ANDA BERADA DI: Depan Berita Info Kecamatan “KELOR” ANDALAN PKK MOJOKAMBANG DALAM KEAMANAN PANGAN

“KELOR” ANDALAN PKK MOJOKAMBANG DALAM KEAMANAN PANGAN

E-mail Cetak PDF

Dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang keamanan pangan, Kelompok Kerja (Pokja) III PKK Desa Mojokambang mengadakan pelatihan dan praktik keamanan pangan. Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, 8 September 2016 bertempat di Balai Desa Mojokambang Kecamatan Bandarkedungmulyo.

Hadir dalam pelatihan tersebut ibu-ibu Tim Penggerak PKK Desa Mojokambang, masyarakat umum, tokoh masyarakat dan 40 tokoh perempuan. Narasumber berasal dari Pokja III PKK Kecamatan, dan Koordinator PPL BPP Bandarkedungmulyo.

Dalam paparannya, narasumber dari BPP Bandarkedungmulyo Ahmad Fauzi, SP menyatakan bahwa dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012, yang disebut pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/ atau pembuatan makanan atau minuman.  Sedangkan keamanan pangan yang dimaksud disini adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

Hasil pertanian dapat berupa biji-bijian, umbi-umbian, daun/ batang, bunga, dan buah. Untuk biji-bijian biasanya dapat disimpan dalam waktu yang lama setelah diturunkan kadar airnya melalui proses pengeringan. Khusus untuk produk yang berupa sayur dan buah, memiliki karakteristik melimpah pada musim tertentu, mudah rusak/ busuk, mengandung banyak air (sukulen), dan memakan tempat.

Jika ditilik dari proses budidayanya, komoditi pertanian rentan terhadap pengaruh cuaca dan serangan hama-penyakit. Hal ini berakibat pada kecenderungan petani untuk melindungi tanamannya dengan cara-cara pengendalian yang tidak tepat.  Penggunaan pupuk dan pestisida sering berlebihan. Hal ini akan berakibat pada tertinggalnya bahan-bahan pengendali tersebut di dalam tanaman, atau biasa disebut dengan residu.

Sayuran dan buah merupakan bahan pangan yang cukup tinggi cemaran pestisidanya. Oleh karenanya sebagai konsumen kita harus mewaspadai dan memperhatikan karakteristik dari masing-masing jenisnya. Di lapangan, biasanya petani memberikan perlakuan berbeda-beda terhadap masing-masing buah dan sayuran. Sebagai contoh sayuran jenis kol, petai, brokoli, kembang kol, buncis, paprika, kacang panjang, tomat, cabai, bawang dan kapri cukup tinggi cemaran pestisidanya karena jenis tanaman ini sangat rentan terhadap serangan serangga dan jamur sehingga para petani sering menyemprotkan insektisida dan fungisida pada sayuran tersebut. Selain itu sayuran tersebut biasanya dimasak tanpa di kupas sehingga kemungkinan terbawanya pestisida yang menempel di permukaan sayuran sangat besar, apalagi bila konturnya berlekuk seperti brokoli dan kembang kol. Karena kontur yang berlekuk menyebabkan pestisida melekat lebih erat dan susah larut saat di cuci.

Jenis sayuran yang rendah cemaran pestisidanya adalah daun melinjo, daun singkong, bayam, genjer, daun pepaya, bunga pepaya, dan daun kemangi. Petani biasanya jarang melakukan penyemprotan hama pada jenis sayuran ini karena jarang diserang hama.  Ada juga beberapa sayuran yang hampir tidak di jumpai pestisida seperti kecambah atau tauge, karena sayuran ini adalah tunas muda yang disemaikan tidak melalui media tanah sehingga tidak perlu dilakukan penyemprotan pestisida.

Buah impor yang biasanya dimakan langsung tanpa dikupas kulitnya seperti apel, pir, anggur, jambu biji, belimbing, stroberi dan blueberry memiliki risiko pencemaran pestisida yang lebih besar karena buah-buahan ini sangat rentan terhadap serangan hama sehingga petani banyak menggunakan pestisida, kecuali bila di budidayakan secara organik. Buah lokal seperti pisang, pepaya, nanas, sirsak, duku, rambutan , salak, durian , melon, semangka dan mangga memiliki cemaran pestisida yang rendah karena buah ini akan dikupas kulitnya sebelum di makan.

Sebagai konsumen, kita harus cermat dalam mengamati penampakan sayuran dan buah sebelum membeli.Sayuran dan buah yang bopeng atau ada lubang bekas termakan ulat biasanya justru merupakan sayuran yang dibudidaya tanpa menyemprotkan pestisida.Sebaliknya, sayuran dan buah yang terlihat mulus biasanya hasil pertanian yang menggunakan pestisida.

Pengunaan pestisida terbukti efektif  meningkatkan produksi pertanian, tetapi bukan berarti penggunaannya tidak menimbulkan dampak buruk, baik dari sudut pandang kesehatan maupun ekonomi. Penggunaan pestisida dalam budidaya pertanian memang dilematis, karena di satu sisi penggunaannya bermanfaat untuk meningkatkan hasil tanam, namun di sisi yang lain dapat berbahaya bagi kesehatan manusia jika penggunaannya berlebihan. Pestisida merupakan senyawa kimia yang tidak mudah terurai. Jika terkonsumsi, residu pestisida tidak mudah dikeluarkan dan akan mengendap di dalam tubuh. Dalam jumlah yang kecil, tubuh masih dapat menetralisir residu pestisida. Namun jika asupannya sering dan dalam jangka waktu lama maka dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Paparan pestisida dapat menyebabkan dua jenis dampak bagi kesehatan, yaitu efek akut yang bersifak jangka pendek, dan efek kronis yang bersifat jangka panjang. Seberapa parah dampak kesehatan ini ditentukan oleh beberapa faktor seperti dosis, jalur paparan, kerentanan genetika seseorang, usia ketika terpapar, kondisi kesehatan umum penderita, durasi paparan, faktor lingkungan, dan penyerapan bersamaan dengan bahan kimia lain melalui faktor lainnya.

Dampak paparan pestisida yang bersifat akut di antaranya: iritasi mata dan pengeluaran air mata terus menerus, luka tertentu pada kulit, memar, pembengkakan, luka bakar, kulit gatal, sakit kepala, depresi, kejang otot, kurang koordinasi antara otak dan otot, hingga kehilangan kesadaran. Pestisida yang terhirup melalui saluran pernafasan menyebabkan sakit tenggorokan, pilek, batuk, kesulitan bernafas, hingga kegagalan bernafas. Jika pestisida masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, dampak akut yang ditimbulkannya berupa gejala keracunan seperti denyut jantung tidak teratur, mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

Paparan pestisida dalam jangka panjang menimbulkan gangguan kesehatan yang bersifat kronis. Di antaranya adalah: peningkatan risiko kanker,kerusakan sistem saraf (misal Parkinson), gangguan reproduksi serta kerusakan organ tubuh. Selain itu pestisida bersifat mutagenik yang dapat menyebabkan kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang dan teratogenik yang dapat menyebabkan bayi lahir cacat dari ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran dan buah yang disemprot pestisida.

Residu pestisida berbahaya terdapat di hampir semua jenis sayuran dan buah yang akan kita konsumsi. Solusi terbaik adalah dengan memilih sayuran dan buah organik, namun kendalanya sulit memperoleh dan harganya relatif lebih mahal. Keuntungan lain dari sayuran dan buah organik, selain bebas pestisida juga mengandung nilai nutrisi seperti vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan sayuran dan buah yang di budidayakan secara anorganik. Sayuran dan buah organik bisa dihasilkan sendiri dengan memanfaatkan pekarangan yang ada di sekitar rumah melalui kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Selain hemat dan bernilai estetika, kita juga akan lebih yakin bahwa sayur dan buah yang dihasilkan benar-benar bebas dari residu pestisida.

Jika sulit memperoleh produk pertanian organik, mengurangi residu pestisida yang menempel pada sayuran dan buah dapat dilakukan dengan metode memasak yang baik. Mencuci buah dan sayuran dengan menggunakan air mengalir sangat disarankan agar residu pestisida yang menempel tersebut dapat larut atau hilang. Mengupas buah seperti pir, apel dan sayuran seperti wortel sangat disarankan karena residu pestisida dapat melekat erat di kulit buah meskipun sudah di cuci bersih. Memasak sayuran dengan cara merebus, mengukus atau digoreng juga dapat melarutkan residu pestisida hingga 90%.

Dalam praktiknya yang di pandu Ibu Niswatin dari Pokja III Kecamatan, menu aman dan sehat yang diperagakan adalah Galantin Caos Tiram. Yang menarik dari menu ini adalah penggunaan daun kelor sebagai bahan tambahannya. Seperti telah diketahui, bahwa daun kelor mempunyai manfaat yang luar biasa, baik untuk obat maupun kandungan gizinya. Dalam takaran yang sama, nilai gizi daun kelor segar sebanding dengan 3 kali potassium dalam pisang, 4 kali viatamin A dalam wortel, 25 kali zat besi dalam bayam, 7 kali vitamin C dalam jeruk, 4 kali Kalsium dalam susu, 2 kali protein dalam yogurt. (Oezi –TI. Bandar)

 

Add comment

Security code
Refresh