ANDA BERADA DI: Depan Berita Program Kegiatan REVITALISASI PERAN BULOG

REVITALISASI PERAN BULOG

E-mail Cetak PDF

Gonjang-ganjing soal kedelai, tahu dan tempe beberapa waktu lalu ternyata membawa dampak yang cukup berarti. Sepertinya, akan terjadi peningkatan cukup pada peran Bulog terkait pada tata niaga komoditas pertanian. Memang  ini bukan hanya disebabkan oleh gejolak kedelai dan mogoknya produsen tahu tempe. Tapi gerakan mogok asosiasi produsen tahu dan tempe beberapa waktu lalu telah membuka kesadaran para pembuat kebijakan agar segera mengambil langkah strategis untuk melindungi para petani.

Dulu, sebelum diintervensi oleh IMF (International Monetary Fund) lembaga internasional yang memberikan suntikan modal kepada Indonesia saat krisis moneter, institusi Bulog begitu gagahnya dalam melakukan stabilisasi harga berbagai bahan pangan. Waktu itu dikenal dengan nama sembilan bahan pokok (Sembako). Saat itu Bulog diakui oleh WTO (World Trade Organization) atau organisasi perdagangan dunia untuk memonopoli perdagangan bahan pokok dalam negeri.

Seiring dengan terjadinya krisis moneter tahun 1997, Kemudian IMF masuk ke Indonesia pada tahun 1998 untuk memberikan pinjaman uang sekaligus serangkaian resep perbaikan ekonomi. Salah satu resep IMF yang harus diikuti oleh pemerintah Indonesia adalah memberikan keleluasaan melalui mekanisme pasar dalam membangun keseimbangan harga termasuk komoditas pertanian. Akhrirnya, mulai tahun 2000 Bulog hanya menangani komoditas beras saja. Peran pemerintah semakin kecil untuk mewujudkan stabilisasi harga pasar. Inilah saatnya liberalisasi pasar produk pertanian di Indonesia dimulai. Berbagai macam produk import masuk ke Indonesia dengan leluasanya termasuk sembilan bahan pokok yang menentukan hajat hidup orang banyak.

Mulai saat itu, petani di Indonesia sering terpukul oleh jatuhnya harga pangan karena membanjinya produk import. Beras, daging, gula, kedelai dan berbagai produk pertanian lainnya. Kemudian, sampailah pada terjadinya gejolak harga kedelai beberapa waktu lalu. Harga kedelai import sebagai bahan baku utama industri tahu tempe melonjak karena Amerika sebagai eksportir utama kedelai mengalami kekeringan.

Para produsen tempe dan tahu menuntut dihapusnya pajak import kedelai agar harga kedelai import lebih terjangkau. Terjadi perbedaan kepentingan antara petani kedelai dan para produsen tahu tempe. Para petani tentu menikmati harga kedelai lokal yang naik, sementara para produsen tempe menjerit karena melambungnya harga kedelai akibat tersendatnya import.

Dari sinilah diperlukan satu kebijakan yang bisa menguntungkan semua pihak. Petani bisa mendapatkan harga yang layak, para produsen produk olahan juga mampu membeli bahan baku dengan harga terjangkau.

Bulog dengan slogannya, Andalan Ketahanan Pangan saat ini mulai melakukan revitalisasi. “Saat ini tim revitalisasi peran Bulog sudah selesai melakukan kajian peran Bulog. Salah satunya, Bulog kedepan tidak hanya menangani komoditas beras saja. Untuk tahap awal ini, selain beras Bulog akan menangani  kedelai, gul pasir,“ tutur Wawan Gunarso  Kepala Sub Bulog Surabaya Selatan.

“terkait harga, kalau saat ini Bulog hanya memiliki satu harga yaitu HPP (Harga Pembelian Pemerintah), dengan adanya revitalisasi peran Bulog, nanti kita akan memiliki kebijakan harga dasar yaitu harga terendah yang bisa dibeli oleh Bulog untuk melindungi petani kalau harga di pasar terlalu rendah dan harga atap atau harga tertinggi yang ditujukan untuk melindungi konsumen . Kita tunggu saja karena kebijakan tersebut harus melalui mekanisme yang ada. Yang jelas segala sesuatunya sudah selesai digodok oleh tim revitalisasi. Tinggal menunggu persetujuan presiden,” lanjut Wawan Gunarso.

Ditanya mengenai pemberdayaan Poktan Gapoktan terkait komoditas selain Beras, Wawan menjelaskan akan tetap memberdayakan Poktan gapoktan termasuk adanya pola kemitraan baik on farm maupun off farm.

Penambahan komoditas yang ditangani Bulog tersebut tentu cukup menggembirakan meski belum sepenuhnya sesuai harapan.  Sebagaimana Slogan Bulog yang sudah kita kenal “ Andalan Ketahanan Pangan” semoga kedepan pemerintah bisa menambah lagi peran Bulog. Tidak hanya beras, kedelai dan gula. Namun juga, jagung, daging dan susu sebagai bahan-bahan pokok yang menentukan hajat hidup orang banyak terutama para petani.

Untuk mendukung program capaian surplus beras nasional 10 juta ton tahun 2014, Bulog Sub Divre Surabaya selatan akan melaksanakan GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi) di Kabupaten Jombang.

“Kita akan laksanakan 1500 hektar di Jombang mulai musim tanam MP 2012-2013. Kita berharap lokasinya tidak sama dengan program GP3K yang lain atau dengan kegiatan yang sudah dilakukan oleh Dinas,” terang Kepala sub Bulog Surabaya Selatan, wawan Gunarso.

Dengan adanya program tersebut tentu akan menambah jumlah dukungan bagi petani Jombang, yang tahun 2012 ini  juga mendapatkan kegiatan GP3K dari Perum Perhutani sejumlah 98 Ha untuk kegiatan kelompok LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), dan dari PT. Petrokimia seluas 30 hektar di Kecamatan Bareng.

(Humus Edisi 27 Tahun III 2012)

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh