ANDA BERADA DI: Depan Berita Penyuluhan Pertanian Efektivitas Komunikasi Kelompok Pada Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu

Efektivitas Komunikasi Kelompok Pada Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu

E-mail Cetak PDF

Kecamatan Bareng cukup unggul dalam produksi lada, karena didukung oleh iklim, potensi lahan, tanaman lada yang luas, tingkat produktivitas belum optimal, dan kinerja petani belum maksimal dalam hal budidaya dan pengenalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Berdasarkan permasalahan ini, sejak tahun 1998 Pemerintah melalui Dinas Perkebunan melaksanakan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan bentuk Sekolah Lapang (SL). SL-PHT merupakan suatu sistem pendidikan nonformal melalui pembe-lajaran orang dewasa yang dilaksanakan di lapang  atau kebun petani dengan materi pe-ngendalian hama terpadu pada tanaman lada, kebun sebagai media belajar, serta dengan pola  belajar lewat pengalaman.

 

Program SL dilaksanakan dengan metode PHT, yaitu pengendalian mekanis, pengenda- lian kultur teknis, pengendalian biologis, dan pengendalian kimiawi, tujuan SL-PHT lada adalah (1) meningkatkan pengetahuan dan ke- terampilan tentang PHT tanaman lada, (2) me- ningkatkan produktivitas tanaman lada dan kesejahteraan petani lada serta keluarganya, dan (3) meningkatkan nilai ekspor dan penda- patan daerah.

Kegiatan SL-PHT mengacu pada empat prinsip PHT, yaitu :

  1. budidaya tanaman sehat
  2. memanfaatkan dan melestarikan musuh alami,
  3. pengamatan secara berkala (rutin), dan
  4. petani menjadi ahli PHT.

Kegiatan SL-PHT lada diikuti oleh beberapa kelompok tani yang sengaja dibentuk untuk pelatihan teknologi PHT dan disesuaikan de- ngan kesepakatan belajar yang dibuat anggota kelompok tani dan pemandu lapang sebagai pemberi materi pelatihan.

Kelompok tani sebagai wahana bertukar informasi bagi petani merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan daya pikir dan pe- ngetahuan bagi mereka. Dalam kaitannya de- ngan informasi, kelompok tani merupakan ke- las belajar dan berinteraksi edukatif dalam rangka mengadopsi inovasi. Oleh karena itu tujuan petani berkelompok adalah untuk mem- permudah penyebaran dan penyerapan infor- masi antara petani dalam kelompok kecil.

Suatu kelompok dikatakan efektif apabila kelompok tersebut dapat menjalankan fungsi- nya yaitu untuk saling berbagi informasi. Karena itu keefektifan suatu kelompok dapat dilihat dari berapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauhmana anggota kelompok memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok (Rakhmat, 2001). Pernyataan tersebut tentu tidak lepas dari pro- ses komunikasi di dalamnya, karena komuni- kasi dalam suatu kelompok mencerminkan berbagai  hubungan  dengan  sesama  manusia, anggota kelompok bekerjasama dan berkomu- nikasi termasuk hal diskusi SL-PHT lada.

Proses komunikasi yang terjadi pada kelom-pok diskusi PHT lada adalah dalam bentuk kelompok kecil. Pelaksanaan kegiatan PHT lada tidak lepas dari peran diskusi kelompok untuk menyelesaikan masalah dan melaksana-kan tugas kelompok mengenai materi PHT lada. Kelompok kecil dimaksud- kan agar komunikasi dapat berlangsung efek- tif. Kelompok kecil diharapkan sebagai kum- pulan individu yang saling berinteraksi dalam memecahkan masalah, mengerjakan tugas  yang diberikan pemandu lapang, sehingga memperoleh kepuasan untuk mencapai tujuan kelompok. Komunikasi yang berhadapan  antara individu yang satu dan lainnya dalam kelompok kecil merupakan bentuk komunikasi kelompok yang cukup efektif untuk menghasilkan pemecahan masalah  individu dan kelompok. Anggota kelompok kecil dapat lebih terbuka mengeluar-kan pikiran dan argumentasinya dalam meme-cahkan berbagai persoalan kelompok. Mereka lebih memiliki keeratan hubungan psikologis antara anggota yang satu dan lainnya dalam mengeluarkan  dan menanggapi argumentasi. Solidaritas yang tinggi dalam menyelesaikan masalah merupakan bagian proses komunikasi dalam kelompok kecil untuk mempertahankan kekuatan dan kekompakkan kelompok.

Efektivitas komunikasi dalam kelompok merupakan efektivitas komunikasi kelompok yang   dapat   dilihat   dari   hubungan personal antara individu dalam kelompok, karena komunikasi yang dilakukan lebih cenderung menggunakan kekuatan psikologis dan karak- teristik petani dalam mencapai komunikasi kelompok yang efektif. Rakhmat (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok adalah (1) faktor personal (karak- teristik anggota kelompok), yaitu umur, ting- kat pendidikan, pendapatan, kepribadian, homogenitas dan heterogenitas kelompok dan faktor situasional yaitu ukuran kelompok, jaringan komunikasi, kohesi kelompok, dan kepemimpinan, menurut Lionberger (1960 dalam Mardikanto 1993), faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan seseorang meng- adopsi inovasi meliputi luas usahatani, tingkat pendapatan, keberanian mengambil resiko, umur, partisipasi, aktivitas mencari ide baru dan sumber informasi yang dimanfaatkan. Menurut Soekartawi (1988), sistem sosial seperti kelompok tani merupakan populasi dari individu-individu yang terikat dalam pemecah- an masalah bersama melalui peranan komuni- kasi, dan salah satu proses komunikasi termasuk di dalamnya adalah proses adopsi inovasi, kemudian faktor-faktor yang mempe- ngaruhi adopsi inovasi adalah karakteristik psikologi dan faktor personal seperti umur, pendidikan, sedangkan faktor situasional yang mempengaruhi adalah keadaan sosial ekonomi, status pemilikan tanah, ukuran usahatani.

Proses adopsi merupakan hasil kegiatan penyampaian pesan atau materi PHT lada dari pemandu lapang, sedangkan difusi inovasi ada- lah penyebaran informasi antar anggota dalam kelompok kecil dalam SL-PHT lada.

Mosher (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi oleh petani adalah (1) tingkat pendidikan, (2) luas lahan garapan, dan pendapatan petani. Selanjutnya Barnard (1938 dalam Rakhmat, 2001), anggota kelom- pok bekerjasama untuk mencapai dua tujuan, yaitu: melaksanakan tugas kelompok dan me- melihara moral anggotanya, tujuan pertama diukur dari prestasi dan tujuan kedua diukur dari tingkat kepuasan anggota berada dalam kelompok, kedua tujuan tersebut merupakan pengukuran efektivitas komunikasi kelompok. Berdasarkan latar belakang di atas, perma- salahan dalam penelitian ini adalah : (1) ba- gaimanakah tingkat efektivitas komunikasi kelompok, (2) apakah ada hubungan antara efektivitas.

Pada kelompok tani Peserta SL-PHT Lada efektivitas komunikasi suatu kelompok dapat dilihat dari keberhasilan menyerap  materi dan peningkatan prestasi, yang tidak tahu men-jadi tahu, dari  minimnya pengetahuan menuju peningkatan pengetahuan tentang teknologi budidaya yang intensif dan mampu mewujud-kan peningkatan produksi. Komunikasi kelompok dalam SL-PHT merupakan unsur penting terciptanya  kerjasama yang baik dalam mengikuti segala bentuk kegiatan di dalamnya, dengan berkomunikasi maka materi yang di- sampaikan dapat segera diadopsi dan terjadi reaksi umpan balik antara anggota. Setelah materi yang disampaikan dapat  dikomunikasi kan dengan baik antar para anggota kelompok, inovasi tersebut terlebih dahulu akan diadopsi untuk diterapkan di kebun mereka.

Adopsi Inovasi

Adopsi inovasi merupakan suatu tahap untuk mencapai perubahan perilaku petani. Penge-tahuan, sikap dan keterampilan telah berubah ke arah yang lebih baik, dari pengeta- huan tentang PHT yang kurang sampai petani dapat  memahami  materi  PHT  dan  menerapkannya. Setelah terjadi proses komunikasi kelom-pok yang baik, informasi atau materi akan diserap oleh petani, petani akan mengam- bil keputusan untuk mengkombinasikan kebiasaan petani dengan teknologi PHT, kemudian mereka menyimpulkan teknologi yang dapat diterapkan di kebun mereka. Tingkat adopsi inovasi petani peserta pelatihan PHT lada.

Penulis : Irianto Budi Santosa, SP - POPT KABUPATEN JOMBANG

 

Add comment

Security code
Refresh