ANDA BERADA DI: Depan Berita Lembaga Binaan Dinas MELIHAT DARI BELAKANG KEDUNGDENDENG PLANDAAN

MELIHAT DARI BELAKANG KEDUNGDENDENG PLANDAAN

E-mail Cetak PDF

Dukuh Kedungdendeng dan dukuh Rapah Ombo. Dalam sebuah dokumen bertulis tangan, dinyatakan bahwa tanah pedukuhan yang berada ditengah kawasan hutan plandaan tersebut adalah tanah “hadiah” atas jasa warga Kedungdendeng dan warga Rapah ombo ikut mempertahankan kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1949. Karena Dharma Bakti tersebut, pada tahun 1959  Letkol Kretarto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Militer Daerah Surabaya yang bermarkas di Kelurahan  Jipurapah memberikan ijin untuk menggunakan tanah di Dukuh Rapahombo dan Dukuh Kedungdendeng kepada nama-nama yang tercantum di dokumen tersebut. Yang kemudian berkembang sampai sekarang.

Itulah sepenggal sejarah yang mengiringi keberadaan kampung Kedungdendeng yang beberapa waktu lalu Humus sempat berkunjung dan menikmati keheningan malam di dusun yang berada di tengah hutan tersebut. Sempat beberapakali diminta pindah. Namun, dengan berbagai keterbatasan yang ada mereka tetap memilih bertahan di kampung yang belum memiliki akses resmi listrik PLN itu.

Kampung Kedungdendeng dan perjalanan menuju ke pedukuhan tengah hutan itu adalah serangkaian perjalanan yang cukup eksotis.  Sekitar sejam perjalanan dari arah kantor kecamatan Plandaan menuju kedungdendeng kita akan disuguhi pemandangan yang indah dengan rute yang cukup menantang. Tidak heran, jalur itu seringkali dijadikan rute penghobi kegiatan adventure baik roda dua maupun roda empat. Karena itu, kendaraan operasional penyuluh Honda Win dengan roda pacul x-cross jadi sarana yang cukup handal untuk melibas medan naik turun dan berbatu sepanjang kurang lebih 10 km itu. 

Sebelum masuk Desa njipurapah, kita akan melewati  satu sungai dengan pemandangan sangat indah. Kedungcinet demikian orang menyebutnya. Sebuah alur sungai dengan berbagai ukiran diatas batu alam yang indah. Alur bebatuan yang berliuk-liuk, lobang-lobang dibatu yang tercipta oleh hempasan dan tetesan air membentuk  ukiran alam. Terpadu dengan suara gemercik air bening dihiasi aneka tanaman hijau menjulur dan bunga-bunga liar adalah potensi keindahan yang belum banyak diketahui.  

Selama perjalanan berangkat yang ditemani Supriyadi salah seorang perangkat Desa Jipurapah, tidak sekalipun berpapasan dengan orang lain kecuali sesekali terlihat segerombolan ayam hutan terlihat mencari makan. Berangkat kesanapun harus siap dengan kendaraan yang prima. Bisa dibayangkan, ketika ditengah hutan dengan kondisi jalur makadam kemudian  ban kempes. Tukang tambal ban tidak ada, sinyal handphone juga tidak ada. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah memastikan kendaraan yang akan dipakai dalam kondisi prima.

Setelah berjuang melalui medan berbatu,  naik turun jalur hutan yang cukup berat terlihatlah dari kejauhan sebuah perkampungan. “Nggih niku, Kedungdendeng,” kata Supriyadi kepada Humus.  Dari kejauhan terlihat beberapa rumah. Sebagian terpisah jauh dari rumah yang lain. Tidak terlihat bangunan tembok. Kecuali bangunan dari kayu dengan warna yang seragam yang dominan. Warna asli kayu.

Dengan medan yang cukup berat seperti itu, tidak heran kalau beberapa anak Kedungdendeng yang sekolah di SMP Brangkal (9 km dari Kedungdendeng)  ketika musim hujan seringkali tidak bisa kembali pulang dan harus menginap di rumah Kepala Desa Jipurapah, Kusnadi. Anak-anak perempuan juga terlihat handal mengemudikan Honda Win untuk menempuh perjalanan pulang pergi ke sekolah. Sebagai catatan, saat ini ada 4 anak yang sedang menempuh pendidikan SMP di Brangkal, 4 orang di Sukorame dan 5 orang sedang menempuh pendidikan SMA.

Kalau ada warga yang mau melahirkan juga tidak kalah seru. Bidan hanya terdapat di dusun Brangkal atau pergi ke daerah Sukorame yang masuk wilayah Kabupaten Lamongan. Diceritakan, pernah terjadi seorang ibu yang akhirnya melahirkan diatas mobil pick up ditengah perjalanan menuju ke bidan. Sama halnya juga ketika ada warga yang sakit. Inilah sebagian perjuangan warga kampung kedungdendeng melalui hari-harinya.

PANEL SURYA PELITA DITENGAH GULITA

Ketika malam tiba situasi kampung tengah hutan yang berpenghuni 137 KK  itu menjadi gelap dan sunyi tidak seperti pada umumnya desa yang sudah akses listrik. Ramai dan terang benderang. Memang tidak total gelap karena sebagian kecil warga ada yang memiliki genset, sebagian lagi mendapatkan bocoran listrik dari Sukorame lamongan dan sebagian mengandalkan penerangan dari energi matahari yang ditangkap oleh panel surya diatas rumah.

Menurut Pengakuan Pak Wijianto, salah satu sesepuh desa, di Kampung Kedungdendeng terdapat sekitar 50 KK yang memiliki perangkat panel surya sebagai energi penerangan di malam hari. Masih kata Wijianto alat itu bantuan dari pemerintah sekitar tahun 1995. Dengan satu unit panel surya ukuran 0,5 m2 dan satu unit accu (aki) sebagai penyimpan listrik, bisa menjadi sumberpenerangan 2 buah lampu 10 watt mulai jam 6 sampai sekitar jam 9 malam. “Niki akine pun mboten normal, mestine saget luwih padang nggeh luwih dangu murupe,” kata Wijiono menceritakan aki penyimpan cadangan listriknya yang sudah agak sowak.

Meski beberapa usaha untuk mengajukan permohonan akses listrik sudah berulangkali dilakukan tidak juga listrik PLN bisa masuk kedungdendeng. Bahkan, meteran listrik juga sudah terpasang, tapi 418 Jiwa yang menjadi penghuni kampung kedungdendeng belum juga mendapat kepastian kapan listrik PLN bisa didapat.   

PULSA YANG TAK SEMAHAL SINYAL

Selain listrik PLN yang masih belum masuk, ada lagi yang sulit untuk didapat di Kampung Kedungdendeng  yaitu sinyal handphone. Karena itu, Humus harus rela kehilangan kontak selama 2 hari di Kedungdendeng. Meski ada beberapa profider yang sinyalnya tertangkap, tapi  itupun dengan sinyal yang sangat minim dan tidak menentu. Uniknya, ternyata ada tempat-tempat tertentu yang dilalui sinyal. Tempat yang seringkali dihampiri sinyal,  warga memberinya dengan tanda-tanda tertentu.

Penasaran dengan adanya kertas bungkus rokok yang diikat di sebuah tiang warung, saya coba menannyakan kepada seorang yang sedang santai minum kopi. “Damel nopo niki pak, kok bungkus rokok dicancang ten cagak,” tanya saya agak iseng. “Ten ngriku sering wonten sinyal mas, “ katanya singkat sambil nyruput kopinya. Dalam hati tertawa, tapi karena butuh sinyal, segera saya tempelkan handphone di cagak yang bertanda bungkus rokok itu. Setelah menunggu sesaat tidak juga muncul sinyal.

“Lho...pak kok mboten medal sinyale,” sekali lagi tanya saya. “Sampean kartu nopo mas, ten ngriku khusus kartu aiemtri (IM3). Nek simpati ten ngriko mas,” katanya sambil menunjuk rumah yang cukup jauh sambil menyebut nama pemilik rumah. Merasa butuh komunikasi, saya ikuti juga berburu sinyal  ke lokasi yang ditunjukkan pria tadi ke sebuah rumah. Setelah beberapa kali memanggil nama si pemilik rumah, dan sejurus kemudian empu rumah keluar. Segera saya mengatakan kalau butuh sinyal simpati. Segera si pemilik rumah mengatakan sambil menunjuk ke sudut rumah di dekat cendela. Di cendela itu di tandai dengan sebuah paku kecil. “salap ten ngriku mawon mas....engkin lak wonten sinyale,”katanya. Sekali lagi saya ikuti saja petunjuk teknis dari si pemilik sinyal itu. Setelah menunggu beberapa saat tidak juga muncul sinyal, kecuali sangat kecil kemudian hilang lagi. Cukup lelah berburu sinyal dan tidak mendapat hasil, segera saya pamit tuan rumah dan handphone pun saya matikan.

CABER RAWIT SEBAGAI PRIMADONA

Kecamatan Plandaan dikenal sebagai sentra cabe rawit di Kabupaten Jombang.  Total lahan cabe rawit di Plandaan tercatat seluas 250 ha. Budidaya Cabe rawit di kecamatan Plandaan tersentra di Desa Kampungbaru, Desa Jipurapah, Klitih dan Desa Pelabuhan. Meski di Jawa Timur  banyak terdapat sentra penghasil cabe rawit. Cabe  dari Plandaan memiliki keunggulan dibandingkan dengan cabe dari daerah lain di Jawa timur.

Tidak heran apabila, cabe dari Plandaan cukup dikenal di berbagai daerah bahkan di luar jawa. Saat musim panen cabe antara bulan Agustus, September, Oktober adalah waktu yang ditunggu-tunggu petani Plandaan. Para pedagang dari Pare, Babat Lamongan menyerbu ke Plandaan untuk beli cabe dan dikirim ke berbagai daerah termasuk dikemas ke luar pulau. Karena itu, meski cabe diproduksi di Plandaan tetap saja pedagang dari luar daerah lebih mengenal cabe dari Pare Kediri karena pelaku dagangnya dari Pare.

Yang cukup aneh ternyata jalur perdagangan cabe yang telah dibawa keluar kembali lagi dibeli oleh konsumen akhir yang juga dari Plandaan. Cabe dari Plandaan, Jombang di kulak oleh pedagang dari Pare Kediri. Kemudian di Sentra Sayur Kota Pare Kediri cabe tadi di beli pedagang sayur dari Ploso Jombang. Setelah di bawa ke Pasar Ploso  Jombang baru dibeli konsumen dari Ploso atau Konsumen dari Plandaan. Inilah uniknya jalur perdagangan.

Cabe rawit. Komoditas inilah yang menjadi gantungan hidup warga Kedungdendeng. Kondisi lahan yang relatif kering dan tidak adanya irigasi menyebabkan lahan kedungdendeng kurang menjanjikan pada komoditas padi. Produktifitas tanaman padi petani kedungdendeng hanya menghasilkan panen tidak lebih dari 4 ton. Sementara komoditas tembakau seringkali harganya fluktuatif. Karena itu cabe rawit menjadi andalan untuk penghasilan warga kedungdendeng. Sementara itu, untuk usuaha tani cabe rawit dalam satu musim (September, Oktober, November) bisa menghasilkan pendapatan bersih Rp. 9.250.000 / boto 350 (0,5 ha).

Alternatif pencaharian lain warga tengah Kedungdendeng adalah mencari rencek kayu bakar di hutan. Kegiatan ini menjadi gantungan bagi warga yang tidak memiliki lahan tegalan dan sedang tidak ada kegiatan sebagai buruh sawah. Untuk sehari mencari rencek seorang pria  biasanya bisa mengumpulkan 20 bongkok rencekan. Sementara seorang perempuan biasanya hanya bisa mengumpulkan 10 bongkok rencekan. Dengan kondisi itu, sebuah keluarga yang tidak memiliki tegalan untuk ditanami, ketika tidak ada kerjaan sepasang suami istri bisa mengumpulkan 30 bongkok kayu dengan harga Rp 1.600 per bongkok. Sehingga dalam sehari mereka bisa mendapatkan penghasilan Rp 48.000.

Hasil hutan lain yang biasanya dimanfaatkan warga kedungdendeng adalah mencari gadung di hutan. Mencari umbi Gadung di hutan biasanya dilakukan sekitar bulan Juli, Agustus, September.  Keripik Gadung yang seringkali kita nikmati ternyata proses pembuatannya cukup rumit. Satu keluarga suami istri dalam empat hari bisa menghasilkan 8 kilogram keripik gadung kering yang siap di goreng dengan harga Rp. 8000/ kg sebuah keluarga bisa memperoleh hasil Rp 64.000.

Proses untuk mengolah gadung sampai siap digoreng ternyata cukup rumit. Hal ini terutama untuk menghilangkan bahan beracun yang terdapat di dalam umbi gadung. Karena itu, setelah gadung digali di hutan dan dibawa ke rumah. Kemudian umbi gadung dikupas dan diiris tipis. Setelah selesai diiris kumidian gadung-gadung yang sudah diiris tersebut di jemur di bawah terik matahari . Setelah sehari dijemur kemudian diwadahi dalam karung plastik kemudian di rendam di sungai selama satu malam. Setelah direndam semalam paginya gadung tersebut di gombang di air sungai sampai warna gadung menjadi putih bersih.  Setelah bersih kemudian dibawa pulang untuk direbus. Setelah itu dijemur lagi sampai kering dan siap untuk dijual. Itulah proses yang cukup rumit pembuatan bahan keripik gadung. “Kulo nate nyobak mados terus ngolah ndamel keripik gadung, tapi rasane abot tur nggeh ruwet,” kata istri Wijianto, Kamituo Kampung Kedungdendeng.

Itulah sekilas sumber mata pencaharian warga kedungdendeng, Kecamatan Plandaan. Sebagai penopang kegiatan ekonomi sehari-hari. Di Kedungdendeng terdapat 2 buah toko serba ada yang melayani mulai kopi, rokok, kebutuhan sehari-hari sampai pada obat-obatan pertanian. Di warung itulah sehari-hari warga memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebanyakan hutang kemudian dibayar musim panen tiba. Dan, warung itu juga yang membeli panen padi warga kampung kedungdendeng. 

Satu jalan hidup yang sangat sederhana dan sepi. Bahkan cenderung terbatas ditengah hiruk pikuk masyarakat umumnya saat ini. Keterbatasan akses jalan, keterbatasan akses listrik, keterbatasan akses sosial, keterbatasan akses informasi  dan komunikasi. Tapi masyarakat Kedungdendeng memutuskan untuk tetap tinggal di tempat yang memiliki sejarah sebagai saksi perjuangan mbah-mbah mereka.

PROFIL KAMPUNG KEDUNGDENDENG :

Jumlah Warga : 418 jiwa
KK    : 137 KK
Sekolahan : 1 sekolah SD, TK.
Mata pencaharian : Petani, Buruh tani, mencari kayu dan hasil hutan

(Sumber : Buletin Humus Edisi 29 Tahun IV 2012)

 

 

 

 

Comments  

 
#1 obat lemah syahwat 2013-01-07 14:11
terimaksih atas informasinya bagus dan jelas serta bagus artikelnya...
 
 
#2 jalan menuju sehat 2013-01-07 14:12
semoga indonesia jauh dari ke miskinan dan korupsi aminnn
 
 
#3 ani rohmania 2013-03-01 12:23
semoga plandaan bisa jadi daerah yang lebih maju dalam perekonomian dengan kekayaan alam yang dimiliki..
ayo teman2, kita sebagai generasi penerus daerah plandaan bersama-sama memajukan daerah kita.
 

Add comment

Security code
Refresh