ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi PENGENDALIAN HAMA TIKUS PADA KOMODITAS TEBU

PENGENDALIAN HAMA TIKUS PADA KOMODITAS TEBU

E-mail Cetak PDF

Tikus adalah salah satu hama utama yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman perkebunan di Indonesia. Komoditi perkebunan yang sering mendapat serangan tikus antara lain adalah tebu dan kelapa sawit.Berdasarkan laporan Triwulanan Tahun 2013 dari Dinas yang membidangi perkebunan di Indonesia bahwa luas serangan tikus pada komoditi tebu mencapai 1.007,87 ha dengan taksasi kerugian hasil sebesar Rp. 308.983.589,-

 

Mengingat kerugian hasil yang dialami petani begitu besar, maka perlu dilakukan upaya pengendalian secara terpadu. Smith (1978) menyatakan bahwa Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan.

Pada tanaman tebu, komponen pengendalian tikus yang dapat dipadukan yaitu pengaturan saat tanam, sanitasi kebun, gropyokan, pengemposan dan pengumpanan. Sedangkan pada tanaman kelapa sawit, komponen pengendalian tikus yang dapat dipadukan yaitu kultur teknis, sanitasi, fisik & mekanis, biologis dan kimia. PHT Tikus Pada Tanaman Tebu Jenis tikus yang menyerang perkebunan tebu yang berada di sekitar pertanaman padi dan palawija terutama di pulau Jawa adalah:Rattus argentiventer (tikus sawah), Rattus exulans (tikus ladang) dan Bandicota indica (tikus wirok). Jenis tikus yang menyerang pertanaman tebu yang berada jauh dari pertanaman padi dan palawija terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan yaitu: R. tiomanicus (tikus pohon), R. argentiventer dan R.exulans.

Kerusakan yang diakibatkan tikus pada pertanaman tebu sering kali berat, padahal tikus tidak dapat hidup dan berkembang biak dengan hanya makan tanaman tebu saja. Faktor yang menyebabkan tikus menyerang pertanaman tebu, terutama di pulau Jawa adalah tidak tersedianya pakan lain yang disukai tikus di tempat tersebut selain tanaman tebu. Dengan demikian, kerusakan oleh tikus pada tanaman tebu hanya terjadi pada saat tanaman padi dan palawija sudah dipanen (sudah tidak ada lagi di areal pertanaman). Berbeda dengan kerusakan pada pertanaman tebu yang memang jauh dari pertanaman padi dan palawija, kehadiran tikus pada area tersebut mutlak hanya untuk mendapatkan tanaman tebu, disamping makanan lainnya yang ada di sekitar pertanaman tebu tersebut (Priyambodo, 1995)

Kerusakan yang disebabkan oleh tikus berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman tebu yaitu:

Pada stadia bibit = Bibit tebu yang dirusak oleh tikus adalah stek yang belum bertunas (bagal atau stek pucuk) dan stek yang sudah bertunas (rayungan). Ruas-ruas bibit bagal dikerat oleh tikus, sedangkan pada rayungan, kerusakan pada bagian batang sedikit di atas permukaan tanah, sehingga daun yang berada di atasnya menjadi layu, kering dan mati.

  1. Tanaman muda umur 2-3 bulan = Kerusakan pada tanaman muda mirip dengan kerusakan pada bibit rayungan, yaitu batangnya dirusak sehingga daun yang berada di atasnya menjadi mati. Kerusakan pada tanaman muda tampak jelas yaitu daun seperti bekas dipangkas dengan pisau yang tumpul.
  2. Tanaman tua umur lebih dari 3 bulan =Tanaman tebu yang sudah mencapai tinggi 2 m atau lebih, kerusakan terjadi pada pada batang di dalam tanah, batang di atas permukaan tanah dan pucuk. Kerusakan tersebut biasanya disertai dengan kerusakan akar, sehingga daun menjadi layu, kuning, kering dan tanaman mudah dicabut.

Beberapa cara pengendalian yang dapat dipadukan dalam pengendalian tikus pada tanaman tebu antara lain:

  • Pengaturan saat tanam.
    • Pengaturan saat tanan yang tepat dan serentak pada areal yang cukup luas dapat mengurangi kerusakan oleh tikus pada pertanaman tebu. Jangan menanam tebu pada saat panen padi. Dengan umur tanaman tebu yang lebih lama daripada tanaman padi dan palawija maka pengaturan saat tanam tebu lebih diusahakan pada pengaturan stadia bibit tebu (mulai tanam atau setelah kepras) dengan kehadiran tanaman padi dan atau palawija. Dengan demikian , tikus lebih tertarik pada tanaman padi dan palawija sehingga bibit tanaman tebu bebas dari serangan tikus.
  • Sanitasi kebun
    • Sanitasi kebun dilakukan dengan cara melakukan kletek daun yang tua dan memusnahkannya di luar kebun. Hal ini bertujuan untuk mencegah tikus bersarang pada tumpukan daun di dalam pertanaman tebu.
    • Kesulitan yang dihadapi dalam tindakan sanitasi, terutama pada areal perkebunan yang luas adalah dibutuhkannya tenaga kerja yang banyak sehingga membutuhkan biaya yang tinggi. Sanitasi juga dapat dilakukan pada rerumputan dan semak belukar yang berada di dalam maupun di sekitar pertanaman tebu.
  • Gropyokan
    • Gropyokan adalah salah satu cara mengendalikan tikus dengan melakukan pembongkaran tempat bersarang tikus baik di lubang-lubang maupun di tumpukan sisa-sisa tanaman. Cara ini dilakukan secara serentak dan beramai-ramai dan tidak jarang menyertakan anjing pemburu tikus.
  • Pengemposan
    • Pengemposan dilakukan dengan cara membakar jerami dan belerang di dalam tabung alat pengempos, kemudian menghembuskan angin dengan cara memutar tuas kipas, maka asap beracun akan keluar. Asap inilah yang dimasukkan/ diarahkan ke dalam lubang-lubang tempat tikus bersembunyi. Dengan pengasapan ini maka tikus-tikus tersebut akan mati.
    • Pengemposan tikus pada pertanaman tebu dapat memberikan hasil yang memuaskan jika keadaan tanah tidak bercelah atau tidak berbatu-batu yang menyebabkan hilangnya asap beracun tersebut. Jika keadaan tanaman sudah tinggi maka tindakan pengemposan seringkali hanya dilakukan pada liang/lubang tikus yang berada di bagian pinggir kebun tebu, pada tanggul-tanggul air atau pada jalan kereta api
  • Pengumpanan
    • Bahan yang sering digunakan sebagi umpan racun adalah beras. Selain itu juga dapat digunakan jagung, ubi kayu dan ubi jalar.
      Apabila dibutuhkan umpan dalam jumlah besar maka dapat dibuat umpan dari bahan: dedak (35%), tepung jagung (25%), gula (10%), bahan racun (1%), bahan perekat (8%) dan minyak kelapa (1%). Bahan-bahan tersebut dicampur secara merata dengan sedikit air, kemudian dikeringkan dan dicetak dalam bentuk tablet atau blok.
    • Apabila akan menggunakan umpan beracun (Rodentisida) siap pakai yang kini banyak terjual di pasaran, dalam aplikasinya rodentisida bentuk blok ini harus dihancurkan terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan sekam dan atau dedak, serta disimpan di dalam wadah alami (tempurung kelapa atau bumbung bambu). Hal tersebut bertujuan untuk:
      • Untuk menarik tikus mendekat dan  memakan umpan beracun tersebut.
      • Tikus tidak dapat mengambil umpan beracun tersebut untuk disimpan di dalam sarang, sehingga dapat dievaluasi keberhasilan penggunaan umpan beracun tersebut dari sisa umpan beracun dan berkurangnya kerusakan pada tanaman tebu.
      • Menghindari salah sasaran, yaitu umpan beracun tidak dimakan oleh hewan ternak maupun hewan liar yang berada di sekitar pertanaman tebu tersebut.
        Umpan lain yang digunakan yaitu kepiting/yuyu yang telah diberi zink fosfida dan ditempatkan pada lubang aktif atau pada bumbung bambu yang diletakkan dekat dengan sarang tikus.

Irianto Budi Santosa, SP - POPT AHLI MUDA KABUPATEN JOMBANG

 

Add comment

Security code
Refresh