ANDA BERADA DI: Depan Berita Tips dan Inovasi TEKAN POPULASI TIKUS DENGAN JOSSMO

TEKAN POPULASI TIKUS DENGAN JOSSMO

E-mail Cetak PDF

Sumobito, Jombang. Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kedelaiadalah gangguan hama. Serangan hama pada tanaman kedelai dapat menurunkan hasil sampai 80%, bahkan puso apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian. Tanaman kedelai disukai oleh hama dan penyakit, terbukti dengan banyaknya hama yang menyerang, yakni hama yang terdapat dalam tanah, lalat bibit, ulat daun, hama penggerek batang, hama polong kedelai dan tikus.

Tikus merupakan salah hama penting yang menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian baik dilapangan maupun hasil pertanian dalam penyimpanan. Jenis tikus yang banyak menimbulkan kerugian adalah Rattus Argentiventer (tikus sawah) dan Rattus diardi yang menimbulkan kerusakan hasil dalam simpanan.Perkembangbiakan tikus sangat cepat, umur 1,5 – 5 bulan sudah dapat berkembang biak, setelah hamil 21 hari, setiap ekor dapat melahirkan 6-8 ekor anak, 21 hari kemudian pisah dari induknya dan setiap tahun seekor tikus dapat melahirkan 4 kali.

Tikus suka hidup ditempat gelap yang bersemak-semak dari banyak rerumputan didekat sumber makanan.

Dalam pengendalian hama tikus kita menganut konsep pengendalian hama terpadu yaitu sistem pengendalian populasi yang memanfaatkan secara terpadu untuk menurunkan populasi dan mempertahankannya dibawah batas ambang ekonomi.

Akhir bulan Juli kemarin beberapa anggota kelompoktani Kaliwungu Desa Mlaras mengadakan gerakan pengendalian hama tikus. Keadaan tanaman kedelai di lahan kelompoktani Kaliwungu sudah berumur 4 minggu. Kegiatan yang diprakarsai Bapak Sugiyo Ketua Poktan Kaliwungu kali ini melibatkan 18 anggota kelompoktani. Dengan di pandu oleh PPL setempat Bapak Mahfud, dan Petugas POPT Bapak Nurhajadi, SP kegiatan ini dimaksudkan untuk mengendalikan hama tikus yang biasanya menyerang tanaman kedelai pada saat awal berbuah (polong muda). Gerakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan alat JOSSMO (emposan dengan bahan bakar elpigi).

Hasil dari kegiatan ini sangat memuaskan, dimana tikus-tikus itu mati dalam liangnya. Menurut Bapak Sugiyo alat JOSSMO sangat efektif, karena selain menghasilkan asap yang lebih banyak dari emposan biasa, JOSSMO juga menghasilkan panas yang luar biasa. Panas inilah yang menyebabkan tikus tidak bisa mengembangkan badannya untuk menutup liang agar asap tidak masuk ke liang yang lebih dalam. Sehingga gas yang dihasilkan akan terhirup dan merusak syaraf tikus yang akhirnya menyebabkan kematian.

Dari kegiatan ini memang sekilas tidak didapatkan tikus yang mati diatas lahan, akan tetapi setelah dilakukan pembongkaran pematang, didapatkan ada minimal 4 pasang tikus dalam satu liang. 

(Aroel - Unit TI Kec. Sumobito)

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh