ANDA BERADA DI: Depan Berita Mbah Suluh PETANI KOLOT BERTANI IRIT (MBAH SULUH EDISI 10)

PETANI KOLOT BERTANI IRIT (MBAH SULUH EDISI 10)

E-mail Cetak PDF

Dalam diskusi yang terjadi di Gubug tani, beberapa petani dan pengurus kelompok menjawab pertanyaan yang saya lontarkan  dalam berbagai “jebakan batman”.  Ada salah satu petani yang menarik untuk dibahas.  Wajahnya yang lugu, baju yang sederhana, kaki coklat kehitaman datang terlambat “kumpulan”.  Membuat perhatianku tertuju padanya dan mengingatkanku pada sosok Mbah Suluh.  Untuk itu, kami perbarui episode Mbah Suluh kali ini dari kisah petani kolot terlambat kumpulan. 

Kali ini kami ditugasi untuk melakukan penilain lomba Kelompoktani tingkat Kabupaten.  Setelah ditetapkan masing-masih pemenang tingkat kecamatan, kami harus melihat dari dekat kondisi kelompoktani secara langsung untuk menentukan pemenang lomba kelompoktani tingkat kabupaten.  Kebetulan aspek teknis menjadi bidikan saya.  Banyak hal menarik yang bisa menjadi bahan evaluasi pelaksanaan program kita, terutama pengembangan pertanian organik di Jombang.

Aku lihat beliau datang terlambat.  “mantun ndesel pak, ngapunten”(selesai menyiram pak, maaf) ujarnya.  “Mboten nopo-nopo” (Tidak apa-apa), jawab saya sambil lempari dengan senyuman.  Akupun mempersilahkan untuk duduk dengan menggeser posisiku.  Karena diskusi sedang berlangsung, terakhir pertanyaanku sering aku tujukan ke beliaunya.  Disana diceritakan betapa bertani semakin sulit sekarang.  Mulai kekurangan pupuk bersubsidi, sulitnya pengairan, hingga serangan hama penyakit serta harga yang kurang berpihak kepada petani.  Mereka juga telah melakukan banyak hal untuk mengatasi masalah mereka sendiri secara berkelompok, untuk penghematan biaya usaha tani.

Sesekali tangan yang sering bergulat dengan tanah itu mengusap keringat yang menetes di pelipis dan dahi.  Menceritakan betapa beratnya mengembalikan kesuburan tanah yang ada.  Jangankan untuk mengurangi, kebutuhan pupuk saja malah terus meningkat dari tahun ketahun, ulasnya. 
Tampak dikakinya tanah liat yang mulai mengering.  Putih mulai terpisah dengan kulit yang tergolong legam.  Sesekali tanah yang melekat di rambut kakinya mulai terlepas.  Gatal tentunya.  Dibenakku akankah petani lain seperti ini.  Sudahkah petani kita sadar akan kondisi tanah mereka.  Apakah mereka tau apa yang harus mereka lakukan. Berbagai pertanyaan terus berkembang dipikiranku.  Untuk itu kali ini, Mbah Suluh akan mengupas bagaimana efisiensi usaha tani dilakukan akan usaha tani bisa efektif secara berkelanjutan.

BERTANI HEMAT
Nyanyi kecil burung kenari yang indah bagai somfoni mengiringi Perjalanan Mbah Suluh ke ladangnya.  Fajar yang mulai menyingsing dengan cahaya menembus pepohonan menjadi back groud siluet petani tua ini.  Dengan menenteng cangkul dan sabit, Mbah Suluh, petani tua ini masih merasakan kedamaian dihatinya.  Butir-butir embun menetes yang membasahi dedaunan dilengkapi bunga-bunga refugia tepi ladang yang bertaburan beraneka warna.  Membuat suasana semakin semarak indah dipandang.

Sesampai Mbah Suluh diladang jagungnya yang siap panen, seperti biasa dia meletakkan peralatan dan bekal air putih serta camilan berat, ubi bakar kesukaannya.  Sembari berdiri dipematang ladang, Mbah suluh bergumam dalam hati.  “Wah, minggu ini harus sudah dipanen ini”. 
Sesaat kemudian Mbah Suluh seakan reflek, tangan kanan soto matis, (maaf salah ketik) otomatis mengambil botol air putih  yang dia bawa.  Tubuh yang langsing memang memudahkan dia untuk jongkok dan duduk dengan lincah.  Setelah beberapa teguk air melewati tenggorokan, Mbah Suluh bergegas penasaran melihat tanamannya.  Namun, langkah cepatnya justru mengusik burung tekukur diatas pohon Mimba disampingnya. 
Beberapa sisi ladang telah terpantau aman.  Gulma, hama dan penyakit tidak dijumpai.  Maklum sudah 3 hari ini Mbah Suluh tidak keladang karena ada tamu teman lama yang datang dari Batam dan Palembang ngajak kumpul-kumpul di Baron.  Kembali ke ladang aja. Cerita Mbah Suluh pergi kekota di cancle dulu.
Tak lama berselang, suara teriakan menyapa Mbah Suluh dari tepi jalan.  Rupanya pak Hari yang datang dari Jakarta menghampirinya dengan wajah ceria. 
Pak Ha        : Assalamualaikum Mbah... (sapanya sambil semangat, namun tetap melihat pematang sawah karena takut jatuh).
Mbah Suluh    : Waalaikumsalam.... Hati-hati pak Ha.... monggo pinarak...(sahut Mbah Suluh)
Pak Ha        : Iya Mbah... Lhoh Gubuknya mana ini? Dlu ada gubuknya to....
Mbah Suluh    : Iya, wes Gaprek kayune pak Ha.... (sudah lapuk kayunya) belum sempat buat lagi.. (sambil menunjukkan batu besar untuk duduk)
Pak Ha        : Kesik-kesik, ngguya ngguyu.
Mbah Suluh    : Gimana kabar teman-teman? Pak Parit, Pak Condro gak pulang to? (Nyodorkan jabat tangan)
Pak Ha        : Iya e Mbah... sepi mudik teman-teman mbah.  Pak Rodi biasanya sebulan sekali juga sudah dua bulan ini gak kelihatan dirumah... sibuk kayaknya mbah..
Pak Hari ini adalah pengusaha diJakarta yang sedang mudik kekampungnya, beli tanah luas dan belajar tertani didesa ingin mengembangkan usahanya. 
Mbah Suluh    : ouw iya, biasanya juga keladang kalo mau ketemu saya.  (sambil buka plastik isi ubi bakar yang memang sebagian gosong)
Pak Ha        : Mbah, mungkin sudah dengar, saya beli Sawahnya Pak Bakron, lumayan luas sih, ada hampir 2 Ha.  Saya tanami jagung juga musim ini, tapi kok tidak sebagus ini ya Mbah.... bahkan ada yang putihen juga e... (Sambil lirik Ubi bakar yang dikeluarkan Mbah Suluh dari plastiknya). 
Mbah Suluh    : Diam, sambil senyum-senyum lihati ubi bakar yang sebagian gosong...
Pak Ha        : Kira-kira kenapa Mbah? (Lihati ubi gosong)
Mbah Suluh    : huft..... (niup ubi gosong)
Pak Ha        : Soalnya saya disuruh kesini sama tetangga-tetangga mbah... (Lihati tingkah Mbah Suluh yang seakan lebih peduli Ubi gosongnya dari pada dia)
Mbah Suluh    : Begini Pak Ha, Tanahnya Pak Bakron, itu dulu jarang menggunakan pupuk organik. Makanya harus diperbaiki terus kesuburannya.  Huft..... (niup Ubi Gosong, sambil mengambil Ubi lain di plastik yang tidak gosong)
Pak Ha        : Lha Caranya gimana to Mbah? Kalo tiap saya tanami seperti ini, saya bisa rugi Mbah.... (lirik Ubi bakar, Nah, ini enak kayaknya/ dalam hati)
Mbah Suluh    : Begini Pak Ha, saya kasih Contoh, semisal lahan 1 Ha menghasilkan 7 ton gabah atau jagung, andai limbahnya berbobot 2x lipatnya, maka ada 21 ton material yang keluar dari lahan seluas 1 Ha tiap tahunnya.  (Sambil menyodorkan ubi bakar ke pak Ha) ini di coba, manis kok....
Pak Ha        : Wajah Penasaran sambil menerima Ubi bakar (Bukan yang gosong tapiiiii...)
Mbah Suluh    : Kali 7 ton kita bawa pulang, 14 ton dlu dibakar pak Bakron, maka 21 ton material dari tanah seluas 1 Ha sudah hilang. Atau 63 ton tiap tahunnya.... Monggooo, diincipi Ubinya... Imbuh Mbah suluh....
Pak Ha        : Iya Mbah.... Wah lha kalo sudah bertahun-tahun akan semakin habis nutrisi tanahnya ya Mbah...
Mbah Suluh    : Iya, Tepatnya, bahan organiknya Pak Ha....(sambil melahap ubi bakar). 
Pak Ha        : Terus saya harus bagaimana Mbah... (sambil ngupas ubi bakar dan sesekali makan ubi)
Mbah Suluh    : Saran sayaaaa, Limbah pertanian jangan dibakar, tapi kembalikan lagi kelahannya.  Sedangkan hasil panen yang kita bawa pulang, itu kita ganti dengan bahan organik lain. Bisa berupa pupuk kandang, kompos, seresah daun dari pekarangan. Yaaaa... pokoknya benda mati, yang dulunya pernah hidup.  (Garuk-garuk pipi).  Kalau dibakar, maka sampean akan dapat hadiah dari Allah itu 3 benda, Asap, Arang dan air.  Pak Ha tau sendiri kan, asap itu termasuk Gas Rumah Kaca yang merusak lingkungan?
Pak Ha        : Iya Mbah.... (Ndlahom)
Mbah Suluh    : Nahhh.... jadi kalo kita membakar limbah pertanian, maka kita turut andil berbuat kerusakan dimuka bumi.... Monggo ubinya, manis kan? Punya saya sudah mau habis ini pak Ha...
Pak Ha        : Iya Mbah... (Ndlahom)
Mbah Suluh    : Tetapi kalau bahan organik/ limbah pertanian itu dijadikan upuk, maka unsur-unsur benda tadi akan terurai dan bisa diserap tanaman. 
Pak Ha        : Apakah tidak panas tanahnya Mbah? Sehingga sulit ditanami... karena proses dekomposisi belum selesai to....
Mbah Suluh    : Biar cepat terurai maka harus kita tambahkan mikroorganisme. Kalau gak tau caranya bisa lihat di websitenya Pertanian Jombang. (Pertanian.jombangkab.go.id/ download).  Prinsipnya adalah, menambah pengurai.
Pak Ha        : Maksudnya Mbah? (Kepo banget)
Mbah Suluh    : Ya bisa dengan pengembangan bakteri secara praktis-praktis aja....Misalnya, kalau ada yg sembelih sapi atau kambing, ambil aja rumput yang ada dilambungnya, pasti ada bekterinya disana. Tinggal diternak, masukkan Tong, kasih air, kasih makanan (tetes tebu/ gula/ air kelapa/ air leri dll seadanya). Tunggu sekitar 2 minggu, bakteri pengurai siap di kocor atau semprotkan lahan.. maka Bahan organik yang kita masukkan lahan akan lebih cepat terurai...
Pak Ha        : Ooooo... (merubah posisi duduk)
Mbah Suluh    : Sebenarnya dialampun banyak yang bisa kita manfaatkan, misalnya, tanaman yang paling keras disekitar kita adalah bambu. Seresah daunnya lama sekali lapuknya. Ketika ada yang lapuk di bagian bawah tumpukan daun bambu, maka itu bisa kita ternak juga bakterinya. 
Caranya, seresah daun bambu yang lapuk ditempatkan diwadah. Kemudian ambil nasi sekepal tangan, masukkan dalam seresah daun bambu yang hampir lapuk tadi. Maka sekitar seminggu nasi tadi sudah diliputi bakteri-bakteri yang suka makan daun bambu. Itu yang kita ternak, caranya sama, masukkan Tong, kasih air, kasih makanan (tetes tebu/ gula/ air kelapa/ air leri dll seadanya). Tunggu sekitar 2 minggu, bakteri pengurai siap di kocor atau semprotkan lahan.. maka Bahan organik yang kita masukkan lahan akan lebih cepat terurai...
Pak Ha        : Ooooo.... (merubah posisi duduk) Katanya kalau pake Pupuk Kandang banyak rumputnya to Mbah
Mbah Suluh    : Kalo pupuk kandang perlu difermentasi juga. Kalau fermentasi sempurna tidak akan tumbuh rumput, cirinya, pupuk kandang akan ditempati makhluk kidup seperti cacing dll. Kalo belum ada hewan yang mau hidup disana, sebenarnya belum terurai sempurna, jadi masih tumbuh biji rumputnya. Itu aja sih cirinya.
Pak Ha        : Ooooo... (merubah posisi duduk) Kalau hama penyakit Mbah?
Mbah Suluh     : Saya sejak 2007 mulai mengurangi kimia dan sekarang sudah tanpa melibatkan kimia, saya tidak menjumpai hama penyakit dilahan saya. Pak Ha bisa lihat sendiri, tongkol jagungnya besar-besar, pohonnya kekar dan sehat.  Meskipun Hama dan penyakit menyerang, kalau tanaman sehat, maka tidak mempan.  Kalau daerah lain ada hama, saya hanya perbanyak Pupuk kandang, kompos, POC atau kalau terpaksa Pesnab. Itu aja.
Pak Ha        : Berarti minim biaya Mbah ya.... (Garuk-Garuk)
Mbah Suluh    : Iyaaaa.... selain itu memanfaatkan potensi limbah organik yang ada, selain itu bertani akan ramah lingkungan, sehat, berkelanjutan serta produksi terus meningkat.
Pak Ha        : Kalo pakai pupuk kimia aja apakah bisa meningkatkan produksi mbah?
Mbah Suluh    : bisa saja, asal kondisi tanah masih mendukung, tapi ingat biaya produksinya.  Selain itu, kesuburan yang perlu kita pertahankan ada 3. Kesuburan fisik, Kesuburan Kimia dan kesuburan biologi. Ciri tanah yang subur secara fisik secara mudah kita kenali dengan bentuk tanah yang remah, gembur, porous dan biaanya cenderung berwarna gelap,
Pak Ha        : (Garuk-garuk)
Mbah Suluh    : Sedangkan kesuburan kimia, itu didalam tanah harus mengandung unsur yang diperlukan tanaman baik makro maupun mikro. Pupuk kimia biasanya mengandung NPK atau unsur makro saja. Tapi kalau pupuk organik sudah ada semua unsur yang diperlukan tanaman tergantung  tanaman apa yang kita pakai.  Karena tiap tanaman punya kandungan dominan yang berbeda. 
Pak Ha        : (Garuk-garuk)
Mbah Suluh    : Selanjutnya kesuburan biologi.  Maksudnya adalah, didalam tanah harus ada jasad renik untuk mengurai bahan organik dan membantu proses penyerapan unsur tanah.  Misalnya, NPK dalam bentuk NH4 tidak bisa dimakan tanaman, tapi harus diubah oleh Bakteri Nitrosomonas menjadi NO2-, masih perlu diubah lagi oleh Bakteri Nitrobakter menjadi NO3-. Ini yang bisa diserap tanaman. Bentuknya Ion. Jadi sebanyak apapun pupuk kimia yang kita berikan, maka perlu melibatkan bakteri dalam penyerapannya.
Pak Ha        : Huft (Ambil nafas Panjang)....
Mbah Suluh    : Nah, sekarang tidak perlu bahas bnyak bahas lagi Pak Ha, kita mulai sekarang dengan mengembalikan kesuburan tanah kita... (ambil minum dan menyodorkan ke Pak Hari)

 

 

Add comment

Security code
Refresh