ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi Varietas Unggul Lada Tahan Penyakit Busuk Pangkal Batang

Varietas Unggul Lada Tahan Penyakit Busuk Pangkal Batang

E-mail Cetak PDF

Berbagai jenis OPT ditemukan pada tanaman lada, baik serangga hama maupun penyakit, dan menjadi kendala penting dalam budi daya lada. Penyakit penting pada tanaman lada adalah busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici Leonian (Mano- hara et al. 2005). Tanaman yang terserang pada pangkal batangnya akan menun- jukkan gejala layu dan akhirnya mati. Serangan pada daun akan menimbulkan nekrosis dan sporangium dengan sporanya (zoospora) terdapat pada permukaan nekrosis. Kerusakan tanaman akibat penyakit BPB mencapai 10 - 15%/tahun (Kasim 1990).

Upaya mengendalikan penyakit BPB telah dilakukan melalui berbagai pende- katan, antara lain mengembangkan agens hayati (Wahyuno et al. 2003), pengen- dalian terpadu melalui kultur teknis (Manohara et al. 2004a; 2004b) disertai penggunaan fungisida secara bijaksana. Fungisida tetap digunakan dalam pe- ngendalian penyakit BPB, namun dalam jumlah yang minimal karena efektif dan mudah dilakukan. Gejala BPB yang terlihat sebenarnya merupakan infeksi lanjut yang terjadi di dalam tanah. Dalam kondisi yang demikian, pemakaian fungisida tidak dapat dihindarkan untuk menekan risiko penye- baran patogen.
Fungisida menjadi input yang mahal dalam usaha tani lada karena sebagian besar petani lada di Indonesia bermodal kecil. Petani hanya akan menggunakan fungisida untuk mengendalikan BPB saat harga lada sedang tinggi (Manohara et al. 2005). Fungisida menjadi satu-satunya pilihan untuk mengendalikan BPB apabila patogen penyakit tersebut telah ada dalam jaringan tanaman (Schwinn 1983). Fosetil-Al dan fosfonat merupakan fungi- sida sistemik yang efektif mematikan zoospora P. capsici di laboratorium (Wahyuno dan Manohara 1993). Oleh karena itu, perlu dikembangkan komponen pengendalian lainnya untuk menekan kerugian yang disebabkan oleh BPB.

Pengembangan varietas lada tahan BPB menjadi pertimbangan untuk menekan biaya produksi melalui pengurangan penggunaan fungisida. Pada tanaman kentang, masalah penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Phytophthora infestans didekati dengan mengembang- kan varietas tahan dan penggunaan fungisida karena kedua komponen tersebut dianggap sesuai untuk petani bermodal kecil (Grunwald et al. 2002). Permintaan pasar akan produk yang bebas cemaran bahan kimia dan isu lingkungan mendorong upaya untuk memperoleh varietas kentang yang mempunyai ketahanan lebih lama melalui persilangan (Flier et al. 2003). Penggunaan varietas kentang tahan  terhadap hawar  daun pada  budidaya kentang secara intensif nyata menurunkan pemakaian fungisida (Andrivon et al. 2003). Pada cabai (bell pepper), penggunaan varietas tahan merupakan cara yang efektif untuk menekan hawar daun karena beberapa isolat P. capsici penye- bab hawar daun cabai diketahui kebal terhadap fungisida tertentu (Ristaino dan Johnston 1999). Selain itu, Phytophthora spp. merupakan kelompok Oomycetes yang memiliki siklus biokimia yang ber- beda dengan jamur lain yang ditemukan pada tanaman budi daya sehingga hanya sedikit fungisida yang efektif (Drenth dan Guest 2004).

STATUS PENYAKIT BPB

Spesies Phytophthora penyebab BPB pada lada yang dominan adalah P. capsici, meskipun dalam spesies tersebut terdapat variasi morfologi dan virulensi. Di Indo- nesia, gejala BPB pertama kali dilaporkan pada tahun 1885, dan diidentifikasi dise- babkan oleh P. palmivora var. piperis (Muller 1936). Penyebab gejala tersebut diidentifikasi pula sebagai P. palmivora MF 4 karena mempunyai karakteristik morfologi sedikit berbeda dengan yang menyerang kakao (Tsao et al. 1985). Terakhir, jamur patogen tersebut dimasuk- kan ke dalam jenis P. capsici sensu lato (Tsao dan Alizadeh 1988).  Manohara dan Sato (1992) melaporkan Phytophthora yang menyerang lada memiliki bentuk sporangium yang bervariasi dalam satu spesies, yang diduga bukan dari jenis P.  capsici. Selanjutnya  dinya takan bahwa terdapat dua tipe kawin jamur tersebut, yaitu A1 dan A2, yang memungkinkan jamur melakukan plasmogami dengan membentuk oospora.

Gejala dan jamur Phytophthora capsici penyebab busuk pangkal batang (BPB) pada lada; (a) tanaman lada terserang BPB, (b) gejala khas serangan P. capsici pada daun, dan (c) sporangium P. capsici dengan zoospora.

Perkawinan tersebut menghasilkan keturunan yang mungkin lebih virulen atau lebih lemah daripada induknya. Oospora dapat ter- bentuk pada jaringan daun, batang atau akar tanaman lada yang terinfeksi oleh dua tipe kawin yang berbeda tersebut (Wahyuno dan Manohara 1995). P. infestans yang menyerang  kentang  akan meningkatkan variasi  populasi  P.  infestans sehingga jamur patogen tersebut dapat beradaptasi dengan cepat terhadap fungisida dan varietas kentang yang tahan (Flier et al. 2003). Beberapa karakteristik spesies Phytophthora yang membuatnya efektif sebagai jamur parasit pada tanaman adalah: 1) memiliki bentuk zoospora, klamidospora, dan oospora dalam siklus hidupnya, 2) mampu bereproduksi (meng- hasilkan zoospora) dalam waktu 3-5 hari sehingga mendorong terjadinya multi- siklus, 3) zoospora bergerak aktif menuju perakaran tanaman, 4) mudah tersebar jauh melalui percikan air hujan, air irigasi, dan udara, 5) dapat bertahan di luar ja- ringan tanaman sebagai klamidospora atau oospora, 6) terbatasnya jenis fungisida yang efektif, dan 7) berkembang cepat pada musim hujan (Drenth dan Guest 2004a).

Phytophthora mudah terbawa air, tanah atau bagian tanaman yang terserang sehingga jamur patogen tersebut ke- mungkinan terdapat pada daerah pengem- bangan lada. Phytophthora telah dite- mukan hampir di semua pertanaman lada di Indonesia (Tabel 1). Populasi Phytoph- thora memiliki virulensi yang bervariasi terhadap tanaman lada budi daya maupun lada liar (Wahyuno et al. 2007; 2010) sehingga perlu dipertimbangkan dalam mendapatkan varietas lada tahan BPB.

Hasil uji inokulasi 50 isolat P. capsici pada lada menunjukkan adanya variasi virulensi di antara isolat tersebut. Virulensi tidak berkaitan dengan tipe kawin, asal isolat maupun bagian tanaman asal isolat tersebut diisolasi (Wahyuno et al. 2007). Lima puluh isolat P. capsici asal lada tersebut juga menunjukkan tingkat virulensi yang berbeda saat diinokulasikan pada daun Piper spp. Beberapa isolat lebih virulen pada P. betle, P. cubeba, P. nigrum, dan P. sarmentosum, dan sebagian isolat lebih infektif pada P. colubrinum dan P. hispidum.

Persilangan Intraspesies Piper nigrum

Untuk memperoleh varietas lada tahan BPB dan berproduksi tinggi telah dila- kukan persilangan secara konvensional di antara jenis dan aksesi lada yang ada. Persilangan telah menghasilkan ratusan individu F1 (Setijono 2009). Dari 400 hasil persilangan turunan individu F1, 15 aksesi di antaranya diuji lebih lanjut di rumah kaca, dan hanya tiga aksesi yang menunjukkan luas serangan kurang dari 10% saat diuji di laboratorium dan rumah kaca. Hal ini menun- jukkan adanya peluang memperoleh varietas lada yang mempunyai ketahanan lebih baik dibanding varietas yang sudah ada, meskipun persentasenya rendah (0,75%) dan memerlukan waktu yang lama. Daya tahan aksesi tersebut di lapang belum dievaluasi secara menyeluruh. Persilangan lebih lanjut perlu dilakukan, baik persilangan balik maupun persi- langan dengan aksesi lain yang menunjukkan indikasi ketahanan yang lebih baik terhadap BPB.
Persilangan Interspesies Piper spp.


Tidak semua Piper spp. mempunyai ketahanan yang lebih baik dibanding lada budi daya (P. nigrum). Kasim (1981) meng- gunakan isolat P. capsici untuk mengi- nokulasi daun dan batang tujuh spesies lada melalui pelukaan. Semua spesies yang diuji terserang P. capsici, baik daun, batang maupun akarnya. P. miniatum BI. (sin. P. auriculatum), P. hispidum Swartz (sin. P. hirsutum), dan P. cubeba L. termasuk jenis colubrinum dan P. hispidum cenderung mempunyai sifat ketahanan terhadap P. capsici yang lebih baik daripada P. nigrum (Susilowati et al. 2006). Saat ini telah diperoleh F1 hasil persilangan antara P. nigrum (tetua betina) dan P. colubrinum,P. cubeba, dan P. hirsutum sebagai tetua jantan.

Hasil persilangan tersebut saat ini sedang dikarakterisasi pertumbuhan dan produksinya (Setijono, komunikasi pri- badi). Di India, P. colubrinum yang berasal dari Amerika Selatan tahan terhadap P. capsici (Anandaraj 2000). Sasikumar et al. (1999) dalam Ravindran et al. (2000) berhasil menyilangkan P. nigrum dengan P. attenuatum dan P. barberi. Turunannya mempunyai jumlah kromosom 52 (2n = 52), sama dengan tetuanya (P. nigrum). Namun, penampilan produksi maupun daya tahannya terhadap BPB belum diketahui.

 

Pengembangan Komponen Pengendalian Pendukung

Sampai saat ini belum diketahui ras P. capsici  yang  menyerang  lada karena kisaran inang P. capsici relatif luas. Hasil inokulasi buatan pada daun beberapa jenis lada mengindikasikan adanya isolate P. capsici yang infektif pada P. colubrinum dan P. hispidum. Untuk spesies Phytophthora yang mempunyai kisaran inang relatif sempit, sudah ditemukan ras-ras dalam populasinya, yaitu P. infestans pada kentang (Stewart et al. 2003) dan P. megasperma f.sp. glycine pada kedelai (Laviolette dan Athow 1983; Keeling 1984). Pada kondisi seperti itu, pengem- bangan varietas dapat disesuaikan dengan jenis ras yang ada pada masing- masing lokasi dan didukung dengan komponen pengendalian lainnya. Untuk mengendalikan spesies Phytophthora yang mempunyai kisaran inang luas, tidak cukup hanya mengandalkan satu kom- ponen pengendalian, tetapi perlu melibatkan komponen pengendalian lainnya. Pada kakao, ketahanan tanaman di lapangan berkaitan dengan kepekaan buah, kemampuan Phytophthora berkembang pada tanaman, struktur tanaman, dan periode pembuahan (Saul-Maora et al. 2003).

Ketahanan tanaman di lapangan tidak selalu terdeteksi saat pengujian di rumah kaca, dan ketahanan di lapangan dapat dipertahankan lebih lama bila disertai aplikasi komponen teknologi budi daya lainnya. Ketahanan vertikal dapat diper- tahankan lebih lama dengan menerapkan pola tanam yang tepat, dilakukan di daerah dengan iklim yang tertutup (ada pemo- tongan siklus hidup), dan ditunjang de- ngan teknik pengendalian lainnya seperti fungisida,  dan  peraturan pemerintah. (Semangun 2002). Irianto Budi Santosa, SP - POPT KABUPATEN JOMBANG

 

Add comment

Security code
Refresh