ANDA BERADA DI: Depan Berita Mbah Suluh

Mbah Suluh

PETANI KOLOT BERTANI IRIT (MBAH SULUH EDISI 10)

Dalam diskusi yang terjadi di Gubug tani, beberapa petani dan pengurus kelompok menjawab pertanyaan yang saya lontarkan  dalam berbagai “jebakan batman”.  Ada salah satu petani yang menarik untuk dibahas.  Wajahnya yang lugu, baju yang sederhana, kaki coklat kehitaman datang terlambat “kumpulan”.  Membuat perhatianku tertuju padanya dan mengingatkanku pada sosok Mbah Suluh.  Untuk itu, kami perbarui episode Mbah Suluh kali ini dari kisah petani kolot terlambat kumpulan. 

Kali ini kami ditugasi untuk melakukan penilain lomba Kelompoktani tingkat Kabupaten.  Setelah ditetapkan masing-masih pemenang tingkat kecamatan, kami harus melihat dari dekat kondisi kelompoktani secara langsung untuk menentukan pemenang lomba kelompoktani tingkat kabupaten.  Kebetulan aspek teknis menjadi bidikan saya.  Banyak hal menarik yang bisa menjadi bahan evaluasi pelaksanaan program kita, terutama pengembangan pertanian organik di Jombang.

   

GAGASAN MBAH SULUH MEMBANGUN DESA UNTUK MEMBANGUN NEGERI (MBAH SULUH EDISI 9)

Sabtu. Rasanya sangat senang ketika kami mendengarkan kata-kata itu.  Saya yakin teman-teman yang ngantorpun merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak, setelah 5 hari bergelut dengan pekerjaan, seakan terobati dengan kata-kata “Sabtu” dimana hari itu menjadi awal berkumpul dengan keluarga.  Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terasa begitu cepat berlalu.  Ini mengingatkanku akan pesan sosok tua nan berwibawa yang sampai saat ini pun aku lupakan namanya.  Memang pertemuan kami singkat dan tanpa terencana.  “Mas, nek wektu kroso cuepet, dino kroso cendhek, kuwi salah sijine tondo nek ndunyo wes tuwo” (Mas, kalau waktu terasa sangat cepat, hari terasa pendek, itu salah satu tanda kalau dunia sudah tua), ungkapnya sambil berkata lirih dan memandang langit.  “Menungso yo angel nyalurno zakat e sing pas. Wong mlarat soyo entek, mbayar zakat koyo mbayar pajek” (Manusia juga sulit menyalurkan zakatnya yang sesuai.  Orang miskin semakin sedikit. Membayar zakat, seperti membayar pajak), imbuhnya.

   

DORONG PETANI MASUKI DUNIA CYBER (MBAH SULUH EDISI 8)

Dunia benar-benar sudah mulai tua, itulah kesimpulanku saat ini. Betapa tidak, selain para ulama menyebutkan telah banyaknya berbagai tanda akan datangnya hari kiamat, juga memang banyak kita rasakan berbagai fenomena alam kita telah berubah dari hari ke hari. Rusaknya lingkungan telah akrap di sekitar kita bahkan sampai hal terkecil sekalipun.

Masih teringat di benakku betapa dulu tanah kita sejuk ketika menempel ditapak kaki. Sumber air terasa sangat mudah kita jumpai. Burung bangau sibuk berburu dengan koloninya. Tapi kini seolah suasana seperti itu tak ada lagi di muka bumi ini. Dalam benakku terus ngomel sendiri sambil ku pacu Win Hijau plat merah milikku. Milik kantorku maksudnya.

   

SISTEM TUNDA JUAL, ALTERNATIF SOLUSI TERJALNYA FLUKTUASI HARGA GABAH (MBAH SULUH EDISI 7)

Kali ini Kabupaten Jombang punya gawe besar dengan adanya PEDA (Pekan Daerah) KTNA Jatim 2013.  Setelah disibukkan masa persiapan beberapa bulan terakhir, kali ini saya sempatkan diri menyapa seluruh pembaca setia rubric Mbah Suluh.  Ketika kita menjumpai sesuatu, maka Tuhan pastinya akan melihat reaksi kita.  Apa yang kita fikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan akan dinilai Tuhan sebagai amalan kita.  Edisi ini saya akan bercerita tentang pengalaman dalam pendampingan peserta PEDA (Pekan Daerah) KTNA Jatim 2013.  PEDA, yang biasa disebut oleh petani-nelayan dimana mereka tergabung dalam  Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) adalah pertemuan antara pengurus/ anggota 4 tahunan. KTNA memiliki jaringan organisasi secara nasional yang mengakar hingga tingkat desa.  Organisasi ini sangat strategis mengingat para tokohnya memiliki kapasitas yang bisa dihandalkan dalam pembangunan pertanian di Indonesia umumnya.