ANDA BERADA DI: Depan Berita Dunia Usaha Kedelai Jombang untuk Tahu Pong Khas Jombang

Kedelai Jombang untuk Tahu Pong Khas Jombang

E-mail Cetak PDF

Kedelai, merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia.  Bagaimana tidak, berbagai olahan dari kedelai telah ada sejak dahulu kala.  Mulai dari tahu, tempe, keripik, hingga tepung dan minuman telah akrap dilingkungan kita.  Bahkan tahu dan tempe telah menjadi menu pokok bangi masyarakat yang murah, sehat dan bergizi tinggi.  Beberapa ahli menyamakan kandungan protein daging dengan tempe.  Selian harganya yang relatif murah, hal tersebut juga menjadikan olahan tempe semakin digemari masyarakat hingga ke luar negeri. Tidak kalah dengan daerah lain, Jombang juga memiliki olahan kedalai yang menjadi khas jajanan dan oleh-oleh.Sebut saja “Tahu Pong” yang memiliki citarasa unik dan menarik. Tekstur bagian dalamnya yang lembut berwarna putih menyerupai susu, membawa sebutan yang melekat pada produk ini dengan sebutan tahu susu.  Produsen tahu pong mulai bnyak di Kabupaten Jombang.  Berbagai merk telah bermunculan dan mulai merambah pemasaran didaerah lain.

 

Begitu banyak kebutuhan kedelai saat ini dan masa mendatang, menggugah Pemerintah untuk terus meningkatkan produksi dan produktifitasnya.  Hal ini dilakukan melalui berbagai upaya antara lain Sekolah Lapang, Demplot dll.  Saat ini telah banyak berkembang berbagai varietas kedelai di Jombang meskipun luasannya masih bersaing dengan komoditas lain.  Ketua Poktan Ceweng Imam Safi’i menyatakan panen kedelai di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, kali ini dilakukan di lahan miliknya dengan luas areal tanam sekitar 1 hektar dari luas tanam dan panen kedelai di Poktan Ceweng seluas 10 Ha. Kedelai yang ditanam di Poktan Ceweng ini adalah varietas Anjasmoro yang karakteristiknya memiliki biji besar, moderat karat daun, potensi produksi 3 ton / ha, dan rata-rata produksi 2,25 ton/ha.


Hasil ubinan panen kedelai di poktan ceweng sebesar 2,1 ton /ha. Sedangkan teknologi yang diterapkan di poktan ceweng meliputi : tanam awal mulai bulan Juli 2017 dengan system tanam tugal yang berjarak tanam 35x15 Cm. Pemupukan hanya pupuk Phonska 70 Kg/Ha yang diberikan bersamaan pada saat tanam. Pengairan dilakukan kurang lebih 4 kali (sesuai kondisi tanah) karena bila terlalu banyak air menghambat pertumbuhan tanaman.

Pengendalian OPT dilaksanakan dengan melihat kondisi hama/penyakit yang menyerang. Pelaksanaan panen tanaman kedelai dilaksanakan pada saat tanaman sudah berumur 90 HST (Hari Setelah Tanam) dengan melihat kondisi daun yang sudah menguning dan mulai rontok. Dengan kondisi tanaman yang sudah siap panen, panen dilakukan dengan cara manual yaitu potong pangkal batang (dicabut) kemudian dijemur sampai batang dan kulit polong kedelai kering setelah itu baru dilakukan perontokkan.

Menurut Harir, PPL setempat menjelaskan bahwa teknologi pertanian yang digunakan harus spesifikasi lokasi dan panen dilakukan bila sudah masak fisiologis. Panen terlalu awal mengakibatkan banyaknya biji muda yang akan menjadi butir keriput dalam kondisi kering dan kurang tahan jika disimpan. Sedangkan panen terlambat dapat menimbulkan kecambah, berjamur, busuk, dan berkutu serta kehilangan bji yang disebabkan polong pecah. Tanda-tanda tanaman bisa dipanen : 1). Daun telah menguning, 2). Polong telah mongering dan berwarna coklat, 3). Tanaman sudah matang yaitu ≥ 90%, 4). Kulit polong mudah dikupas. (Harir)

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh