ANDA BERADA DI: Depan Berita Penyuluhan Pertanian Jeruk Nipis Yang Semakin Menipis

Jeruk Nipis Yang Semakin Menipis

E-mail Cetak PDF

‘Pasar jeruk, pasar jeruk’ teriak kencang dari sopir bis ketika mendekati wilayah Perak. Terdengar keren. PASAR JERUK PERAK. Begitu turun, dan melihat anda akan terkejut karena yang anda lihat bukanlah pasar jeruk seperti dalam bayangan. Jeruk yang begitu terkenal di Perak, jangan dibayangkan jeruk manis nan segar yang sedap dimakan. Jeruk di sini adalah jeruk nipis yang memiliki nama ilmiah Citrus Aurantifolia yang bercita rasa asam, berbentuk bulat atau lonjong, dan berwarna hijau dan kekuningan.

Jeruk nipis ini memiliki banyak sekali manfaat, seperti meningkatkan imunitas tubuh (banyak mengandung Vitamin C, B dan asam sitrat), menyeimbangkan pH, membantu mengurangi tekanan darah tinggi, mengobati asam urat dan kolesterol, menurunkan berat badan, mencerahkan wajah, dll. Secara ekonomi, jeruk nipis ini memberikan peluang bisnis yang menjanjikan karena semakin lama orang mulai beralih ke bahan-bahan alami untuk memenuhi kebutuhan hariannya, atau dalam istilah saat ini disebut GO BACK TO NATURE. Cara budidaya yang relatif mudah, dan harga yang cenderung stabil  berkisar antar Rp 5.000 – Rp15.000 / Kg adalah juga salah satu alasannya. 

Jeruk nipis perak sudah sangat terkenal dari jaman dahulu. Dan itu masih berlangsung sampai dengan hari ini. Bahkan jeruk nipis yang berada diluar wilayah perak, harus dibawa ke Perak terlebih dahulu sebelum di kirim ke daerah lain. Hal ini dilakukan HANYA agar jeruk tersebut mendapatkan branding sebagai jeruk nipis Perak. Kenapa seperti itu?? Karena pasar masih percaya dengan kualias jeruk nipis Perak. Secara kualitas, jeruk nipis perak memiliki kualitas yang lebih bagus. Buah jeruk nipis perak, lebih besar, memiliki kulit luar yang lebih tipis dan menghasilkan sari jeruk yang lebih banyak.

Pasar jeruk Perak yang sudah terkenal dari dulu, memang masih ada dan eksis sampai dengan hari ini, tetapi sayangnya jeruk nipis yang ada di pasar itu bukanlah jeruk nipis dari petani di perak. Jeruk nipis di pasar perak, kebanyakan berasal dari luar Pulau seperti Sumatera. Hal ini disebabkan karena kurangnya produksi jeruk nipis di wilayah Perak khususnya dan Jombang pada umumnya. Jumlah tanaman jeruk yang tinggal kurang lebih 9.000 batang saat ini dari yang dulunya sekitar 45.000 batang. Sedikitnya petani yang “berani”menanam lagi jeruk nipis setelah kejadian gerhana matahari total di tahun 1983. Gerhana matahari total saat itu memang berdasarkan keterangan pihak berwenang tidak berpengaruh terhadap pertanian, akan tetapi nyatanya setelah kejadian gerhana tersebut, hampir semua tanaman jeruk nipis mati. Kering, menguning dan mati. Menurut keterangan dari Bapak Supartim, POPT Wilayah Perak, Hal ini disebabkan karena tanaman jeruk nipis terserang CVPD (Citrus Vein Phloem Degenaration) atau ‘kerusakan pembuluh tapis pada Jeruk. Parahnya, bakteri Liberibacter asiaticum dengan vector kutu loncat Diaphoria citri penyebab CVPD ini tetap ada bahkan setelah tanaman mati. Membutuhkan waktu hampir 20 tahun untuk bisa ditanami kembali dan bisa menghasilkan. Varietas asli jeruk nipis perak bahkan sudah hampir punah saat ini.

Beberapa tahun terakhir ini, mulai banyak petani yang “berani” untuk menanam kembali jeruk nipis meskipun dengan areal yang belum terlalu luas. Saat ini jeruk nipis lebih banyak dibudidayakan di areal pekarangan dan kebun dsekitar rumah. Mulai tahun 2016 Pemerintah daerah Jombang juga mulai merintis untuk memberdayakan kembali penanaman jeruk nipis khususnya di wilayah kec Perak dengan memberikan bantuan bibit di beberapa Poktan (kelompoktani). Dengan harapan dapat menstimulus kembalinya kawasan Perak sebagai pusat jeruk nipis. (Binti)

 

 

Add comment

Security code
Refresh