesuai kebutuhan pemiliknya.

 

Namun tidak sedikit pula masyarakat yang mampu memadukan berbagai jenis tanaman untuk mencukupi kebutuhan mereka sehingga memiliki manfaat secara ekonomis, estetika maupun dari segi kesehatannya.  Seperti yang dilakukan Bu Leny Anjarwati yang gemar menanam berbagai jenis tanaman di halaman rumahnya.  Mulai dari tanaman buah, tanaman hias, biofarmaka serta tanaman sayur.  Ditengah kesibukannya sebagai pegawai, beliau menyempatkan diri untuk berkebun memanfaatkan pekarangan yang ada. 

Yang unik dilakukan Bu Leny adalah tanaman tumpang sari dalam satu pot, antara tanaman hias dengan tanaman sayur.  Dalam satu pot, tanaman aglaonema ternyata masih bisa ditumpang sari dengan tanaman cabe kecil.  Terlihat lucu memang, namun dari segi manfaat ternyata sangat ekonomis.  Dalam aktifitas, Mbak Leny panggilan akrapnya menyatakan bahwa tumpang sari dilakukan karena tanaman aglaonema masih relatif kecil.  Dalam 2-3 bulan tanaman cabae sudah mulai membesar dan belajar berbuah.  Seiring pertumbuhan tanaman aglaonema  yang terus tumbuh, produksi cabe bisa diperoleh untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Menjelang tanaman cabe yang sudah mulai tidak produktif, maka bisa dicabut dan pertumbuhan tanaman agalonema bisa lebih optimal. 

Selain itu bisa juga dilakukan tanaman tumpang sari antara tanaman hias lain dengan tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga) atau biofarmaka.  Hal ini seperti yang dilakukan Bu Binti Astuti.  Ibu dari 3 anak ini ternyata gemar melakukan tumpang sari antara beberapa jenis tanaman hias dengan tanaman kencur.  Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan ruang Pot yang ada sebagai lahan produksi biofarmaka.  “Tanaman kencur sudah menjadi kebutuhan pokok bagi keluarga kami, mengingat anak-anak masih kecil sangat rawan dengan sakit batuk dengan berbagai penyebab, maka obat alami yang menjadi prioritas kami sangat dibutuhkan”.  Ungkapnya sambil menyiram beberapa pot tanaman. 

Dari kegiatan perawatan tanaman pekarangan ternyata mampu memberikan manfaat yang sesuai kebutuhan masyarakat.  Tanaman akan menghasilkan produk segar dan berkualitas tinggi, nilai gizi yang tetap terjaga dan residu kimia yang mampu diminimalisir.  Hal ini tentunya akan sangat berdampak positif bagi masyarakat apaboila bisa dilaksanakan dalam skala luas. 

Kunci keberhasilan dari upaya ini adalah tingkat kesuburan media tanam.  Kesuburuan yang dimaksud adalah kesuburan fisik, kkimia dan biologi media.  Kesuburan fisik artinya, media harus porous dan gembur.  Sedangkan subur dalam arti kimia adalah dalam media tanam terdapat unsur kimia yang dibutuhkan oleh tanaman.  Dan kesuburan biologis dalam arti, media tanam terdapat mikroorganisme yang membantu proses penyerapan unsur hara tanaman.  Hal ini bisa dicukupi dengan penggunaan pupuk organik yang cukup.

Beberapa Contoh komposisi media yang bisa digunakan antara lain campuran dari Arang sekam, Kompos, Pupuk kandang, Pasir Malang, Pakis cacah dengan perbandingan sama.  Bisa ditambahkan Fungisida dan beberapa insektisida serta perangsang tumbuh atau POC (Pupuk Organik Cair) untuk mengantisipasi serangan hama penyakit.  Dengan kadar air sekitar 60-70% akan mendukung pertumbuhan tanaman.

 

 

Add comment

Security code
Refresh