ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi Penyakit Karena Jamur Pada Hama Penggerek Buah Kopi

Penyakit Karena Jamur Pada Hama Penggerek Buah Kopi

E-mail Cetak PDF

Di Indonesia kopi merupakan salah satu komiditi ekspor yang mempunyai arti yang cukup penting. Selain sebagai komoditi ekspor, kopi juga merupakan komoditi yang dikonsumsi di dalam negeri. Menurut survei yang pernah dilakukan Departemen Pertanian, rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi kopi sebanyak 0,5 kg/orang/tahun (Najiyati dan Danarti, 2001). Dengan demikian dengan jumlah penduduk Indonesia ± 170 juta, maka diperkirakan setiap tahun diperlukan stok kopi sebanyak 85.000 ton kopi untuk keperluan konsumsi dalam negeri.

 

Jombang merupakan salah satu Kabupaten pemasok kopi terbesar bagi Indonesia untuk diekspor ke luar negeri. Kabupateni Jombang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen utama kopi Indonesia dan sekaligus juga merupakan pintu gerbang utama ekspor kopi Indonesia (AEKI, 2011).

Pertanaman kopi di Jombang pada umumnya bersistem monokultur (Afandi, 2004). Pola tanam kopi monokultur ini memiliki beberapa kelemahan antara lain lebih rentan terhadap gangguan OPT, memiliki masukan seresah yang rendah, kanopi terbuka, dan kondisi iklim mikronya yang kering yang tidak cocok bagi aktivitas musuh alami hama tanaman (Staver et al., 2001). Untuk memperbaiki ekosistem tersebut dilakukan penanaman kopi bernaungan atau sistem agroforestri.

Di pertanaman kopi banyak terdapat gangguan-gangguan yang sangat merugikan, salah satunya yaitu hama penggerek buah kopi (Pbko). Kumbang dan larva hama ini menyerang buah kopi yang sudah cukup keras dengan membuat liang gerekan dan hidup di dalam bijinya, sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah (Najiyati dan Danarti, 2001).

Penerapan sistem agroforestri pada tanaman kopi yang dicirikan oleh banyaknya pohon penaung memberi beberapa manfaat. Sistem ini dapat meningkatkan keragaman hayati, mengkonservasi kesuburan tanah, dan meningkatkan kesehatan tanaman. Sistem agroforestri memiliki kemiripan dengan hutan yaitu ekosistemnya yang stabil sehingga mampu menghambat perkembangan OPT pada tanaman kopi (Staver et al., 2001).

Di alam Pbko dapat diinfeksi oleh jamur patogen. Jamur-jamur yang dapat menyerang Pbko antara lain Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Botrytis stephanoderis dan Spicaria javanica (Sudarmo, 1989). Jamur-jamur pada umumnya dapat tumbuh pada keadaan lingkungan yang lembab. Sistem agroforestri kopi dengan pohon penaung diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas jamur patogen sebagai musuh alami hama kopi ini. Informasi mengenai keterjadian penyakit jamur pada hama Pbko pada agroforestri masih terbatas.

Penentuan Terjadinya Penyakit pada Pbko dan Identifikasi Jamur Patogen

Buah-buah kopi yang terserang Pbko (berlubang gerekan) dan bertanda jamur dikumpulkan dan dihitung jumlahnya. Buah kopi bertanda jamur adalah yang pada bekas lubang gerekan Pbko ditumbuhi oleh massa jamur. Buah yang berlubang gerekan dan bertanda jamur tersebut kemudian dibelah, serangganya diambil dan jamurnya diisolasi. Isolasi jamur dilakukan dengan cara menumbuhkan jamur pada serangga ke media PDA. Media PDA terbuat dari aquades, kentang, gula, dan agar. Jamur-jamur yang tumbuh kemudian dimurnikan kembali sehingga mendapatkan isolat jamur. Isolat jamur tersebut kemudian diidentifikasi dengan bantuan buku Barnett (1960).

Berkaitan dengan pertumbuhan jamur patogen yang menghendaki keadaan lingkungan yang lembab. Soetopo dan Indrayani (2007) menyatakan bahwa umumnya cendawan entomopatogen membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat menginfeksi serangga, oleh karena itu epizootiknya di alam biasanya terbentuk pada saat kondisi lingkungan lembab.

Terjadinya penyakit pada buah yang ada di tanah lebih tinggi dibandingkan dengan keterjadian penyakit pada buah yang masih berada di pohon, baik pada sistem agroforestri kompleks maupun pada agroforestri sederhana. Hal ini mungkin berkaitan dengan sedikitnya cahaya yang mengenai buah-buah yang berada di tanah dibandingkan dengan yang mengenai buah-buah di pohon. Seresah menutupi buah-buah kopi di tanah sehingga sangat sedikit cahaya yang mengenai buah-buah kopi tersebut. Sementara itu buah-buah kopi di pohon menerima cahaya yang relatif lebih banyak walaupun mendapat naungan dari tajuk pohon-pohon penaung. Naungan pohon pada sistem agroforestri kompleks lebih efektif mengurangi intensitas cahaya daripada naungan pada sistem agroforestri sederhana. Tetapi pengurangan intensitas cahaya oleh seresah lebih efektif daripada oleh naungan pada kedua sistem agroforestri tersebut.

Habitat jamur patogen mungkin juga mempengaruhi keterjadian penyakit jamur. Menurut Arifin et al. (2010) jamur patogen, misalnya B.bassiana, terdapat di dalam tanah sebagai saprofit. Jamur-jamur entomopatogen lainnya juga dapat bertahan dalam tanah dalam bentuk spora rehat selama beberapa tahun dan dalam bentuk miselia atau konidia untuk beberapa bulan (Inglish et al. 1997 dalam Hasyim 2006).

Keterjadian penyakit pada hama Pbko di agroforestri kompleks lebih tinggi dibandingkan dengan keterjadian penyakit di agroforestri sederhana. Sistem agroforestri kompleks memiliki iklim mikro yang mendukung untuk petumbuhan jamur patogen dan nampaknya dapat mengkonservasi jamur patogen sebagai musuh alami.

Irianto Budi Santosa, SP - POPT KABUPATEN JOMBANG

 

Add comment

Security code
Refresh