ANDA BERADA DI: Depan Berita Kelompok Budaya Kerja SDM KUNCI SUKSES PEMBANGUNAN SEKTOR HILIR

SDM KUNCI SUKSES PEMBANGUNAN SEKTOR HILIR

E-mail Cetak PDF

Kalau sementara ini 80 % kelompoktani masih berkutat di sektor hulu (budidaya) sedangkan hilir (pasar) baru 20 %.

Maka, para penyuluh justru harus meningkatkan kapasitas dan kemampuannya di sektor hilir, yang selanjutnya menjadi materi penyuluhan untuk kelompoktani. Ini dikarenakan keuntungan dari sisi budidaya hanya berkisar antara 21% sementara 79 % keuntungan diperoleh dari sisi hilir (perdagangan). Ini belum dari multiplier effect (dampak lain) dari kegiatan bisnis yang mungkin belum bisa dihitung.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kab. Jombang dihadapan para petugas pendamping PUAP dalam kegiatan sosialisasi dan pembinaan PUAP Kabupaten Jombang. Drs. Suhardi, MSi, menjelaskan salah satu persoalan mendasar untuk mengembangkan sisi hilir adalah kualitas SDM baik SDM petani maupun SDM petugas.  “Para petani masih berperilaku sebagai petani tradisional. Belum sebagai petani pengusaha,” kata Suhardi.

Suhardi menambahkan, Kemitraan Gapoktan dengan Bulog adalah salah satu bentuk alternatif pasar. “Disinilah pasti ada ruang-ruang kosong yang harusnya diisi dan dipelajari. Misalnya, bagaimana bekerjasama dengan perbankan. Bagaimana bermitra dengan Bulog. Kalau selama ini kita bisa enak-enakan saja, maka setelah ini tidak bisa lagi. Kita harus bisa mengikuti alur dan ketentuan bermitra.  Bagaimana menyusun RUB (Rencana Usaha Bersama), bagaimana mengalokasikan modal yang sudah diperoleh, para petugas harus terlibat secara langsung dengan kelompok, ” lanjut Suhardi.

Dalam kesempatan pembekalan para pendamping PUAP Kepala Dinas menandaskan supaya LKMA center segera diformalkan dan dibuat aturan yang jelas. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi preseden (kesalahfahaman) dari pihak-pihak lain sehingga dibelakang nanti menjadi persoalan.

Di akhir penjelasannya, Kepala Dinas yang juga mantan seorang penyuluh itu menyampaikan supaya Dinas Pertanian dan para petugas mulai melibatkan petani pemandu secara lebih intensif. “Petani yang sudah di TOT harus segera diusahakan mendapat sertifikat untuk dilibatkan dalam kegiatan pendapingan kelompok. Hanya dengan begitu upaya peningkatan SDM bisa selaras antara SDM petugas dan SDM petani,”pungkas Suhardi.


 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh