ANDA BERADA DI: Depan Berita Mbah Suluh

Mbah Suluh

Buah Lokal Untuk Masyarakat Lokal

Kali ini saya harus mengantar istri ke pasar.  Meski dibulan puasa, namun seperti biasa rutinitas mingguan ini harus kami lakukan untuk menjaga stok logistik keluarga selama sepekan.  Tak jauh-jauh, Pasar Pon dekat rumah menjadi sasaran kami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Pasar tradisional ini cukup lengkap dalam pemenuhan kebutuhan pokok.  Seperti biasa pula, saya hanya menunggu di parkiran sambil melihat para pedagang dan pembeli yang berlalu lalang didepan saya.  Seakan tak ada hentinya, transaksi terjadi begitu deras.  Dalam benak saya, berapa jumlah perputaran uang setiap harinya di pasar ini.  Jika Jombang memiliki satu pasar saja di tiap kecamatan, bisa kita perkirakan betapa itu sangat berpengaruh pada kondisi perekomonian di wilayah itu.

   

PETANI KOLOT BERTANI IRIT (MBAH SULUH EDISI 10)

Dalam diskusi yang terjadi di Gubug tani, beberapa petani dan pengurus kelompok menjawab pertanyaan yang saya lontarkan  dalam berbagai “jebakan batman”.  Ada salah satu petani yang menarik untuk dibahas.  Wajahnya yang lugu, baju yang sederhana, kaki coklat kehitaman datang terlambat “kumpulan”.  Membuat perhatianku tertuju padanya dan mengingatkanku pada sosok Mbah Suluh.  Untuk itu, kami perbarui episode Mbah Suluh kali ini dari kisah petani kolot terlambat kumpulan. 

Kali ini kami ditugasi untuk melakukan penilain lomba Kelompoktani tingkat Kabupaten.  Setelah ditetapkan masing-masih pemenang tingkat kecamatan, kami harus melihat dari dekat kondisi kelompoktani secara langsung untuk menentukan pemenang lomba kelompoktani tingkat kabupaten.  Kebetulan aspek teknis menjadi bidikan saya.  Banyak hal menarik yang bisa menjadi bahan evaluasi pelaksanaan program kita, terutama pengembangan pertanian organik di Jombang.

   

GAGASAN MBAH SULUH MEMBANGUN DESA UNTUK MEMBANGUN NEGERI (MBAH SULUH EDISI 9)

Sabtu. Rasanya sangat senang ketika kami mendengarkan kata-kata itu.  Saya yakin teman-teman yang ngantorpun merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak, setelah 5 hari bergelut dengan pekerjaan, seakan terobati dengan kata-kata “Sabtu” dimana hari itu menjadi awal berkumpul dengan keluarga.  Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terasa begitu cepat berlalu.  Ini mengingatkanku akan pesan sosok tua nan berwibawa yang sampai saat ini pun aku lupakan namanya.  Memang pertemuan kami singkat dan tanpa terencana.  “Mas, nek wektu kroso cuepet, dino kroso cendhek, kuwi salah sijine tondo nek ndunyo wes tuwo” (Mas, kalau waktu terasa sangat cepat, hari terasa pendek, itu salah satu tanda kalau dunia sudah tua), ungkapnya sambil berkata lirih dan memandang langit.  “Menungso yo angel nyalurno zakat e sing pas. Wong mlarat soyo entek, mbayar zakat koyo mbayar pajek” (Manusia juga sulit menyalurkan zakatnya yang sesuai.  Orang miskin semakin sedikit. Membayar zakat, seperti membayar pajak), imbuhnya.

   

DORONG PETANI MASUKI DUNIA CYBER (MBAH SULUH EDISI 8)

Dunia benar-benar sudah mulai tua, itulah kesimpulanku saat ini. Betapa tidak, selain para ulama menyebutkan telah banyaknya berbagai tanda akan datangnya hari kiamat, juga memang banyak kita rasakan berbagai fenomena alam kita telah berubah dari hari ke hari. Rusaknya lingkungan telah akrap di sekitar kita bahkan sampai hal terkecil sekalipun.

Masih teringat di benakku betapa dulu tanah kita sejuk ketika menempel ditapak kaki. Sumber air terasa sangat mudah kita jumpai. Burung bangau sibuk berburu dengan koloninya. Tapi kini seolah suasana seperti itu tak ada lagi di muka bumi ini. Dalam benakku terus ngomel sendiri sambil ku pacu Win Hijau plat merah milikku. Milik kantorku maksudnya.