ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi PENGELOLAAN PENYAKIT KUNING DI TANAMAN LADA OLEH PETANI JOMBANG

PENGELOLAAN PENYAKIT KUNING DI TANAMAN LADA OLEH PETANI JOMBANG

E-mail Cetak PDF

Lada (Piper nigrum) merupakan jenis rempah yang paling sering digunakan  di Eropa dibandingkan dengan rempah-rempah lainnya. Penghasil yang terkenal sebagai penghasil lada putih atau muntok white pepper. Daras dan Pranowo (2009) melaporkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu produsen lada yang diperhitungkan di pasar dunia, namun produktivitas lada nasional terus menurun dalam sepuluh tahun terakhir. Faktor yang mempengaruhi produksi lada ialah gangguan penyakit, antara lain penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Phytophthora capsici dan penyakit kuning yang disebabkan oleh nematoda (Manohara et al. 2006).

Penyakit kuning pada tanaman lada yang disebabkan oleh nematoda parasit tumbuhan hingga kini masih menjadi masalah utama pada pertanaman lada di wilayah Kabupaten Jombang. Kehilangan hasil berupa penurunan produksi lada yang diakibatkan oleh penyakit kuning cukup besar. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam pengelolaan penyakit kuning pada tanaman lada di Kabupaten Jombang. Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat kejadian penyakit kuning sudah merata dan menyerang hampir semua lahan yang diamati.

Hampir semua petani  menyatakan bahwa penyakit kuning merupakan penyakit utama yang sangat merusak pertanaman lada.Tingkat pemahaman petani terhadap penyebab, gejala dan ekologi penyakit kuning dan cara-cara pengendaliannya masih sangat terbatas. Tindakan pengendalian yang dilakukan oleh petani terhadap  penyakit kuning ialah pencabutan dan pembakaran tanaman terserang, dan pemberian kapur. Beberapa petani tidak melakukan tindakan pengendalian, namun sebagian besar petani menggunakan pestisida. Penggunaan pestisida untuk pengendalian penyakit kuning oleh petani belum sepenuhnya mengikuti prinsip pengendalian hama terpadu.Masih rendahnya pemahaman petani terhadap penyakit kuning mengakibatkan semakin sulit bagi petani untuk melakukan pengendaliannya

Penyakit kuning merupakan salah satu penyakit penting pada pertanaman lada di wilayah Kabupaten Jombang. Penyakit kuning sangat merugikan karena dapat menyebabkan tanaman lada berhenti berkembang sehingga menurunkan hasil panen. Penyakit ini dilaporkan merusak pertanaman lada wilayah Kabupaten Jombang hingga 32%. Penyebab penyakit tersebut adalah nematoda Meloidogyne incognita dan Radopholus similis (Mustika 1990). Deteksi awal penyakit ini relatif sulit, biasanya tanaman diketahui sakit setelah menampakkan gejala menguning pada daun. Perkembangan penyakit tanaman sangat bergantung pada banyak faktor, baik ling-kungan, tanaman, maupun teknik budi daya yang digunakan. Teknik atau sistem budi daya yang digunakan petani diduga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit kuning pada pertanaman lada.

Penggunaan bahan kimia dalam pertanian di Indonesia, terutama pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit tanaman masih merupakan cara yang paling disukai oleh petani. Pada komoditas tertentu pengeluaran petani untuk membeli pestisida dapat mencapai40% dari total biaya produksi keseluruhan. Penggunaan pestisida yang terlalu intensif di lapang dapat berakibat tidak baik, seperti kerancunan, kontaminasi racun pestisida pada air sumur, bahan makanan dan kolam ikan, serta munculnya hama dan patogen yang resisten terhadap suatu pestisida. Alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan untuk mendukung kehidupan yang lebih sehat perlu terus dikembangkansejalan dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam pengelolaan tanaman lada dan pengelolaan penyakit khususnya penyakit kuning di wilayah Kabupaten Jombang.

Survey Penyakit Kuning di Kabupaten Jombang

Penilaian gejala penyakit kuning pada lada mengacu pada gejala umum di lapangan. Gejala awal penyakit kuning, yaitu daun tanaman lada berwarna kuning atau pucat dan daun menggulung ke arah batang, sedangkan gejala lanjut berupa tanaman menguning, kerdil, tunas mati, dan akhirnya seluruh daun gugur (Mustika 1990). Tanaman lada yang menunjukkan gejala penyakit kuning, baik gejala masih awal atau gejala lanjut dianggap tanaman sudah terserang secara keseluruhan. Selanjutnya jumlah tanaman  contoh yang terserang dicatat untuk menentukan kejadian penyakit kuning pada lahan tersebut.

Tanaman lada terinfeksi yang tetap di-biarkan di lahan dapat menyebabkan nematoda parasit penyebab penyakit kuning akan terus berkembang biak sehingga populasinya meningkat dan berpotensi sebagai sumber inokulum penyakit kuning pada lahan tersebut.Kadar air tanah  sekitar 60% diduga sangat sesuai untuk perkembangan nematoda parasit dan perkembangan penyakit kuning (Mustika ,2005). (Penulis : Irianto Budi Santosa, SP - POPT KABUPATEN JOMBANG)

 

Add comment

Security code
Refresh