ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi PENGENDALIAN HAMA BRONTISPA LONGISSIMA PADA JANUR KELAPA

PENGENDALIAN HAMA BRONTISPA LONGISSIMA PADA JANUR KELAPA

E-mail Cetak PDF

Kelapa Indonesia menjadi ajang bisnis raksasa mulai dari pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida), proses produksi, pengolahan produk kelapa (turunan dari daging, tempurung, sabut, kayu, lidi, dan nira), dan aktivitas penunjangnya (keuangan, irigasi, transportasi, perdagangan). Produksi buah kelapa rata-rata. 15,5 milyar butir per tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut (Suryana et al., 2005)..Brontispa longissima merupakan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) asli Indonesia.

 

Brontispa longissima merupakan serangga hama yang merusak pucuk tanaman kelapa mulai dari di pembibitan sampai pada tanaman kelapa tua dilapangan. Selain kehilangan hasil, serangan hama ini juga dapat mengakibatkan kematian pada tanaman muda. Inang alternatif dari B. longissimaantara lain pinang, sagu, kelapa sawit dan tanaman palma lainnya.

Hama ini pertama kali dilaporkan di Indonesia di Kepulauan Aru (Kep. Maluku) pada tahun 1885, namun sekarang hama ini telah menyebar luas ke provinsii lain di Indonesia seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan barat, Kalimantan Timur, Irian Jaya, Nusa Tenggara Timur, Bali, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah.

Pengendalian B. longissima dengan menggunakan pestisida memberikan efektivitas yang tidak maksimal, karena membahayakan lingkungan.

Siklus Hidup

Masa inkubasi telur 3-7 hari.Tahap perkembangan larva 23-54 hari, pupa 4-6 hari. Lama hidup kumbang berkisar 2,5-3 bulan. Perkembangan dari telur sampai imago 5-7 minggu.Rata-rata satu ekor betina dapat meletakkan telur sebanyak 50-117 butir.

Larva dan imago Brontispa longissima memakan permukaan dalam janur kelapa yang belum membuka, menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat memanjang dan menyatu sehingga janur kelapa menjadi keriput seperti terbakar.

Hama ini tidak menyukai cahaya sehingga pada saat daun terbuka, larva dan imago akan berpindah menyerang daun yang lebih muda. Pada serangan berat anak daun tidak membuka sempurna, asimilasi daun terhambat, buah mudah gugur, dan dapat mematikan tanaman.

Gerakan Pengendaliannya

Sebelum melakukan pengendalian ada baiknya dilakukan pengamatan pada 10 pohon/ha kemudian dihitung jumlah kumbang pada setiap pelepah muda dengan cara membuka pinak daun yang masih tertutup (janur). Jika jumlah rata-rata kumbang Brontispa longissima sudah mencapai 10 ekor/tanaman maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan.

Kultur Teknis

Pemupukan, pengelolaan air dan sanitasi kebun untuk menunjang pertumbuhan tanaman yang baik. Tindakan ini dilakukan mengingat tanaman kelapa akan lebih rentan terhadap serangan Brontispa longissima jika keadaan kebun tidak terpelihara dan tanahnya tergenang.

Mekanis

Dilakukan dengan mengikat, memotong, menurunkan dengan tali, dan membakar janur kelapa yang terserang Brontispa longissima.Pemotongan pucuk janur ini diulang setelah pucuk baru tumbuh lagi sampai gejala serangan hilang.Cara ini cukup mudah dan murah, namun cukup sulit untuk tanaman yang tinggi.

Hayati Pengendalian secara hayati adalah kegiatan mengendalikan populasi hama dengan menggunakan parasitoid, predator, dan entomopatogen yang merupakan musuh alami dari hama tersebut.

Saat ini musuh alami yang potensial dalam mengendalikan hama Brontispa longissima adalah parasitoid Tetrastichus brontispae, predator Cocopet (Chelisoches morio), dan entomopatogen Metarhizium anisopliae.

Pelepasan Parasitoid Tetrastichus brontispae

Aplikasi parasitoid Tetrastichus dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Parasitoid Tetrastichus terletak dalam koker yang berisi pupa terparasit. Satu koker berisi ±10 pupa.
  2. Ikat koker dengan kawat kemudian gantungkan pada pelepah tanaman yang terserang hama Brontispa.
  3. Pelepasan parasitoid Tetrastichus dapat dilakukan pada lima titik dalam satu hektar tergantung tingkat kerusakan tanaman dan populasi hama.
  4. Jangan meletakkan pada tanaman yang tidak terserang Brontispa, Tetrastichus akan mati karena tidak memiliki sumber makanan.

Pelepasan Predator Cocopet (Chelisoches morio)

Cocopet tidak hanya memangsa satu stadia perkembangan hama Brontispa longissima namun hampir semua tahap perkembangan seperti larva, pupa dan imago serta dapat memangsa Brontispa longissima secara berkelanjutan selama hidupnya.

Cocopet dapat diperbanyak menggunakan media campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1.Makanan untuk cocopet dapat menggunakan bahan-bahan organik, kompos, dan sisa-sisa sampah.Makanan diganti atau ditambahkan setiap 2-3 hari sekali.

Sebagai suplemen dalam perbanyakan massal ini pada setiap wadah perbanyakan ditambahkan serasah daun kelapa kering sebagai tempat persembunyian Cocopet (karena Cocopet cenderung merupakan binatang yang tidak menyukai cahaya terang), dan sebagai tempat meletakkan telurnya.

Setelah dilakukan perbanyakan Cocopet dapat dilepaskan pada bagian pucuk tanaman yang terserang hama Brontispa. Jumlahnya dapat disesuaikan tergantung tingkat kerusakan tanaman dan populasi hama.

Penggunaan Entomopatogen Metarhizium anisopliae

Jamur Metarhizium dapat diaplikasikan dengan cara membuat suspensi cendawan kemudian disemprotkan pada tanaman kelapa yang terserang hama Brontispa.
Cairan semprot diaplikasikan pada bagian pucuk sekitar 100 ml pertanaman.Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dan hindari sinar matahari langsung.

Karantina

Telur, larva, pupa atau imago Brontispa longissima dapat menyebar dari daerah yang terserang ke daerah lain melalui bahan tanaman yang terserang (bibit kelapa atau palma hias), tubuh manusia, hewan, dan kendaraan. Pada saat mengekspor produk-produk pertanian dari daerah serangan Brontispa hindari penggunaan daun kelapa sebagai pembungkusnya.Peraturan karantina perlu diterapkan untuk menghindari penyebaran ke daerah-daerah lain yang masih bebas serangan Brontispa longissima.

Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pestisida yang dapat digunakan antara lain Spontan, diaplikasikan dengan cara injeksi batang dan infus akar pada tanaman terserang, dengan dosis 10-15 cc / batang.

Penulis : irianto budi santosa, sp - popt kabupaten jombang

 

 

Add comment

Security code
Refresh