ANDA BERADA DI: Depan Berita Mbah Suluh Buah Lokal Untuk Masyarakat Lokal

Buah Lokal Untuk Masyarakat Lokal

E-mail Cetak PDF

Kali ini saya harus mengantar istri ke pasar.  Meski dibulan puasa, namun seperti biasa rutinitas mingguan ini harus kami lakukan untuk menjaga stok logistik keluarga selama sepekan.  Tak jauh-jauh, Pasar Pon dekat rumah menjadi sasaran kami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Pasar tradisional ini cukup lengkap dalam pemenuhan kebutuhan pokok.  Seperti biasa pula, saya hanya menunggu di parkiran sambil melihat para pedagang dan pembeli yang berlalu lalang didepan saya.  Seakan tak ada hentinya, transaksi terjadi begitu deras.  Dalam benak saya, berapa jumlah perputaran uang setiap harinya di pasar ini.  Jika Jombang memiliki satu pasar saja di tiap kecamatan, bisa kita perkirakan betapa itu sangat berpengaruh pada kondisi perekomonian di wilayah itu.

 

Yang juga menjadi perhatian saya adalah begitu banyaknya buah impor yang mendominasi produk buah disana.  Mulai dari apel, anggur merah, jeruk, pisang hingga strowberi seakan menutup wajah buah lokal kita.  Saya akhirnya mengingat selama perjalanan menuju pasar tadi.  Tanpa saya sadari memang hampir sepanjang jalan pedangang buah tak luput dari buah import yang dipajang.  Dengan kemasan dan tampilan yang menarik, membuat calon konsumen ingin melirik dan berhenti untuk membelinya.  Memang MEA saat ini sudah disepakati untuk dijalankan.  MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) yang berdampak besar pada masyarakat.

Dalam angan saya, ketika kita tidak mampu meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas dan kontinuitas produk pertanian terutama buah lokal, maka kita akan menjadi konsumen produk pertanian dari negara-negara ASEAN lain.  Hal ini tentunya akan sangat merugikan bagi perekonomian nasional kita.  Tiba-tiba terdengar suara menyebut nama saya “monggo pak”, seakan menyadarkan saya dari lamunan dan angan saya.  “Ouw iya pak, monggo-monggo” jawab saya singkat.  Sambil menggeser posisi duduk di pembatas jembatan, saya ayunkan kaki yang mulai tak nyaman lagi.  Aku ambil HP dari saku celana yang sejak tadi bergetar saya abaikan.  Beberapa Chat di WA mulai menumpuk.  Banyak bahasan di group SMP, SMA, Kuliah dan teman kerja.  Tak kalah menarik ketika teman-teman membahas berbagai menu takjil selama ramadhan.  Aku lihat satu-per satu diskusi teman-teman, candaan dan beberapa pemikiran serta motivasi diri.

Lagi-lagi saya dikejutkan dengan suara yang mengusik konsentrasiku.  “Pak monggo sayang anak pak, buat oleh-oleh”.  Saya lihat penjual mainan sedang menjajakan dagangannya.  Tubuh tua itu masih kuat meniti tiap jengkal jalan dengan sabarnya.  Beberapa mainan tradisional ada dalam keranjang yang dia pikul.  Mainan buatan tangan yang sering kita temui sewaktu kecil ternyata dia jajakan.  Meski terbuat dari bahan-bahan daur ulang, kreatifitas ini yang perlu diapresiasi.  Sandal jepit dari ban bekas yang ia pakai mulai tidak simetris lagi namun seakan masih setia menemani tiap langkah sang pedagang mainan tua.  Kaki legam terlihat akrap dengan debu dan angin jalanan membuat saya berangan betapa melelahkan perjalanan yang ia tempuh tiap hari.  Celana bekas seragam SMA yang mulai usang namun layak pakai terlihat selalu setia melindungi kaki yang meniti jalan dengan pelan.  Baju kemeja putih yang dipakaipun, meski terlihat usang tapi masih mampu memantulkan sebagian sengatan matahari.  Dengan topi yang tertera merk dagang produk otomotif, terlihat mampu menutupi sebagian wajah.  Kendati demikian wajah ceria masih dia tampilkan untuk menggaet pelanggan.

Terbersit dalam pikiranku, betapa kita dikarunia kekayaan alam yang melimpah ruah dengan tanah yang subur, keragaman hayati yang tinggi dan berbagai potensi lain yang belum tergali.  Dari mana mustinya kita mulai melakukan perbaikan.  Sedangkan Tuhan telah mengamanahkan kita dengan berbagai potensi yang ada.

Jika kita kembalikan sejauh mana dan dari mana kita harus memulai,  maka dengan bijak seharusnya kita bisa awali dari diri sendiri, dengan mengelola apa yang sudah di amanahkan Tuhan pada kita.  Melalui hal terkecil yang bisa dilakukan dan sesegera mungkin.  Jika kita memiliki potensi pekarangan yang ada namun belum terkelola dengan baik, maka setidaknya bisa lebih baik menanganinya agar memiliki produktivitas yang lebih tinggi. 
Banyak kita jumpai tanaman pekarangan yang belum terawat dengan baik sehingga produktivitasnya sangat rendah terutama tanaman buah.  untuk itu kali ini Mbah Suluh akan mengupas bagaimana tips dan trik agar tanaman buah dipekarangan memiliki produktivitas lebih tinggi dengan harapan produk buah lokal bisa bersaing untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Membuahkan Tanaman

Hari minggu yang cerah, kali ini Mbah Suluh didatangi anak dan cucunya.   Tentu saja tidak pergi kesawah atau ladang.  Beliau sedang asyik bermain bersama cucunya dirumah sambil merawat hewan peliharaan yang ada.  Memberi makan ayam, ikan dan burung peliharaan serta beberapa jenis tanaman pekarangan.  Mbah Suluh merupakan kakek dengan 7 cucu dan 2 buyut.  Namun dengan usianya yang menginjak 75 tahun pada tahun ini, tubuhnya masih bugar dan lincah pergi ke sawah dan ladang meski dengan pekerjaan sekedarnya.

Didatangi 3 Cucunya dari luar kota, Mbah suluh antusias menunjukkan hasil ternak dan tanaman pekarangan disekitar rumah.  Salah satu cucu menanyakan.

Cucu : Mbah pakan ikannya kok dari dedak, apa perute ikan tidak sakit? (sambil ngaduk kolam ikan lele yang tak seberapa lebar dibelakang rumah dengan jaring).

Mbah Suluh : Ya kan itu jadi pakan tambahan to Cu.... kadang Mbah Kasih pakan pelet yang Mbah beli dari toko.  (Jawab Mbah Suluh dengan serius sambil menata wadah pakan yang tergeletak berserak di pinggir kolam)

Cucu : Yo enak dedak semua kalo gitu Mbah... gratisss... (Sambil mengacungkan jempol kirinya ke Mbah Suluh.  Tangan Kanan tetap pegang jaring sedang, aktif ngaduk-ngaduk kolam sambi sesekali melepaskan kembali Lele yang tertangkap)

Mbah Suluh : Ya kan ikan perlu nutrisi yang lengkap Cu.... kalo dedak aja kurang nutrisinya ntar... lha Mbah tidak punya bahan lain untuk tambahan pakan soalnya.

Cucu : Apa aja bahannya Mbah? (sambil menata celana yang mulai melorot karena sejak tadi jongkok)

Mbah Suluh : Kalo dedak saja, yang dominan kan karbohidratnya, sedangkan kebutuhan ikan harus lengkap mulai dari protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.  jadi bahannya juga harus beragam Cu... Mulai dari unsur daging, kacang-kacangan dan bijian lain (Mbah suluh menjawab dengan senang melihat cucunya yang mulai kritis, ingin tau nya tinggi)

Tak lama berselang, datanglah anak bungsu Mbah Suluh sambil duduk disebelahnya.  Sambil melepas sandal Lily kuning yang akrap dengan suasana masa lalu.  Dijajarkan sandal di tanah disebelah Mbah Suluh untuk duduk diatasnya.

Mbah Suluh : Kuwi lho Le, ono dingklik Jupuk en (Itu lho nak, ada kursi kecil kmu ambil). sambil menunjuk kursi kecil di dekat pintu keluar kandang. 

Anak : Sampun Pak. nanggung mpun lenggah.  niki nggih langkung empuk kok. hehheh.... (Sudah pak, tanggung sudah duduk.  Ini juga lebih empuk).

Sambil menata posisi duduk didekat Ayahnya, terlihat sang anak kangen juga dengan nasehat-nasehatnya.

Anak : Sudah pak... jangan diteruskan, anak itu kalo dijawab akan terus bertanya. hehehehh... (sambil menunjuk anaknya).  Itu adik nyari tuh, mau dikasih apa kakak e...

Cucu : (sambil melirik arah dapur) Apa dekk.... (teriak sambil menyambut adiknya datang tidak membawa apa apa). Belom mateng Yah.... (berangan ikan hasil tangkapan sudah masak digoreng)

Mbah Suluh : Ati-ati, adiknya dijaga.  diajak lihat ikan sana... (Sambil megang tangan adiknya yang masih balita)

Anak : Pak, niku jeruk lemon e lebat juga.  harganya lumayan pak... dipupuk nopo niku? (sambil penasaran)

Mbah Suluh : Iyo, jane gampang nandur iku le... (sambil garuk-garuk kaki dan mencari gerakan semut).

Anak : Nanamnya mudah pak, tapi membuahkan nya yang sulit. hehhehe..... (Maklum putra Mbah Suluh lama tidak main-main tanaman)

Mbah Suluh : Gini lho le, buah itu sebenarnya adalah cadangan makanan bagi tanaman.  Artinya, tanaman akan mengeluarkan buah ketika nutrisi yang ada itu sudah cukup berlebih untuk pertumbuhan.  Dia akan berusaya mempertahankan generasinya melalui biji dengan sumber nutrisi dari buah.  yaaa... tergantung jenis tanamannya to, itu untuk tanaman dengan perkembangbiakan generatif. 

Anak : Berarti kalo kita ingin tanaman kita berbuah sesuai harapan, kita harus berikan makanan yang cukup untuk tanaman ya pak?

Mbah Suluh : Tepat sekali le.... (sambil senyum)

Anak : Trus makanan apa yang perlu diberikan pak? NPK itu kah maksudnya.... (penasaran sang anak)

Mbah Suluh : Tidak hanya itu le....selain NPK, diperlukan juga Cl, Co, Cu, Ca, Si, S, Mg, Fe, Zn, B dan Na, yang semua diperlukan pada jumlah yang sesuai dan seimbang.  (sambil menghitung dengan kedua jari tangannya)

Anak : Wih, bapak Huwafal e.... (sambil senyum)

Mbah Suluh : Lha Bapakmu iki lak yo aktif melu penyuluhan e Bu Bindari to le.... PPL senior iku, jaman nom nomane bapak iko.... (Bapak aktif ikut penyuluhan nak... PPL senior itu, sejak masa mudanya bapak dulu)

Anak : Caranya mupuknya gimana pak? (sambil sesekali melempar makanan pakan ikan)

Mbah Suluh : Pada umumnya tanaman akan menyerap nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan bunga, buah dan biji.  Jika kita ingin tanaman berbuah secara optimal, maka sejak masa pertumbuhan hingga masa generatif, kebutuhan nutrisi tadi harus selalu ada secara seimbang. 

Anak : Oooo... gitu nggih pak.  kadang ada tanaman yang sulit berbuah itu gimana pak?...

Mbah Suluh : Memang ada tanaman tertentu yang memiliki karakteristik tertentu seperti tanaman jantan dan betina atau penyebab spesifik lain.  Namun umumnya tidak seperti itu. 

Anak : Kalo kita ingin membuahkan tanaman lebih cepat gimana Pak?

Mbah Suluh    : Dari segi bibit tanaman harus unggul. Sekarang bnyak bibit unggul berlabel hasil pemuliaan dan dibiakkan melalui vegetatif sehingga selain produktif tanaman juga akan cepat berbuah.

Anak : Ouw gtu nggih... Cara tanam e juga pengaruh ya pak? gimana harusnya pak?

Mbah Suluh : Cara tanamnya pun harus diletakkan pada tempat yang bisa menerima cahaya matahari pagi.  Idealnya dibuatkan lubang tanam dengan ukuran 1m x 1m dengan kedalaman 1m.  dibiarkan selama minimal 7-10 hari.  Agar mikroorganisme berkembang dulu.  separuh tanah pada lapisan atas di pisahkan dengan separuh tanah lapisan bawahnya.  Karena tanah topsoil (bagian atas) lebih subur.

Anak    : Ouw gitu pak

Mbah Suluh : Selanjutnya bibit disiapkan dengan membuka bungkusnya. Masukkan lapisan tanah topsoil yang telah dicampur pupuk organik 1:1 terlebih dulu kedalam lubang tanam. Masukkan bibit dengan posisi tepat ditengah lubang tanam. Selanjutnya tutup dengan tanah bagian bawah tadi yang sudah pula dicampur dengan pupuk organik 1:1 terlebih dulu. Padatkan mulai dari tepi lubang hingga tengah lubang....

Anak : Wah, segitunya bapakku....

Mbah Suluh : Ouw iya, penggunaan pupuk organik bisa ditambahkan pupuk NPK secukupnya.  Selanjutnya berikan ajir/ tiang penyangga tanaman agar tidak mudah bergerak/ roboh.  Dan siram hingga air meluber dipermukaan tanah.

Anak : Selanjutnya pak?

Mbah Suluh : Rawat seperti biasa, bisa dilakukan pemupukan dengan unsur lengkap baik mikro dan makronya.  Pemangkasan juga perlu dilakukan dengan jumlah abang dari bawah ke atas maksimal 3 cabang, dan masing-masing cabang juga maksimal 3 ranting dan seterusnya keatas. 

Anak : Gimana cara pemupukan yang benar pak?

Mbah Suluh : Melingkar pada tepi tanaman, dibawah tajuk daun terluar digali secukupnya tebarkan pupuk atau dilarutkan terlebih dulu dan ditimbun.  semakin kompleks dan seimbang pupuknya, akan sangat mendukung pertumbuhan dan produktifitas tanaman. 

Anak : Terkadang ada tanaman yang sulit berbuah pak, meskipun bibit sudah unggul, media sudah bagus.  Apakah yang kita lakukan?

Mbah Suluh : Kalau memang itu masih terjadi, kemungkinan besar faktor hormon yang bermasalah. Bisa dilakukan pemupukan dengan kandungan P dan K yang lebih tinggi, kurangi unsur N nya.  Lebih baik lagi jika bisa ditambahkan larutan MOL dari buah buahan atau timbuni dibawah batang pohon dengan buah buahan yang sudah membusuk.  Kalo masih belum ada perubahan lagi, lukai batang agar mengeluarkan getah secukupnya, agar getah yang terjatuh pada batang dan tanah bisa mengirimkan kode-kode genetis merangsang pertumbuhan hormon tertentu penunjang proses generatif. 

Anak : Wah wah wah... tak kuduga bapakku sehebat ini. hehehheh....
Tak terasa waktu menjelang siang dan matahari mulai terasa panas dikulit.  mereka pun segera beranjak melakukan aktifitas lain. (rud)

 

Add comment

Security code
Refresh