ANDA BERADA DI: Depan Berita Lembaga Binaan Dinas Kampung Bibit Horti Wedani

Kampung Bibit Horti Wedani

E-mail Cetak PDF

Kampung bibit Wedani merupakan suatu kawasan yang terletak di dusun wedani desa Badang Kecamatan Ngoro, dimana lebih dari separuh warganya memiliki usaha penyediaan jasa pembuatan persemaian beberapa jenis tanaman hortikultura di sekitar rumahnya untuk dijadikan yang siap pindah tanam ke lahan. Usaha ini sudah berjalan sekitar 20 tahun, tepatnya mulai dirintis di tahun 1997.

Bermula dari usaha bapak Puji Purwanto yang juga menjabat sebagai kepala desa Badang saat itu yang sedang menggeluti budidaya pepaya yang di tanam di sekitar desa Badang. Beliau awalnya mendatangkan bibit pepaya dari Blitar. Namun, karena jumlah permintaan bibit yang cukup banyak menyebabkan stock bibit sangat kurang, sehingga beliau berinisiatif untuk mengusahakan pembibitan secara swadaya. Akhirnya, beliau mendatangkan tenaga kerja pembibitan dari Blitar yang sudah terlatih untuk melakukan persemaian benih pepaya sendiri di dusun Wedani. Setelah usaha pepaya ini selesai dan digantikan dengan usaha lainnya, para pekerja pembibitan dari Blitar akhirnya dipulangkan. Sedangkan tempat bekas pembibitan masih dibiarkan dan akhirnya digunakan oleh si pemilik lahan untuk meneruskan membuat pembibitan juga, bukan hanya pepaya saja melainkan ada beberapa jenis tanaman lainnya.

Usaha pembibitan ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Keuntungan yang dihasilkan dari usaha pembibitan ini relatif banyak sehingga mampu meningkatkan perekonomian rumah tangga di kawasan tersebut. Sampai saat ini sudah ada 35 keluarga petani yang menggeluti usaha ini, ada yang turun temurun dan ada pula yang mulai merintis dari awal. Hal inilah yang mendorong tumbuhnya suatu sentra atau kawasan usaha yang spesifik yang menjadi  keunggulan wilayah di Wedani.

Macam-macam tanaman yang umumnya disemaikan benihnya disini adalah terong, tomat, cabe kecil, cabe besar, bongkol, kubis dan pepaya. Biasanya petani membawa sendiri benih yang akan disemaikan, sehingga jenis dan merknya sesuai dengan keinginan mereka. Rata-rata daya tumbuh benih per kemasan adalah 80%. Harganya nanti ditentukan dengan jumlah bibit yang sudah jadi. Besaran harganya berkisar di antara Rp. 70 – Rp. 200 tergantung pada lama persemaian dan perawatannya.

Secara tekhnis, selain benih, hal yang perlu dipersiapkan saat melakukan persemaian adalah media persemaian. Media tersebut harus berkualitas baik, dari tingkat kandungan organiknya dan homogenitasnya. Setelah melakukan beberapa uji coba, akhirnya mereka menemukan komposisi media persemaian yang sesuai dari biaya yang dikeluarkan dengan kualitas bibit yang dihasilkan. Media tersebut adalah campuran dari tanah dengan kotoran ulat, dengan perbandingan 1 rit tanah dicampur dengan kurang lebih 25 kg kotoran ulat. Pada umumnya petani tidak menggunakan takaran yang baku. Mereka hanya merasakan dan melihat fisik tanah yang kelihatan sudah gembur dan berwarna agak pucat berarti sudah ‘pas’ untuk dijadikan media persemaian. Sedangkan untuk homogenitasnya, diperlukan proses pengayakan, untuk memperoleh media yang merata dan terhindar dari komponen yang tidak diingankan.

Selanjutnya, media tersebut telah siap dipakai. Persemaian dilakukan di dalam plastik yang sudah diisi dengan media, hal ini bertujuan untuk memudahkan proses pemindahan dan menghindari kerusakan akar pada saat pengangkutan ke lahan.  Plastik yang digunakan adalah plastik yang sudah dipotong kecil-kecil ukuran 6cm dengan diamter 5 cm. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh tenaga kerja borongan dengan biaya Rp. 10.000 per 1000 biji. Waktu yang diperlukan untuk pengisian sekitar 1 jam per 1000 biji.

Setelah media selesai dimasukkan di dalam plastik, dilakukan penyiraman dan pengendapan untuk menstabilkan kadar airnya. Setelah semuanya siap, baru dilakukan penanaman benih 1 bulir per lubang.

Perawatan rutin yang dilakukan adalah penyiraman, pengamatan OPT dan pemupukan. Penyiraman dilakukan pagi dan sore untuk menghindari kekurangan kelembaban yang dapat menyebabkan kurang optimalnya pertumbuhan. Hama dan penyakit yang biasanya menyerang adalah ulat dan thrips. Pengamatan rutin harus dilakukan untuk menghindari ledakan serangan yang akan berakibat fatal. Jika serangan sudah melewati ambang batas, akan dilakukan penyemprotan pestisida. Kegiatan perawatan yang terakhir ini adalah pemupukan. Kegiatan ini bersifat kondisional, karena menyesuaikan pertumbuhan dari bibit itu sendiri apakah sudah optimal apa belum. Jika pertumbuhannya kurang bagus, biasanya dilakukan pemupukan menggunakan gombor plastik, dengan takaran 1 genggam pupuk NPK dicampur dengan 10 liter air.

Lama waktu persemaian berbeda pada setiap jenis tanaman. Tanaman bongkol dan tomat memiliki waktu yang paling cepat yaitu antara 15-17 hari setelah semai,lombok besar dan terong membutuhkan waktu 25 hari, pepaya selama 1 bulan dan cabe kecil memiliki waktu yang paling lama yaitu 36 hari setelah semai.

Pada perkembangannya, para perajin bibit disana lebih memilih mengerjakan pesanan petani dibanding menyediakan bibit tanpa ada pemesanan. Hal ini karena pada pesanan petani sudah jelas siapa nanti yang akan mengambil, sedangkan jika tanpa pesanan ada resiko tidak laku. Meskipun demikian mereka tetap menyediakan bibit dengan tanpa pesanan meskipun dalam jumlah yang tidak banyak danjuga beberapa tanaman yang sudah di polibag besar.Ini untuk mengantisipasi permintaan yang kadang datang sewaktu-waktu, terutama di bulan-bulan tertentu biasanya ada kegiatan lomba ataupun kegiatan dari instansi pemerintah maupun swasta seperti contohnya pemanfaatan pekarangan melalui KRPL, Gerakan tanam Sayuran, dan lain-lain.

Keberadaan kampung bibit Wedani ini semakin lama semakin dikenal luas di masyarakat, bahkan sampai di luar kota seperti mojokerto. Konsistensi menjadi kunci utama keberhasilan kawasan ini. Konsistensi dalam kualitas dan kuantitas bibit yang dihasilkan akan mampu mempertahankan pasar yang sudah ada bahkan dapat mengembangkannya menjadi lebih luas.

 

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh