ANDA BERADA DI: Depan Berita Dunia Usaha TENTANG TEMPE DULU DAN KINI

TENTANG TEMPE DULU DAN KINI

E-mail Cetak PDF

Ditulis dalam ensiklopedia Wikipedia, tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Mary Astuti menulis bahwa dalam pustaka Serat Sri Tanjung (sekitar abad XII dan XIII) yang bercerita mengenai Dewi Sri Tanjung, terselip kata kedelai yang ditulis sebagai kadele. Salah satu baitnya menggambarkan jenis tanaman yang mengandung kata kedelai, kacang wilis, dan kacang luhur.

Kata kedelai tidak hanya ditemui dalam Serat Sri tanjung, tetapi juga dalam karya sastra kuno Serat Centhini. Pada Serat Centhini, ditulis kata kedelai dan kata tempe. Salah satunya menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang dan mampir di Tembayat, Kabupaten Klaten. Di sana, Pangeran Bayat dijamu dengan lauk-pauk seadaanya, termasuk tempe.

Pada zaman Jawa kuno, terdapat makanan yang dibuat dari sagu, disebut tumpi (Zoetmulder, 1982). Oleh sebab tempe juga berwarna putih dan penampakannya mirip tumpi maka makanan olahan kedelai ini disebut tempe.

Sekilas, penemuan-penemuan tersebut sudah merupakan bukti yang cukup untuk memastikan bahwa tempe berasal dari Jawa. Tempe merupakan karya dan menjadi budaya orang Jawa. Penyebaran tempe saat ini sudah berkembang di seluruh tanah air dan tidak terlepas dari ciri-ciri dan budaya Jawa itu sendiri.

PERKEMBANGAN TEMPE SAAT INI

Masih dari wikipedia, Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham, tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan berpenghasilan relatif rendah.

Baru-baru ini, indsutri tempe di Indonesia terpukul dengan naiknya harga kedelai. Kedelai yang sebagian besar di import harganya naik disebabkan karena Amerika dan Brasil sebagai pengekspor kedelai terbesar mengalami kekeringan. Pasokan kedelai untuk industri tempe pun tersendat.

Termasuk pengrajin tempe di Jombang. Saat ini para produsen Jombang menyiasatinya dengan mencampurnya dengan singkong. “Ini karena konsumen tidak mau kalau ukurannya di perkecil atau harganya dinaikkan,” kata Hasan Pengrajin tempe di Bongkot Peterongan.

Meski rasanya berbeda tapi itu tetap harus ditempuh karena untuk mempertahankan usaha yang memang sudah digelutinya puluhan tahun. Hasan juga menceritakan, hampir semua pengrajin kedelai sudah tidak menggunakan lagi kedelai lokal. Disamping karena harganya yang mahal, juga karena prosesnya saat ini cenderung lebih sulit. “Kalau pakai kedelai lokal lebih cepat panas, jadinya bagian tengah keropos dan tidak bisa ngembang,”katanya.

Hasan mengakui, dulu orang tuanya memang hanya menggunakan kedelai lokal. “Mungkin waktu itu, orang-orangnya lebih telaten. Kalau dulu proses membuat tempe dibungkus ukuran kecil-kecil. Tapi sekarang dibuat ukuran yang lebih besar,” terang Hasan.

Apa yang disampaikan Hasan diamini Zainuri, rekannya sesama pengrajin tempe. “Sebenarnya kalau menggunakan kedelai lokal rasanya jauh lebih enak.  Cuma, garapane rodok angel,” terang Zainuri menegaskan kalau produksi tempe dengan kedelai lokal perlu ketelatenan tersendiri.

Tapi apapun yang terjadi, pembuatan tempe yang telah digeluti keluarga mereka sejak puluhan tahun akan tetap menjadi sandaran hidup mereka.  Akan tetapi ada beberapa pertanyaan. Apakah bisa dijamin pasokan kedelai untuk industri mereka. Terutama pasokan kedelai lokal sehingga cita rasa aseli tempe Indonesia tetap terjaga. Tentu dengan catatan, harga kedelai lokal bisa terjangkau pengrajin tempe sekaligus mengn cita untungkan bagi para petani. Kedua, bagaimana para peneliti teknologi pangan, perguruan tinggi dan balai-balai penelitian bisa menghasilkan teknologi pembuatan tempe dengan bahan lokal, prosesnya mudah, dengan cita rasa yang unggul. Ketiga, Sepertinya import masih jadi andalan untuk pasokan kedelai. Tentu, jangan sampai   mengurangi semangat para petani untuk menanam kedelai sekaligus tetap menjaga keberlanjutan industri tahu tempe.

Sepertinya sangat  tidak sederhana melibatkan banyak sekali komitmen banyak instansi pusat sampai daerah. Juga, ada hal-hal yang bersifat kontradiktif. Tapi inilah konsekuensi pilihan sistem ekonomi kita. Negara harus hadir untuk menjaga kesejahteraan rakyat. Atau, pilih opsi terakhir. Biarkan mekanisme pasar mengaturnya. Seperti kata Adam Smith, tangan-tangan tak terlihat yang akan membangun keseimbangan pasar. Dan, mekanisme keseimbangan yang mungkin terjadi sebagaimana resep Mbah Smith adalah akan banyak industri tahu-tempe gulung tikar.  Tahu dan tempe tidak lagi menjadi makanan murah alias naik menjadi makanan berkelas tinggi (baca :  mahal). Terlihat keren kan...?

(Sumber : Buletin Humus Edisi 26 Tahun 2012)

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh